Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Trump Kecam Norwegia karena Tak Beri Hadiah Nobel Perdamaian
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan pidato kepada aparat penegak hukum dan anggota Garda Nasional di Fasilitas Operasi Anacostia Kepolisian AS di Washington, D.C., pada 21 Agustus 2025. (commons.wikimedia.org/Daniel Torok)
  • Donald Trump mengecam Norwegia setelah gagal meraih Nobel Perdamaian 2026, menyebut keputusan Komite Nobel memalukan dan menilai dirinya paling layak atas kontribusi perdamaian dunia.
  • Nobel Perdamaian 2026 diberikan kepada Navi Pillay, mantan pejabat HAM PBB dan hakim ICC asal Afrika Selatan, atas upayanya memperkuat hukum internasional serta penuntutan kejahatan berat.
  • Trump mengaku tidak mengenal Pillay dan mempertanyakan pilihannya. Ia juga gagal pada 2025, ketika Nobel diberikan kepada Maria Corina Machado; penyerahan penghargaan Machado kepada Trump dinyatakan tidak sah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengecam Pemerintah Norwegia karena tidak memberinya Hadiah Nobel Perdamaian 2026. Trump menyebut keputusan tersebut ”Memalukan dan tercela”. Sebab, Trump menganggap dirinyalah yang berhak menerima nobel karena sudah berkontribusi banyak terhadap perdamaian dunia. 

“Ini adalah noda yang tak terhapuskan pada Negara Norwegia dan orang-orang yang membuat keputusan yang memalukan dan tercela tersebut. Hadiah Nobel Perdamaian telah selamanya dinodai oleh segelintir ideologi radikal yang anti-demokrasi dan benar-benar musuh peradaban. Kami tidak akan melupakan hal itu, Norwegia,” kata Trump pada Jumat (9/10/2026), seperti dilansir Times of Israel.

1. Navi Pillay jadi pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2026

potret peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2026, Navi Pillay (flickr.com/United States Mission Geneva via commons.wikimedia.org/United States Mission Geneva)

Sebagai informasi, Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini diberikan kepada mantan Ketua Badan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan mantan hakim Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) asal Afrika Selatan, Navi Pillay. Pillay dipilih oleh Komite Nobel Norwegia karena dianggap telah menegakkan hukum internasional dan mempromosikan perdamaian dunia. 

“Navi Pillay diakui atas upayanya untuk mempromosikan perdamaian dan hukum internasional yang membuka jalan bagi tatanan hukum global yang lebih komprehensif. Kontribusi warga Afrika Selatan itu sangat berperan dalam memastikan bahwa kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida harus dituntut," kata Ketua Komite Nobel Norwegia, Jorgen Watne Frydnes, dilansir BBC.

2. Trump mengaku tidak kenal dengan Pillay

potret peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2026, Navi Pillay (flickr.com/Wayamo Foundation via commons.wikimedia.org/Wayamo Foundation)

Keputusan Komite Nobel Norwegia untuk memberi nobel ke Pillay ini membuat Trump terheran-heran. Sebab, menurut Trump, Pillay bukan tokoh yang berpengaruh terhadap perdamaian dunia. Trump juga mengaku sama sekali tidak mengenal Pillay sehingga ia menyebutnya sebagai “Orang misterius”. 

Lebih lanjut, Trump menyebut Pillay sebagai pribadi yang membenci Israel. Oleh karena itu, Trump menganggap Pillay sama sekali tidak berhak menerima hadiah nobel. “Saya tidak pernah mendengarnya (Navi Pillay). Orang-orang lain juga,” ujar Trump. 

3. Trump juga gagal meraih nobel perdamaian pada 2025

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/Darron Birgenheier via commons.wikimedia.org/Darron Birgenheier)

Sejak kembali menjabat sebagai Presiden AS pada Januari 2025, Trump memang sudah sangat berambisi untuk meraih Nobel Perdamaian. Sebab, Trump menganggap dirinya sudah banyak berkontribusi menyelesaikan konflik yang kini sedang terjadi di berbagai belahan dunia, mulai dari perang Israel dan Palestina hingga perang Rusia dan Ukraina. 

Namun, pada tahun lalu, Trump juga gagal mendapatkan nobel. Sebab, Komite Nobel Norwegia memutuskan untuk memberi Nobel Perdamaian ke pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado. Namun, pada Januari 2026 lalu, Machado memberikan nobelnya ke Trump. Sebab, ia menganggap Trumplah yang berhak menerima penghargaan agung tersebut. Meski begitu, Komite Nobel Norwegia menganggap tindakan tersebut tidak sah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article