Pengamat Sebut Pernyataan Prabowo ke Pakar sebagai Anti-sains

- PVRI menilai pernyataan Prabowo Subianto tentang pakar menunjukkan sikap anti-pengetahuan.
- Muhammad Naziful Haq menekankan data, fakta, dan kajian ilmiah diperlukan dalam menentukan kebijakan negara.
- PVRI menilai kemauan mendengar dan sikap ilmiah merupakan kompetensi dasar dalam demokrasi.
Jakarta, IDN Times - Public Virtue Research Institute (PVRI) menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut pakar “saking pintarnya jadi goblok” menunjukkan sikap anti-pengetahuan. Kritik itu disampaikan Direktur Eksekutif PVRI, Muhammad Naziful Haq, setelah pernyataan Prabowo dalam HUT ke-28 PAN di Jakarta, Jumat, 18 September 2026.
“Pernyataan yang bersifat umpatan itu bukan kali pertama dilontarkan Presiden secara terbuka. Itu menandai sikap anti-pengetahuan,” kata Nazif, dikutip Sabtu (19/9/2026).
1. PVRI soroti sikap ilmiah

Presiden Prabowo Subianto mencoba menggunakan moda LRT Jakarta dari Kelapa Gading-Manggarai, pada Rabu (16/9/2026). (IDN Times/Ilman Nafi'an) Nazif menilai sikap ilmiah penting dalam menentukan kebijakan negara, karena kemakmuran rakyat perlu ditelaah melalui data, fakta, dan kajian. Dia juga mengkritik sikap yang mengabaikan peran pakar dalam penyusunan kebijakan.
“Dia tidak peduli dengan pakar dan hanya ingin rakyat tidak lapar. Padahal kemakmuran rakyat perlu ditelaah melalui data, fakta, dan kajian ilmiah. Di situlah fungsi sains dan pakar," kata dia.
2. Demokrasi dinilai butuh pengetahuan

Presiden Prabowo Subianto menghadiri HUT Ke-25 Partai Demokrat. (Youtube.com/Partai Demokrat) Menurut Nazif, pernyataan Prabowo tersebut membuat pemimpin kehilangan dua kompetensi dasar dalam demokrasi, yakni mau mendengar dan memiliki sikap ilmiah. Dia menyebut keduanya diperlukan saat menentukan prioritas dan target kebijakan.
“Pernyataan itu membuat seorang pemimpin kehilangan dua kompetensi dasar dalam berdemokrasi, yaitu mau mendengar dan punya sikap ilmiah," katanya.
Nazif menyebut krisis sikap ilmiah dalam pemerintahan dapat memunculkan persoalan dan biaya baru.
3. PVRI soroti dampak terhadap citra Indonesia

Presiden Prabowo Subianto ketika bertemu Presiden Vladimir Putin di Vladivostok, Rusia pada September 2026. (Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden) Sementara, Peneliti PVRI Alva Maldini menilai perlakuan terhadap ilmuwan dan masyarakat sipil ikut memengaruhi citra Indonesia.
“Citra suatu negara tergantung pada bagaimana seorang pemimpin menampilkan diri di depan publik," katanya.
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal pakar disampaikan saat menghadiri peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat, 18 September 2026.
Dalam pidatonya, Prabowo berbicara mengenai keinginannya melihat Indonesia sejahtera, termasuk tidak adanya rakyat yang kelaparan, serta anak-anak yang mengalami stunting dan kekurangan gizi.
Selain itu, dia menyinggung sejumlah pakar yang menurutnya menyampaikan kritik berupa fitnah. Dia juga menyebut seorang cendekiawan harus memiliki kejujuran intelektual ketika menggunakan kepakarannya.
“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya jadi goblok," kata Prabowo.
















