Comscore Tracker

Polisi Hong Kong Dilaporkan Tembak Demonstran di bagian Dada

Masih belum jelas bagaimana insiden bisa terjadi

Hong Kong, IDN Times - Seorang polisi Hong Kong dilaporkan telah menembak satu demonstran di bagian dada dalam aksi unjuk rasa pada Selasa (1/10). Setidaknya, ada dua video yang beredar di internet merekam insiden tersebut.

Salah satunya diunggah oleh kantor berita AFP di YouTube. Dalam video berdurasi 42 detik tersebut terlihat seorang pengunjuk rasa laki-laki tergeletak di pinggir jalan. Ia dikelilingi oleh beberapa polisi huru-hara dan paramedis yang memasangkan alat pemberi oksigen. Kaosnya sudah disobek dan terlihat ada darah pada tubuhnya.

1. Korban adalah satu dari sekelompok demonstran yang bentrok dengan polisi

https://www.youtube.com/embed/uTYfWfd7Yqc

AFP kemudian merilis berita yang menyebut insiden itu terjadi di kawasan Tsuen Wan, sebuah titik sentral dalam sejumlah demonstrasi. Berita yang dikutip oleh The Guardian itu menyebut korban adalah satu dari 12 pengunjuk rasa yang memakai penutup wajar. Mereka tengah bentrok dengan enam orang anggota polisi.

Beberapa demonstran membawa payung dan tongkat besi untuk memukul polisi. Seorang polisi kemudian tampak menendang korban dan menembakkan selongsong peluru dari jarak dekat ke dadanya. Suara tembakan itu pun membuat kepanikan.

Baca Juga: Tolak Peringati Hari Jadi Tiongkok, Hong Kong Kembali Rusuh

2. Seorang jurnalis mendapat tembakan proyektil di bagian kepala

Polisi Hong Kong Dilaporkan Tembak Demonstran di bagian DadaPolisi bertikai dengan demonstran pro-Tiongkok saat pengunjuk rasa anti pemerintah beraksi di distrik Wan Chai, Hong Kong, pada 1 Oktober 2019. ANTARA FOTO/REUTERS/Susana Vera

Hingga sore hari, unjuk rasa belum juga berhenti. Insiden demi insiden pun dilaporkan terjadi. Stasiun radio publik, Radio Television Hong Kong atau RTHK, bahkan menarik seluruh reporter mereka dari lapangan. Ini karena salah satunya mendapat tembakan proyektil di bagian kepala ketika meliput.

Dalam pernyataan resminya, RTHK menyatakan reporter laki-laki itu menderita luka di atas mata bagian kanan. Ia pun sudah dibawa ke rumah sakit. Si reporter mengaku tidak tahu apa yang menghantamnya ketika insiden tersebut terjadi.

RTHK juga menginformasikan ada seorang wartawan perempuan dari media lain yang mendapat intimidasi dari aparat. Ketika meliput situasi di sebuah stasiun, ia mengaku ada seorang polisi huru-hara yang mengacungkan senjata api tepat di hadapannya.

"Dengan para jurnalis dari media-media lain juga disemprot menggunakan cairan korosif saat meliput bentrokan, unit Berita Bahasa Inggris dan Peristiwa Terkini di RTHK memutuskan situasi tak lagi aman bagi para reporter kami untuk berada di jalan selama protes Hari Nasional berlangsung," tulis RTHK.

"Reportase selanjutnya pada hari ini akan dikerjakan dari ruang redaksi."

3. Hong Kong menolak peringati hari jadi Tiongkok

Polisi Hong Kong Dilaporkan Tembak Demonstran di bagian DadaAnggota milisi dan prajurit Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) berbaris dalam formasi melewati Lapangan Tiananmen saat latihan sebelum parade militer memperingati 70 tahun berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1 Oktober 2019. ANTARA FOTO/REUTERS/Jason Lee

Tanggal 1 Oktober sendiri diperingati sebagai hari jadi Republik Rakyat Tiongkok. Pada tahun ini adalah peringatan ke-70. Di Beijing, pemerintah komunis melangsungkan parade militer. Sementara itu, warga Hong Kong menolak untuk ikut merayakannya. Penolakan ini salah satunya disampaikan aktivis pro-demokrasi Joshua Wong melalui Twitter.

"TIDAK ADA PERAYAAN. HANYA DEMONSTRASI," tulisnya melalui Twitter. "Partai Komunis memecah-belah Hong Kong. Jika kita runtuh, siapa yang berikutnya?" "Meski Hong Kong dijanjikan pemerintahan sendiri, secara de facto Beijing yang menjalankan kota ini," tambahnya.

Wong, salah satu tokoh demonstrasi yang populer, menilai Partai Komunis telah "sejak lama menginfiltrasi sektor politik dan bisnis Hong Kong". Menurutnya, ini "membahayakan otonomi, merongrong institusi dan mengikis kebebasan" Hong Kong. "Hong Kong tidak lebih dari sekadar boneka yang menurut kepada Beijing," tegasnya.

4. Demonstran menyobek spanduk peringatan hari jadi Tiongkok

Polisi Hong Kong Dilaporkan Tembak Demonstran di bagian DadaPoster yang menampilkan wajah Xi Jinping dalam nuansa penuh cemoohan menempel di salah satu titik di area Causeway Bay, Hong Kong, pada 30 September 2019. ANTARA FOTO/REUTERS/Athit Perawongmetha

Sementara itu, menurut laporan The Guardian, tidak sedikit massa yang menurunkan dan menyobek spanduk peringatan hari jadi Tiongkok. Bahkan, mereka juga membakarnya. Beberapa melemparkan uang sebagai sebagai simbol uang duka yang secara tradisi diberikan ketika pemakaman berlangsung.

Muncul juga laporan bahwa saat ini polisi sedang menembakkan water cannon yang dicampur dengan cat berwarna hijau ke arah demonstran yang berada di sekitar gedung pemerintah. Akun media milik pemerintah Tiongkok, Global Times, mengunggah video tersebut di media sosial dan menyebut ini ditujukan untuk "membubarkan para radikal".

5. Seorang wartawan asal Indonesia juga sempat jadi korban polisi

Polisi Hong Kong Dilaporkan Tembak Demonstran di bagian DadaPengunjuk rasa anti pemerintah membawa tulisan di depan lokasi dialog masyarakt pertama diadakan oleh Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam di Hong Kong pada 26 September 2019. ANTARA FOTO/REUTERS/Jorge Silva

Pada demonstrasi Minggu (29/9), wartawan Indonesia bernama Veby Mega Indah menjadi sasaran peluru karet polisi Hong Kong. Padahal, wartawan 39 tahun yang bekerja untuk Suara Hong Kong News tersebut sudah memakai perlengkapan meliput sesuai standar seperti rompi dan helm dengan tulisan "PERS". Ia terluka di bagian mata sebelah kanan.

Dalam wawancara eksklusif dengan South China Morning Post, Veby yang menjabat sebagai associate editor tersebut menjelaskan situasinya saat insiden terjadi. "Saya sudah memakai sebuah helm dan sepasang googles," tuturnya.

Saya sedang berdiri bersama wartawan-wartawan lainnya. Saya dengan seorang jurnalis berteriak 'Jangan tembak, kami wartawan'. Tapi polisi tetap menembak," tuturnya. Usai insiden, Konsulat Jenderal RI di Hong Kong menuntut harus ada investigasi terkait insiden yang menimpa Veby.

Baca Juga: Dianggap Tak Aman, Media Hong Kong Tarik Semua Reporter dari Lapangan

Topic:

  • Rosa Folia
  • Anata Siregar

Just For You