Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Selat Hormuz Penting untuk Amerika bahkan Dunia? Ini Faktanya!
selat Hormuz (Goran_tek-en, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

  • Selat Hormuz adalah jalur utama bagi kapal pengangkut minyak dunia.

  • Penutupan Hormuz dapat memicu reaksi keras dari negara besar seperti China dan AS.

  • Gagasan menutup Hormuz telah menjadi alat retorika tetapi tidak mungkin dilakukan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran dalam operasi tempur besar-besaran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan ini direspons Iran dengan serangan balasan, tak hanya menargetkan Israel tapi juga berbagai negara di Timur Tengah yang terdapat markas besar militer AS.

Eskalasi konflik antara AS-Israel dan Iran memang kian meruncing dalam beberapa pekan terakhir. Hubungan AS dengan musuh bebuyutannya itu kian memanas salah satunya sejak Iran berencana menutup Selat Hormuz.

Selat Hormuz sendiri adalah satu-satunya pintu masuk laut ke Teluk Persia, yang membelah Iran di satu sisi dan Oman serta Uni Emirat Arab di sisi lainnya.

Lalu mengapa Selat Hormuz penting untuk Amerika hingga Dunia? Selat Hormuz milik siapa? Simak baik-baik fakta selengkapnya di sini!

1. AS respons keras rencana Iran tutup Selat Hormuz pada 2025

ilustrasi Selat Hormuz (pexels.com/Lara Jameson)

Parlemen Iran dilaporkan menyetujui penutupan jalur pelayaran utama selat Hormuz pada 23 Juni 2025. Namun, Dewan Keamanan Nasional tertinggi Iran belum membuat keputusan akhir tentang tindakan Selat Hormuz akan ditutup Iran atau tidak.

Sampai sekarang belum ada pengumuman dari otoritas maritim internasional atau negara terkait bahwa Selat Hormuz ditutup sepenuhnya sebagai jalur pelayaran internasional. Jika Selat Hormuz jadi ditutup, perdagangan global dapat terhambat.

Amerika Serikat gusar merespons rencana Iran tersebut. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio meminta China mendorong Iran agar tidak menutup Selat Hormuz. Padahal, keputusan Selat Hormuz ditutup Iran diambil usai Amerika melakukan serangan terhadap situs nuklir Iran. Komentar Amerika minta bantuan China muncul setelah Press TV Iran melaporkan bahwa parlemen Iran menyetujui tindakan menutup Selat Hormuz.

"Saya mendorong pemerintah China di Beijing untuk menghubungi mereka tentang hal itu, karena mereka sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk minyak mereka," kata Rubio, yang juga menjabat sebagai penasihat keamanan nasional, dikutip dari Economic Times, Senin (23/6/2025).

Kedutaan Besar China di Washington tidak segera memberikan komentar. Sementara itu, China yang merupakan pelanggan utama Iran untuk ekspor minyaknya, kemungkinan besar akan sangat menolak setiap upaya Iran untuk mengganggu jalur pelayaran minyak.

2. Apa itu Selat Hormuz?

Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Selat Hormuz adalah jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan selanjutnya ke Laut Arab. Selat ini menjadi salah satu rute terpenting bagi pasokan minyak dan gas dunia. Sekitar 20–25 persen total perdagangan minyak mentah global melewatinya setiap hari.

Selat yang memiliki peran vital ini terletak di antara Iran di sisi utara dan Oman di sisi selatan. Sekitar seperlima pasokan minyak mentah global serta sebagian besar ekspor gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Qatar melewati selat ini setiap hari. Karena lebarnya relatif sempit—sekitar 33 km di titik tersempit—lalu lintas kapal sangat terkonsentrasi dan rentan terhadap gangguan.

3. Selat Hormuz milik siapa?

Kapal Perang AS melintas di Selat Hormuz. (commons.wikimedia.org/Petty Officer 2nd Class Matthew Riggs/U.S. Navy)

Timbul sebuah pertanyaan di publik Selat Hormuz milik siapa? Selat Hormuz merupakan jalur utama bagi kapal pengangkut minyak dunia. Di wilayah ini, negara-negara penghasil minyak di Semenanjung Arab berada, seperti Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab.

