Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Setahun Gencatan Senjata Gaza, 1.400 Lebih Warga Tewas Diserang Israel
Petugas UNRWA gendong anak di Gaza (Ashraf Amra, CC BY-SA 3.0 igo, via Wikimedia Commons)
  • Lebih dari 100 organisasi menyatakan gencatan senjata Gaza hanya sebatas nama; serangan Israel selama setahun dilaporkan menewaskan lebih dari 1.400 warga Palestina, termasuk sedikitnya 327 anak.
  • Lebih dari 80 persen bangunan Gaza rusak, seluruh 36 rumah sakit tidak beroperasi penuh, dan lebih dari 18.500 pasien menunggu evakuasi; lebih dari 1.000 orang meninggal sambil menanti perawatan.
  • Israel dilaporkan menguasai sekitar 70 persen Gaza dan membatasi bahan rekonstruksi, sementara bantuan pemulihan belum berjalan; 1,4 juta warga diperkirakan menghadapi kelaparan tingkat krisis atau lebih buruk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Lebih dari 100 organisasi kemanusiaan dan hak asasi manusia memperingatkan pada Jumat (9/10/2026) bahwa gencatan senjata di Jalur Gaza hanya ada sebatas nama. Satu tahun setelah perjanjian 10 Oktober 2025 berlaku, warga Palestina dilaporkan masih terus menghadapi serangan militer Israel, krisis kelaparan, dan kerusakan fasilitas kesehatan.

Dalam pernyataan bersama lebih dari 100 lembaga kemanusiaan, militer Israel menewaskan lebih dari 1.400 warga Palestina, termasuk sedikitnya 327 anak-anak, selama 12 bulan terakhir. Sementara itu, data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat jumlah korban tewas akibat serangan Israel telah melampaui sedikitnya 1.450 orang. Selain itu, hampir dua juta orang masih membutuhkan tempat bernaung saat musim dingin mendekat dengan ancaman suhu dingin, hujan lebat, dan banjir.

1. Kerusakan fasilitas kesehatan dan ribuan pasien tunggu evakuasi

Anak-anak pengungsi bermain di sekolah UNRWA yang dialihfungsikan jadi tempat penampungan, Jabalia, Gaza. (Abedallah Alhaj, CC BY-SA 3.0 igo, via Wikimedia Commons)

CEO Save the Children International Inger Ashing menyampaikan bahwa seorang anak tewas hampir setiap hari sejak gencatan senjata diumumkan. Inger Ashing mengatakan, "Gencatan senjata tidak ada artinya jika anak-anak masih dibunuh dan keluarga-keluarga masih belum mampu membangun kembali kehidupan mereka". Laporan gabungan menyebutkan lebih dari 80 persen bangunan di Gaza rusak dengan sekitar dua pertiga hancur total, sehingga ratusan ribu keluarga tinggal di tenda atau bangunan rawan runtuh.

Kondisi medis menunjukkan tidak ada satu pun dari 36 rumah sakit di Gaza yang beroperasi secara penuh. Lembaga bantuan mencatat lebih dari 18.500 pasien, termasuk sedikitnya 4.000 anak-anak, masih menunggu evakuasi untuk perawatan medis. Dalam laporan tersebut, lebih dari 1.000 orang dinyatakan telah meninggal dunia saat menunggu giliran perawatan.

2. Pasukan Israel kuasai mayoritas wilayah dan hambat rekonstruksi

Militer Israel lakukan penempatan ulang di kompleks Masjid Al-Aqsa. (Stop The Wall from Palestine, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Dilansir TRT World, pasukan Israel menguasai sekitar 70 persen wilayah Jalur Gaza, melampaui ketentuan perjanjian gencatan senjata yang membatasi keberadaan mereka di angka 53 persen. Kelompok bantuan menuduh pasukan Israel memperluas kendali melewati batas penarikan Garis Kuning, sehingga mempersempit wilayah bagi warga Palestina yang mengungsi. Di sisi lain, kelompok Hamas telah membebaskan 20 tawanan hidup tiga hari setelah kesepakatan diumumkan dan tidak ada tembakan roket dari pihak Palestina selama satu tahun.

Sekretaris Jenderal Norwegian Refugee Council Jan Egeland menyatakan pembatasan Israel terhadap masuknya alat konstruksi dan bahan bangunan terus menghambat upaya pemulihan. Jan Egeland mengatakan, "Sangat memalukan bahwa satu tahun penuh setelah gencatan senjata ditandatangani, begitu sedikit kemajuan bagi warga Palestina di Gaza". Dilansir Arab News, upaya rekonstruksi membutuhkan dana sekitar 71,4 miliar dolar AS atau setara Rp1.277,2 triliun (kurs Rp17.888) untuk membangun kembali wilayah tersebut.

3. Realisasi bantuan dana terhenti dan ancaman krisis pangan

Tim penyelamat menggali puing-puing untuk mengevakuasi jenazah dari sebuah bangunan yang runtuh di kawasan Tal al-Hawa, Kota Gaza, pada 16 September 2026.

Rencana perdamaian 20 poin bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan masih terhenti, termasuk poin penarikan militer penuh Israel dan rekonstruksi pascaperang. Lembaga Board of Peace yang dibentuk Donald Trump mengusulkan rencana pemulihan enam bulan senilai 2,45 miliar dolar AS atau setara Rp43,83 triliun pada September 2026, tetapi proposal tersebut belum berjalan di lapangan. Selain itu, komitmen bantuan senilai 10 miliar dolar AS atau setara Rp178,88 triliun dari pemerintah Amerika Serikat juga belum diketahui telah disalurkan ke rekonstruksi Gaza.

Kondisi pangan mencatat sebanyak 1,4 juta warga Palestina diperkirakan menghadapi kelaparan tingkat krisis atau lebih buruk hingga akhir tahun ini. Pemeriksaan Medecins du Monde mendapati 93 persen perempuan hamil atau menyusui menunjukkan gejala anemia, dan hanya 17 persen yang memiliki asupan makanan cukup bervariasi. Shaun Hughes dari Program Pangan Dunia menyampaikan bahwa situasi masih sangat serius dan malanutrisi akut berulang pada anak-anak adalah kondisi yang tidak bisa dipulihkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article