Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Serangan Kapal di Selat Hormuz Capai Rekor Tertinggi sejak Perang Iran
kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Sedikitnya 10 kapal komersial diserang di sekitar Selat Hormuz sejak 11 Oktober, menjadikan total Oktober 23 insiden, hampir dua kali rata-rata bulanan selama perang.
  • Kapal kontainer Singapura GFS Pride tenggelam setelah terkena proyektil, namun 21 awak dievakuasi tanpa luka; GFS Giselle rusak tetapi berlabuh selamat bersama 22 awak.
  • Analis Vanguard mengaitkan lonjakan serangan dengan pulihnya ekspor energi Teluk, setelah gencatan senjata runtuh dan Iran kembali menargetkan pelayaran sejak Juli.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Serangan terhadap kapal komersial di sekitar Selat Hormuz mencapai rekor tertinggi sejak perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran pecah pada akhir Februari 2026. Data firma keamanan Vanguard, Organisasi Maritim Internasional (IMO), dan Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) pada Rabu (14/10/2026) mencatat sedikitnya 10 kapal diserang di jalur tersebut sejak Minggu (11/10/2026).

Enam kapal menjadi sasaran serangan pada Minggu, disusul empat kapal lainnya pada Selasa. Jumlah serangan pada hari Minggu menjadi angka harian tertinggi sejak konflik dimulai. Sepanjang Oktober 2026, tercatat sudah ada 23 serangan atau hampir dua kali lipat dari rata-rata insiden bulanan selama perang berlangsung.

1. Insiden terbaru menimpa kapal berbendera Singapura

ilustrasi kapal kargo (unsplash.com/Ian Taylor)

Rangkaian serangan terbaru ini menyebabkan sebuah kapal kontainer berbendera Singapura, GFS Pride, tenggelam setelah dihantam proyektil pada Selasa. Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura menyatakan seluruh 21 awak kapal berhasil dievakuasi tanpa luka setelah serangan itu memicu kebakaran. Kapal ini tenggelam sekitar 7,4 kilometer di barat laut Ras al-Sheikh Masud, Semenanjung Musandam, Oman.

Kapal berbendera Singapura lainnya, GFS Giselle, juga mengalami kerusakan lambung akibat hantaman proyektil pada Rabu, tetapi berhasil berlabuh dengan selamat bersama 22 awaknya. Sehari sebelumnya, dua kapal kontainer lain turut terkena proyektil dengan kerusakan ringan dan tetap melanjutkan pelayaran. Selain itu, kapal curah berbendera Antigua dan Barbuda, Cape Dao, dilaporkan tenggelam pada Rabu usai upaya penyelamatannya gagal.

Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim kapal kontainer yang tenggelam tersebut menabrak ranjau laut karena melintasi jalur tanpa izin. Sejak perang pecah, IMO mencatat sedikitnya 24 pelaut tewas dalam 106 insiden terkonfirmasi di kawasan Selat Hormuz, sementara dua pelaut lainnya dilaporkan hilang dalam serangan terbaru.

2. Pemulihan ekspor minyak dan faktor politik AS picu lonjakan serangan

ilustrasi kapal tanker (unsplash.com/Marcus Dall Col)

Analis firma keamanan Vanguard, Barun Gupta, menilai peningkatan serangan ini dipicu oleh pulihnya ekspor energi dari kawasan Teluk pada awal Oktober. Sebelum kembali turun akibat serangan terbaru, volume pengiriman minyak yang dikawal militer AS di jalur tersebut sempat mendekati angka normal sebelum perang, yakni rata-rata 16 juta barel per hari.

"Aliran minyak Teluk mulai pulih, dengan lalu lintas melalui Hormuz baru-baru ini kembali ke sekitar 80 persen dari tingkat sebelum perang meskipun ada konflik. Meningkatkan tempo serangan memberi Teheran cara untuk menunjukkan bahwa mereka masih dapat mengganggu pemulihan itu dan membebankan biaya pada pelayaran komersial serta pasar energi global," kata Gupta, dilansir The Straits Times.

Faktor politik di Washington juga dinilai memengaruhi agresivitas Teheran di perairan strategis yang menyalurkan seperlima pasokan minyak dan gas dunia tersebut. Janji Presiden AS, Donald Trump, pada pekan lalu untuk tidak melancarkan serangan tambahan ke Iran sebelum pemilihan paruh waktu AS memberikan celah bagi Teheran. Kondisi ini dimanfaatkan Iran untuk meningkatkan tekanan maritim dengan risiko balasan militer yang lebih rendah dari AS.

3. Ketegangan meningkat sejak gencatan senjata runtuh

kapal AS membersihkan ranjau di Selat Hormuz (NAVCENT Public Affairs, Public domain, via Wikimedia Commons)

Penargetan kapal dagang oleh Iran pertama kali dimulai pada Maret 2026 sebagai balasan atas serangan AS dan Israel ke wilayahnya. Kedua belah pihak sempat menyepakati gencatan senjata pada April dan menandatangani nota kesepahaman pada Juni untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, kesepakatan itu runtuh dalam hitungan minggu setelah perundingan macet, yang memicu Iran melanjutkan serangan dan AS kembali memberlakukan blokade pelabuhan.

Sejak bentrokan kembali pecah pada Juli, serangan terhadap kapal tanker minyak dan kargo terus meningkat setiap bulannya. Tercatat ada 12 serangan pada Juli dan 10 insiden pada Agustus di lepas pantai Fujairah, Uni Emirat Arab, serta Sohar, Oman. Angka ini naik menjadi 18 kapal pada September seiring langkah AS dan negara-negara Teluk menggunakan kapal-kapal kecil untuk memindahkan minyak ke tanker besar di area aman.

IRGC menuduh metode pemindahan minyak antarkapal tersebut sebagai upaya penyelundupan ilegal untuk menembus blokade mereka, sehingga memperluas target serangan ke kapal pemasok dan kapal tunda. Sejak akhir Mei 2026, Teheran mewajibkan semua kapal meminta izin terlebih dahulu dari Angkatan Laut IRGC sebelum melintasi Selat Hormuz. Iran memperingatkan bahwa pelayaran tanpa izin, penggunaan jalur di perairan Oman untuk menghindari perairan Iran, atau tindakan mematikan sistem navigasi akan dianggap sebagai ancaman keamanan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article