Jakarta, IDN Times - Kelaparan meluas masih berlangsung di Jalur Gaza meski setahun telah berlalu sejak Israel dan kelompok Hamas menyepakati gencatan senjata. Kesepakatan tersebut seharusnya memungkinkan masuknya pasokan makanan dalam jumlah besar ke wilayah Palestina itu.
Dilansir France24, Niyaha al-Masri, seorang ibu di Gaza, harus mengantre di dapur umum selama lebih dari 6 jam setiap hari demi membawa pulang makanan untuk keluarganya. Ia berangkat pagi-pagi sekali dan baru pulang pada sore hari. Suaminya tidak dapat ikut bersamanya karena kedua kakinya terluka akibat serangan udara Israel.
Masri mengaku tidak punya pilihan. Tanpa bantuan makanan dari dapur umum, perempuan berusia 35 tahun itu mengatakan bahwa ia dan delapan anaknya yang masih kecil bakal kelaparan. Salah satu putranya bahkan pernah mengalami malnutrisi selama bencana kelaparan pada 2025, meskipun kondisinya kini berangsur membaik.
