Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Setahun Gencatan Senjata, Warga Gaza Masih Sulit Dapatkan Makanan

4 min read
Setahun Gencatan Senjata, Warga Gaza Masih Sulit Dapatkan Makanan
ilustrasi anak-anak di gaza (pixabay.com/hosnysalah)
  • Setahun setelah gencatan senjata, warga Gaza masih mengantre berjam-jam di dapur umum; 1,4 juta dari sekitar 2,1 juta penduduk mengalami kerawanan pangan akut.
  • Keterbatasan makanan bergizi memperparah malnutrisi: anak berisiko mengalami gangguan fisik dan kognitif jangka panjang, sementara 93 persen ibu hamil atau menyusui menunjukkan gejala anemia.
  • Lebih dari 100 NGO menilai gencatan senjata hanya berlaku di atas kertas, menyebut serangan Israel dan pembatasan bantuan serta rekonstruksi terus menghambat pemulihan Gaza.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kelaparan meluas masih berlangsung di Jalur Gaza meski setahun telah berlalu sejak Israel dan kelompok Hamas menyepakati gencatan senjata. Kesepakatan tersebut seharusnya memungkinkan masuknya pasokan makanan dalam jumlah besar ke wilayah Palestina itu.

Dilansir France24, Niyaha al-Masri, seorang ibu di Gaza, harus mengantre di dapur umum selama lebih dari 6 jam setiap hari demi membawa pulang makanan untuk keluarganya. Ia berangkat pagi-pagi sekali dan baru pulang pada sore hari. Suaminya tidak dapat ikut bersamanya karena kedua kakinya terluka akibat serangan udara Israel.

Masri mengaku tidak punya pilihan. Tanpa bantuan makanan dari dapur umum, perempuan berusia 35 tahun itu mengatakan bahwa ia dan delapan anaknya yang masih kecil bakal kelaparan. Salah satu putranya bahkan pernah mengalami malnutrisi selama bencana kelaparan pada 2025, meskipun kondisinya kini berangsur membaik.

  1. 1. 1,4 juta penduduk Gaza alami kerawanan pangan akut

    kondisi pengungsian di Gaza saat hujan turun
    kondisi pengungsian di Gaza saat hujan turun (Ashraf Amra, CC BY-SA 3.0 IGO <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/igo/deed.en>, via Wikimedia Commons)

    Pada Agustus 2025, Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terintegrasi (IPC), badan yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menyatakan bahwa Gaza mengalami bencana kelaparan. Namun, empat bulan kemudian, pernyataan itu dicabut oleh PBB dengan alasan bahwa gencatan gencatan senjata telah memungkinkan masuknya pasokan bantuan yang cukup ke wilayah tersebut. COGAT, lembaga Israel bertanggung jawab atas urusan sipil di wilayah Palestina, juga mengklaim bahwa situasi kemanusiaan di Gaza sudah berada dalam kondisi stabil.

    Namun, Shaun Hughes dari Program Pangan Dunia (WFP) menilai situasi ketahanan pangan di Gaza masih sangat memprihatinkan. Menurut data terbaru yang dirilis pada Juli 2026, sebanyak 1,4 juta dari sekitar 2,1 juta penduduk Gaza mengalami kerawanan pangan akut. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 ribu orang berada satu tingkat di bawah kondisi bencana kelaparan.

    Hughes menambahkan bahwa meskipun sebagian makanan telah masuk ke Gaza, keterbatasan variasi makanan yang bergizi juga dapat menjadi ancaman bagi kesehatan penduduk.

    “Keragaman pangan merupakan masalah utama dalam ketahanan pangan di Gaza. Orang tidak bisa bertahan hidup hanya dengan makanan kering, tepung terigu, dan roti. Terutama anak-anak serta ibu hamil dan menyusui, mereka membutuhkan mikronutrien yang terkandung dalam makanan berprotein tinggi, sayuran segar, dan buah-buahan segar,” jelasnya.

  2. 2. Malnutrisi dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh anak

    kehancuran di Jalur Gaza akibat serangan militer Israel
    kehancuran di Jalur Gaza akibat serangan militer Israel (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

    Malnutrisi tidak hanya disebabkan oleh kekurangan makanan, tetapi juga kurangnya asupan nutrisi penting. Pada anak-anak, kondisi ini dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga mereka lebih rentan terserang penyakit dan mengalami gangguan pertumbuhan.

    "Serangan malnutrisi akut yang berulang pada anak-anak adalah kondisi yang dampaknya tidak dapat dipulihkan sepenuhnya. Gangguan kognitif dan fisik tersebut dapat berlanjut hingga masa dewasa," ujar Hughes.

    Dalam laporan yang diterbitkan pada Kamis (8/10/2026), Médecins du Monde mengungkapkan bahwa 93 persen ibu hamil atau menyusui menunjukkan gejala anemia, kondisi yang berkaitan erat dengan malnutrisi. Kelompok tersebut juga menemukan bahwa hanya 17 persen dari mereka yang memiliki pola makan cukup beragam untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.

  3. 3. Kesepakatan gencatan senjata di Gaza hanya berlaku di atas kertas

    serangan Israel di Jalur Gaza
    serangan Israel di Jalur Gaza (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

    Sementara itu, lebih dari 100 organisasi nonpemerintah (NGO) menilai bahwa kesepakatan gencatan senjata di Gaza yang didukung Amerika Serikat (AS) hanya berlaku di atas kertas saja. Mereka menyebutkan bahwa lebih dari 1.400 warga Palestina, termasuk sedikitnya 327 anak-anak, telah tewas akibat serangan Israel di Gaza sejak gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025.

    “Gencatan senjata hanya berlaku di atas kertas, sementara pasukan Israel terus membunuh dan melukai warga Palestina setiap hari. Pembatasan bantuan, peralatan, dan bahan bangunan untuk rekonstruksi juga menghalangi keluarga-keluarga untuk memulihkan kehidupan mereka,” demikian pernyataan bersama yang dirilis oleh Amnesty International, Norwegian Refugee Council (NRC), Save the Children, Oxfam dan puluhan organisasi internasional lainnya pada Jumat (9/10/2026), dikutip Al Jazeera.

    Menurut data Kementerian Kesehatan Palestina, lebih dari 74 ribu warga Palestina tewas dan 175 ribu lainnya terluka sejak dimulainya perang genosida Israel di Gaza pada Oktober 2023. Jumlah korban tewas sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi, mengingat ada ribuan orang yang masih terkubur di bawah reruntuhan bangunan atau dinyatakan hilang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More