Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Krisis Kesehatan Gaza: Lebih dari Separuh Pasien Dialisis Meninggal

4 min read
Krisis Kesehatan Gaza: Lebih dari Separuh Pasien Dialisis Meninggal
Gaza (pexels.com/Mohamed Zarandah)
  • Lebih dari separuh pasien dialisis di Gaza meninggal; jumlah penerima cuci darah turun dari sekitar 1.400 menjadi 600 akibat sulitnya perawatan rutin dan kelangkaan pasokan.
  • Sistem kesehatan Gaza tertekan: hanya 22 dari 38 rumah sakit masih berfungsi, kapasitas tempat tidur dan tenaga dokter menurun, sementara obat penyelamat nyawa serta layanan kritis terhenti.
  • Pembatasan evakuasi medis, penahanan dokter, dan krisis listrik memperburuk situasi; 2.027 pasien meninggal menunggu izin perjalanan, sementara sekitar 21 ribu pasien masih membutuhkan evakuasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Lebih dari separuh pasien dialisis di Gaza meninggal dunia di tengah blokade Israel dan keruntuhan sistem perawatan kesehatan selama tiga tahun perang. Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza Munir al-Bursh menyampaikan bahwa jumlah penderita penyakit ginjal yang menjalani cuci darah merosot dari sekitar 1.400 orang menjadi 600 orang.

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat penurunan angka pasien tersebut berkaitan dengan kematian yang disebabkan oleh ketidakmampuan menerima perawatan secara rutin. Di sisi lain, fasilitas medis di wilayah tersebut mengalami kelangkaan sumber daya akut untuk menangani gelombang korban luka perang yang terus berdatangan.

  1. 1. Lonjakan kebutuhan operasi bedah dan kematian pasien penyakit kronis

    ilustrasi rumah sakit
    ilustrasi rumah sakit (pexels.com/Pixabay)

    Munir al-Bursh menjelaskan bahwa lebih dari 174 ribu warga terluka sejak awal agresi militer dengan kebutuhan awal rata-rata minimal tiga kali tindakan pembedahan. "Ini berarti Gaza membutuhkan hampir setengah juta prosedur bedah yang rumit," ujar dia kepada Anadolu, seraya menambahkan bahwa fasilitas medis tidak memiliki sumber daya untuk menjalankannya. Ribuan penderita penyakit kronis seperti tekanan darah tinggi dan diabetes juga dilaporkan meninggal dunia selama perang akibat kesulitan mengakses pengobatan serta perawatan medis.

    Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) pada September mendokumentasikan kelangkaan lanjutan untuk obat penyakit kronis termasuk pasokan perawatan ginjal. Kelangkaan ini memicu komplikasi pada layanan dialisis, seperti kebutuhan transfusi darah dan penghentian sebagian besar prosedur kateterisasi. Sementara itu, serangan Israel sejak kesepakatan gencatan senjata pada 10 Oktober 2025 tetap menewaskan lebih dari 1.460 warga Palestina dan melukai lebih dari 5.160 orang lainnya, menurut Al-Bursh.

  2. 2. Penurunan kapasitas rumah sakit dan krisis obat esensial

    ilustrasi kapsul obat
    ilustrasi kapsul obat (pexels.com/Anna Shvets)

    Direktur Rumah Sakit Al-Tahrir di Kompleks Medis Nasser, Ahmad al-Farra, menyebutkan hanya 22 dari 38 rumah sakit yang beroperasi sebelum perang yang saat ini masih berfungsi. Daya tampung tempat tidur rumah sakit menyusut dari sekitar 3.950 menjadi 2.637 unit, sementara 62 persen peralatan pencitraan diagnostik tidak dapat digunakan. Jumlah tenaga dokter di wilayah tersebut juga mengalami penurunan sebesar 34,6 persen menjadi sekitar 1.363 orang.

    Laporan kantor berita WAFA mencatat sekitar 44 persen persediaan obat-obatan penyelamat nyawa telah habis sepenuhnya dari penyimpanan. Kelangkaan persediaan ini berdampak pada pasokan anestesi, insulin, cairan intravena, hingga obat kemoterapi kanker. Dampak krisis persediaan medis tersebut memaksa penghentian sejumlah layanan kritis, termasuk prosedur radioterapi dan operasi jantung terbuka.

    Layanan perawatan bayi baru lahir turut terpengaruh dengan penurunan jumlah inkubator dari 162 menjadi 122 unit. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan tidak ada satu pun rumah sakit di Gaza yang beroperasi dengan kapasitas penuh, sementara sekitar 12.400 pasien telah dievakuasi ke luar negeri sejak Oktober 2023. Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina menegaskan bahwa kerusakan fasilitas, kelangkaan obat-obatan dan pasokan medis, serta melonjaknya kebutuhan kemanusiaan terus menekan sektor kesehatan secara berat.

  3. 3. Penahanan puluhan dokter dan pemadaman aliran listrik

    ilustrasi dokter
    ilustrasi dokter (pexels.com/cottonbro studio)

    Al-Bursh mengungkapkan bahwa Israel masih menahan lebih dari 88 dokter spesialis, termasuk dokter bedah senior dan tokoh medis terkemuka di Gaza, di antaranya Mohammad Obeid, Hussam Abu Safiya, serta Ghassan Abu Zahri. Pencegahan masuknya delegasi medis asing berkualifikasi tinggi semakin memperparah kelangkaan staf medis di berbagai rumah sakit. Selain itu, kendali militer Israel atas lebih dari 60 persen Jalur Gaza membuat sejumlah rumah sakit berada di wilayah pendudukan atau menghadapi permusuhan aktif.

    Krisis energi juga melanda wilayah tersebut mengingat Gaza hidup tanpa aliran listrik reguler sejak 8 Oktober 2023. Penolakan otoritas Israel untuk mengizinkan bahan bakar generator dan suku cadang masuk telah mengganggu pengoperasian pabrik oksigen, generator listrik, serta armada ambulans. Peralatan ruang operasi juga dilarang masuk ke Gaza sehingga membuat prosedur bedah menjadi hampir mustahil dilakukan.

  4. 4. Pembatasan evakuasi medis dan penutupan perbatasan

    Polisi Israel
    Polisi Israel (Israel Police, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

    Al-Farra menyatakan sebanyak 2.027 pasien telah meninggal dunia saat menunggu persetujuan izin perjalanan medis ke luar wilayah. Sekitar 21 ribu pasien saat ini masih membutuhkan evakuasi, mencakup 5.803 anak-anak serta sekitar 2.800 penderita kanker. Pasien kanker menghadapi kelangkaan peralatan diagnostik dan kemoterapi, sedangkan sekitar 700 pasien ginjal membutuhkan cuci darah tiga kali sepekan di tengah krisis persediaan.

    Al-Bursh menambahkan bahwa lebih dari 20 ribu pasien dan korban luka sangat mendesak untuk meninggalkan Gaza demi mendapatkan perawatan. "Pengaturan yang menyediakan keberangkatan sekitar 300 pasien per hari belum diterapkan oleh Israel, dengan hanya sekitar 25 pasien yang saat ini diizinkan untuk pergi setiap hari," kata dia.

    Israel membuka kembali Penyeberangan Rafah pada 2 Februari di bawah pembatasan ketat setelah mendudukinya sejak Mei 2024. Sementara itu, data PBB pada April menunjukkan lebih dari 18.500 pasien membutuhkan evakuasi medis, termasuk sekitar 4.000 anak-anak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More