Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ukraina Berencana Batasi Telegram usai Serangan Teroris di Lviv

Ukraina Berencana Batasi Telegram usai Serangan Teroris di Lviv
ilustrasi Telegram (unsplash.com/christianw)
Intinya Sih
  • Pemerintah Ukraina berencana membatasi penggunaan Telegram selama perang, menyusul serangan teroris di Lviv yang menyoroti risiko keamanan dari aktivitas di platform tersebut.
  • Presiden Volodymyr Zelenskyy menuduh Rusia sebagai dalang serangan teroris di Lviv dan memperingatkan potensi aksi serupa di masa depan.
  • Serangan di Lviv menewaskan seorang polisi dan melukai puluhan orang, dengan investigasi awal menunjukkan pelaku direkrut melalui Telegram.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Wakil Kepala Kantor Kepresidenan Ukraina, Iryna Vereshchuk, pada Senin (23/2/2026), mengungkapkan rencana pembatasan aplikasi Telegram selama berlangsungnya perang. Rencana ini disampaikan menanggapi serangan teroris di Lviv. 

“Serangan teroris di Lviv sekali lagi menunjukkan bahwa masalah utamanya adalah bagaimana Telegram beroperasi di dalam ruang informasi di Ukraina,” terangnya, dikutip dari RBC Ukraine.

Sebelumnya, Ukraina sudah bekerja sama dengan SpaceX untuk menonaktifkan Starlink ilegal. Langkah ini setelah adanya bukti bahwa tentara Rusia menggunakan Starlink untuk mengarahkan drone agar mencapai sasaran. 

1. Tuding Rusia menggunakan Telegram untuk merekrut pelaku

Vereshchuk mengatakan bahwa Rusia secara sistematis menggunakan Telegram untuk merekrut pelaku. Selain itu, Moskow juga disebut mengoordinasikan aksinya dan mengorganisir serangan teroris lewat Telegram. 

Menurutnya, fungsi Telegram dan sejumlah platform media sosial yang tidak dikenal lainnya harus dibatasi. Apabila restriksi diberlakukan kepada Telegram, maka akan dapat melindungi banyak nyawa dan keamanan nasional di Ukraina. 

Tak hanya disalahkan di Ukraina, Rusia juga menuding Telegram digunakan Ukraina untuk mengambil informasi militer. Alhasil, Rusia berencana memblokir Telegram dan menggantikannya dengan aplikasi pesan milik pemerintah, Max. 

2. Zelenskyy sebut serangan teroris di Lviv dilakukan oleh Rusia

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy menyebut bahwa serangan teroris di Lviv diorganisir oleh Rusia. Ia mengaku mendapatkan informasi Rusia akan melancarkan aksi terorisme serupa di masa yang akan datang. 

“Apa yang terjadi di Lviv adalah sebuah serangan teroris yang disengaja dan brutal. Ini sangat sulit memasukkannya dalam bentuk serangan lain,” ungkap Zelenskyy, dilansir dari Ukrainska Pravda.

Otoritas Ukraina masih menyelidiki lebih lanjut motif di balik serangan teroris di Lviv ini. Namun, fakta yang sudah ditemukan adalah pelaku direkrut melalui Telegram. 

3. Serangan teroris sebabkan 1 orang tewas dan puluhan luka-luka

Serangan teroris di Lviv telah mengakibatkan seorang polisi bernama Viktoria Shpylka tewas. Selain itu, setidaknya ada 25 orang yang terluka dalam peristiwa tersebut dan 12 di antaranya masih dirawat di rumah sakit, serta 3 orang dikabarkan dalam kondisi kritis. 

Dilansir RFE/RL, peristiwa ledakan ini terjadi ketika sebuah unit mobil patroli polisi tiba di lokasi kejadian. Usai ledakan pertama diikuti oleh ledakan kedua ketika unit mobil patroli polisi kedua tiba. Investigasi awal menunjukkan ledakan terjadi akibat alat peledak. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More