Lantas kenapa Selat Hormuz penting untuk Amerika? Menurut Badan Informasi Energi AS, sekitar 20 persen konsumsi minyak global mengalir melalui selat tersebut. Badan tersebut bahkan menyebut Selat Hormuz sebagai titik sempit transit minyak terpenting di dunia.

Dengan Iran tutup Selat Hormuz, maka pasokan minyak global akan terganggu. Selat Hormuz yang menjadi penghubung negara penghasil minyak sebanyak 20 juta barel perhari akan membuat harga minyak melonjak tajam di seluruh dunia.

”Bahkan negara-negara yang tidak mengimpor minyak dari negara-negara Teluk akan terpengaruh jika selat itu ditutup karena penurunan pasokan yang besar akan menaikkan harga per barel di pasar global,” lapor Al Jazeera.

4. Mengapa Selat Hormuz penting untuk dunia?

Selat Hormuz (IRAN)

Dilansir dari CNBC, beberapa pengamat meyakini bahwa Iran tak akan berani menutup jalur pelayaran tersebut, bahkan mustahil untuk dilakukannya.

“Tidak ada keuntungan bersih yang diperoleh dengan menghalangi jalur minyak melalui Selat Hormuz, terutama mengingat infrastruktur minyak Iran tidak menjadi sasaran langsung,” kata Ellen Wald, Presiden Transversal Consulting.

Wald juga memperingatkan bahwa lonjakan besar harga minyak yang disebabkan oleh penutupan dapat memicu reaksi keras dari pelanggan minyak terbesar Iran, yakni China.

“China tidak ingin aliran minyak dari Teluk Persia terganggu dengan cara apa pun, dan China tidak ingin harga minyak naik. Jadi, mereka akan mengerahkan seluruh kekuatan ekonomi mereka untuk menyerang Iran,” jelasnya.

Penutupan Selat Hormuz berisiko untuk mendapatkan respons keras dari AS karena mempengaruhi kenaikan harga minyak. Namun, China diyakini akan lebih reaktif atas keputusan itu.

China adalah importir minyak Iran nomor satu, yang dilaporkan menyumbang lebih dari tiga perempat ekspor minyaknya. Ekonomi terbesar kedua di dunia ini juga merupakan mitra dagang terbesar Iran.

“Teman-teman mereka akan lebih menderita daripada musuh-musuh mereka. Jadi sangat sulit untuk melihat hal itu terjadi,” kata Anas Alhajji, mitra pengelola di Energy Outlook Advisors.

5. Retorika berulang dari Teheran

Ilustrasi bendera Iran. (unsplash.com/sina drakhshani)

Gagasan menutup Hormuz telah menjadi alat retorika yang berulang tetapi tidak pernah ditindaklanjuti. Para analis mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin. Serangan terhadap jalur pelayaran telah lama digunakan untuk memberikan tekanan di tengah konflik. Sejak pecahnya perang di Gaza, Houthi di Yaman telah menyerang kapal-kapal di sekitar Selat Bab al-Mandeb, pintu masuk ke Laut Merah di sisi lain Jazirah Arab.

“Mari bersikap realistis tentang Selat Hormuz. Pertama-tama, sebagian besarnya berada di Oman, bukan di Iran. Kedua, Selat Hormuz cukup lebar sehingga Iran tidak bisa menutupnya,” kata Alhajji.

Senada dengan itu, Wald mencatat bahwa meskipun banyak kapal melewati perairan Iran, kapal masih dapat melintasi rute alternatif melalui Uni Emirat Arab dan Oman.

“Setiap blokade Selat Hormuz akan menjadi pilihan ‘upaya terakhir’ bagi Iran dan kemungkinan bergantung pada keterlibatan militer antara AS dan Iran,” kata Vivek Dhar, direktur penelitian komoditas energi dan pertambangan di Commonwealth Bank of Australia.

Israel melancarkan gelombang serangan udara terhadap Iran pada Jumat pagi waktu setempat, mengklaim serangan itu ditujukan pada fasilitas yang terkait dengan program nuklir Teheran. Serangan itu mendapat tanggapan dari Iran dengan diluncurkannya ratusan rudal sejak Jumat malam.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team