Comscore Tracker

Greta Thunberg Tuding Pemimpin Dunia Tak Becus Atasi Perubahan Iklim

Remaja itu pun mendapat serangan dari tokoh konservatif

New York, IDN Times - Aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg, menjadi tajuk di berbagai media massa dan perbincangan di media sosial sejak Senin (23/9). Remaja berusia 16 tahun itu berlayar dari Eropa ke Amerika Serikat—sebagai bagian dari usaha mengurangi emisi karbon—untuk berbicara di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Aksi Iklim PBB.

Di hadapan para pemangku kepentingan yang hadir di markas PBB di New York, Greta tidak segan-segan menyebut bahwa para pemimpin dunia telah gagal dalam mengatasi perubahan iklim. Dalam pidatonya yang berapi-api, Greta menilai mereka lebih mementingkan keuntungan ekonomi daripada menyelamatkan masa depan generasi berikutnya.

1. Greta melihat para pemimpin dunia "belum dewasa"

Salah satu poin dalam pidato yang ia beri judul How Dare You tersebut adalah "pengkhianatan" oleh para pemimpin dunia kepada anak-anak muda. Ia menyebut mereka tidak becus dalam membuat dan memberlakukan komitmen kuat terhadap perubahan iklim yang sangat diperlukan hari ini.

Dengan raut wajah penuh kegeraman, Greta mengatakan kepada pemerintah di berbagai negara bahwa "kalian masih belum cukup dewasa untuk mengatakan yang sejujurnya". Ia melanjutkan,"Akan tetapi, anak-anak muda sekarang mulai mengerti pengkhianatan kalian."

2. "Kalian telah mencuri mimpi saya," ujar Greta

Greta Thunberg Tuding Pemimpin Dunia Tak Becus Atasi Perubahan IklimSeorang pria membawa poster mirip aktivis iklim Swedia Greta Thunberg saat warga berpartisipasi dalam aksi protes perubahan iklim "Fridays for Future" di Paris, Prancis pada 20 September 2019. ANTARA FOTO/REUTERS/Charles Platiau

Inisiator gerakan #FridaysForFuture--di mana pelajar absen dari sekolah untuk turun ke jalan guna menyuarakan perubahan iklim itu, menganggap pemerintah hanya bisa mengeluarkan "kata-kata kosong". Ia sendiri skeptis apakah dalam pertemuan di New York kali ini para pemimpin dunia akan mampu menghasilkan kebijakan radikal untuk mengatasi perubahan iklim.

"Kalian telah mencuri mimpi-mimpi dan masa kecil saya dengan kata-kata kosong. Tetapi, saya salah satu yang masih beruntung. Banyak orang menderita. Banyak orang sekarat. Keseluruhan ekosistem sedang hancur. Kita berada di permulaan dari kepunahan massal. Dan yang kalian bisa bicarakan adalah uang dan dongeng soal pertumbuhan ekonomi yang abadi. Berani-beraninya kalian!"

Baca Juga: #ClimateStrike: 10 Potret Protes Perubahan Iklim dari Berbagai Negara

3. Menurutnya, generasi muda tak akan memaafkan pemerintah saat ini jika gagal

Greta Thunberg Tuding Pemimpin Dunia Tak Becus Atasi Perubahan IklimGreta Thunberg saat memberikan pidatonya di acara Aksi Iklim di markas PBB di New York, Amerika Serikat, pada 23 September 2019. instagram.com/gretathunberg

Greta pun menyampaikan fakta bahwa selama lebih dari tiga dekade, para ilmuwan sudah mengingatkan tentang ancaman perubahan iklim. "Berani-beraninya kalian terus memalingkan muka, dan datang ke sini dengan berkata bahwa kalian telah cukup bertindak, ketika politik dan solusi yang dibutuhkan sama sekali belum terlihat," kata Greta, disambut tepuk tangan yang hadir.

"Kalian telah mengecewakan kami," ucapnya dalam penutupan. "Mata generasi masa depan menatap ke arah kalian. Dan jika kalian memilih untuk mengecewakan kami, saya katakan kami takkan pernah memaafkan kalian. Kami takkan biarkan kalian lolos," tegasnya.

"Di sini, saat ini juga, adalah di mana kami menetapkan batas. Dunia sedang bangkit. Dan perubahan segera datang tidak peduli kalian menyukainya atau tidak."

4. Kedatangan Trump di sesi Aksi Iklim disebut membuat Greta tidak suka

Sementara itu, kunjungan mendadak Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ke sesi iklim yang diisi oleh Greta pun menjadi pembicaraan. Ini terjadi, salah satunya, usai anggota Partai Demokrat, Julian Castro, mengunggah sebuah video ke media sosial yang memperlihat ekspresi dingin dan tidak suka di wajah Greta ketika melihat Trump masuk ruangan.

Amerika Serikat sendiri adalah satu dari empat negara yang tidak diizinkan berbicara dalam acara tersebut karena investasi besar-besaran mereka di industri energi fosil. Ketika ditanya oleh CNN mengapa Trump datang ke sesi itu, ia menjawab,"Saya sangat percaya pada air dan udara bersih, dan semua negara harus bekerja sama serta melakukannya, dan mereka harus melakukannya sendiri. Sangat, sangat penting."

5. Greta sendiri mendapat serangan dari pandit konservatif

Greta Thunberg Tuding Pemimpin Dunia Tak Becus Atasi Perubahan IklimAktivis Code Pink menghalangi lalu lintas di ibukota Amerika Serikat menuntut tindakan nyata oleh politisi Amerika Serikat untuk mengatasi perubahan iklim di Washington, Amerika Serikat, pada 23 September 2019. ANTARA FOTO/REUTERS/Kevin Lamarque

Semangat Greta dalam memberikan pidato dan melakukan berbagai aksi untuk meningkatkan kesadaran soal ancaman perubahan iklim sering mendapat olok-olok. Tidak terkecuali dari orang-orang konservatif, seperti pendukung Trump, yang menolak percaya bahwa planet Bumi sedang terancam.

Michael Knowles, komentator yang diundang Fox News untuk menganalisis apa yang terjadi di PBB, menyerang Greta dengan menyebutnya punya "sakit mental". Greta sendiri memiliki Asperger's syndrome. "Gerakan histeria iklim ini bukan soal ilmu pengetahuan," kata Knowles.

"Jika soal ilmu pengetahuan, ini akan dipimpin oleh ilmuwan, bukannya politisi dan seorang anak dari Swedia yang sakit mental yang dieksploitasi oleh orangtuanya dan kelompok sayap kiri internasional."

Fox News pun merilis pernyataan berisi permintaan maaf setelah tayangan itu mengudara dan dikecam banyak pihak. Stasiun televisi itu mengaku "tidak berencana" mengundang Knowles dan bahwa komentarnya itu "tercela".

Baca Juga: Greta Thunberg, Aktivis Muda Perubahan Iklim Raih Penghargaan 

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya