tampilan Telegram (unsplash.com/Christian Wiediger)
FSB menjerat Durov menggunakan Pasal 205.1 Ayat 1.1 KUHP Rusia terkait keterlibatan membantu aktivitas terorisme. Pihak berwenang menuduh manajemen Telegram membiarkan saluran, grup percakapan, dan bot yang digunakan oleh dinas intelijen Ukraina serta organisasi ekstremis.
Menurut keterangan FSB, platform tersebut dipakai untuk merencanakan aksi sabotase, pembunuhan massal, hingga kejahatan siber di wilayah Rusia. Pihak intelijen Rusia mengklaim aktivitas ilegal ini telah memakan banyak korban jiwa, termasuk wanita dan anak-anak, serta menimbulkan kerugian material bernilai miliaran dolar AS.
FSB juga membeberkan temuan penggunaan bot obrolan kencan di Telegram oleh intelijen Ukraina untuk merekrut warga Rusia. Sejak Juli 2025, sebanyak 46 pengguna bot berusia 12 hingga 22 tahun telah ditangkap di berbagai wilayah Rusia atas tuduhan penyerangan aparat dan pembakaran fasilitas. Durov berisiko menghadapi hukuman hingga 15 tahun penjara atau seumur hidup.
"Pimpinan administrasi Telegram, Pavel Durov, telah didakwa sebagai bagian dari penyelidikan pidana terkait bantuan aktivitas terorisme,” kata pihak FSB dalam pernyataan resminya, dilansir Anadolu Agency.