Comscore Tracker

Kematian akibat COVID Tembus 200 Ribu, Trump Malah Klaim Keberhasilan

"Kalau bukan karena kami, yang meninggal bisa 3 juta orang"

Jakarta, IDN Times - Angka kematian akibat COVID-19 di Amerika Serikat per Selasa, 22 September 2020 resmi menembus 200 ribu. Berdasarkan data yang dikutip dari World O Meter, angka kematian di Negeri Paman Sam mencapai 205.471.

Angka ini mungkin tidak terbayangkan bisa terjadi di negara seperti Amerika Serikat. Apalagi di sana memiliki sumber daya yang tidak terbatas di bidang kesehatan mulai dari laboratorium yang modern, ahli epidemiologi dengan rekam jejak baik, pasokan obat serta peralatan medis. 

"Kami juga tidak menduga kita bisa mencapai titik ini," ungkap peneliti di bidang kesehatan publik dari John Hopkins University, Jennifer Nuzzo dan dikutip stasiun berita Al Jazeera hari ini. 

Meski angka yang dilaporkan sudah membuat publik bergidik, namun Nuzzo yakin situasi di lapangan jauh lebih buruk dari laporan tersebut. Apalagi saat di awal pandemik COVID-19, jumlah test dan pelacakan belum semasif kini. 

Bila angka kematian akibat COVID-19 disandingkan dengan jumlah korban dari teror terbesar yang dialami oleh AS yakni 11 September 2001, maka COVID-19 bisa disebut teror yang lebih mengerikan. 200 ribu orang yang meninggal sama dengan korban teror di gedung World Trade Centre itu dan berlangsung selama 67 hari. 200 ribu juga menggambarkan jumlah populasi di Kota Salt Lake, Alabama. 

Angka kematian ini diprediksi akan terus naik. Apa yang keliru dalam penanganan pandemik COVID-19 di AS sehingga menyebabkannya tidak turun dari negara dengan kematian tertinggi di dunia?

1. Universitas Washington memprediksi akan ada 400 ribu orang yang meninggal di AS pada akhir tahun 2020

Kematian akibat COVID Tembus 200 Ribu, Trump Malah Klaim KeberhasilanSuasana di Oceanside, California, Amerika Serikat, pada 22 Juni 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Mike Blake

Tingginya kematian akibat COVID-19 di Negeri Paman Sam turut membuat ahli infeksi penyakit menular kenamaan Dr. Anthony Fauci menggelengkan kepalanya. Ia menilai 200 ribu orang yang meninggal akibat COVID-19 di satu sisi merupakan berita yang sangat menyedihkan. 

"Tetapi, saya juga terkesima dengan pencapaian itu," tutur Fauci menyindir pemerintahan Presiden Donald Trump dalam menangani pandemik ketika berbicara di CNN

Rata-rata angka kematian di AS akibat COVID-19 per harinya mencapai 770 jiwa. Bila menggunakan pemodelan yang dirilis oleh Universitas Washington, maka hingga akhir tahun nanti, akan ada 400 ribu orang yang meninggal akibat tertular virus Sars-CoV-2.

Kondisi itu semakin parah karena sekolah dan kampus mulai tahun ajaran baru. Sedangkan, vaksin yang diharapkan menjadi game changer baru tersedia pada tahun 2021. 

Baca Juga: CDC Amerika Serikat: Pakai Masker Lebih Efektif daripada Vaksin COVID

2. Presiden Trump malah menyebut bila timnya tidak bekerja keras, angka kematian COVID-19 bisa mencapai 3 juta orang

Kematian akibat COVID Tembus 200 Ribu, Trump Malah Klaim Keberhasilan(Presiden Donald Trump akhirnya kenakan masker) ANTARA FOTO/REUTERS/Tasos Katopodis

Sementara, ketika dimintai komentarnya, Trump justru berupaya mencari pembenaran atas fakta yang menyeramkan itu. Ia beralasan bila pemerintahannya tidak bekerja keras, maka jumlah warga AS yang meninggal bisa lebih dari 200 ribu. 

"Kalau kami tidak melakukan pekerjaan kami dengan baik, bisa saja (yang meninggal) mencapai tiga (juta), 1,5 (juta), 2,5 (juta) mungkin juga 3 juta orang," ungkap Trump pada Selasa kemarin dan dikutip kantor berita Associated Press.  

Padahal, Trump tidak sadar prediksinya itu bisa saja menjadi kenyataan bila kebijakannya menangani pandemik COVID-19 tidak segera direvisi. Alih-alih membuat terobosan, Trump kerap memuji pemerintahannya sendiri dalam menangani pandemik. 

Pujian Trump terhadap pemerintahannya sendiri diduga karena pemilu yang akan digelar pada 3 November mendatang. Artinya, itu tersisa enam pekan lagi. Sedangkan, di beberapa negara bagian pemungutan suara sudah berjalan. 

Tetapi, berdasarkan survei yang dilakukan oleh AP bersama NORC Public Centre for Public Affairs Research, sebanyak 39 persen warga AS setuju dengan cara Trump menghadapi pandemik. Padahal, seperempat anggota partai Republik mengaku tak sepakat dengan cara Trump. 

Apalagi di awal pandemik pada Februari lalu, Trump sempat mengatakan kasus COVID-19 segera mereda dalam beberapa hari. Nyatanya kasus malah terus meroket. Saat para ahli pada awal April lalu memprediksi angka kematian di AS bisa mencapai 100 ribu akibat COVID-19, Trump malah memperkirakan sebaliknya. "Saya pikir kita bisa lebih dari itu, angka (kematian) bisa lebih rendah," tutur dia lagi. 

3. Trump menyalahkan Tiongkok sebagai sumber wabah COVID-19

Kematian akibat COVID Tembus 200 Ribu, Trump Malah Klaim KeberhasilanTrump menjabat tangan Xi Jinping pada pertemuan tahunan G20 di Osaka, Jepang tahun 2019. Foto oleh Deutsche Presse Agentur.

Sementara, ketika berbicara di forum sidang umum PBB pada Selasa kemarin, Trump kembali menyalahkan Tiongkok sebagai biang kerok dari tersebarnya wabah COVID-19. Bahkan, ia mengajak dunia internasional agar Tiongkok mau bertanggung jawab. 

"Kita harus meminta negara yang menyebarkan wabah ini ke dunia agar bertanggung jawab. Negara itu adalah Tiongkok," ungkap Trump melalui video yang sudah direkam sebelumnya. 

Baru kali pertama dalam sejarah, Sidang Umum ke-75 PBB digelar secara virtual karena situasi pandemik yang terus memburuk.  Trump mengatakan pemerintah Tiongkok dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah keliru menyampaikan ke publik bahwa COVID-19 semula tidak bisa menular antarmanusia. 

"Di lain waktu, mereka juga menyebut orang yang tidak memiliki gejala tidak akan menyebarkan penyakit itu. PBB harus meminta Tiongkok agar bertanggung jawab untuk semua perbuatannya," kata Trump lagi. 

Baca Juga: Trump Perintahkan agar Vaksin COVID-19 Dibagikan 2 Hari Jelang Pemilu

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya