Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Trump Kembali Ancam Iran di Tengah Pembicaraan Perdamaian Swiss
Tempat pertemuan delegasi AS-Iran di Burgenstock, Swiss. (AFP/FABRICE COFFRINI)
  • Pertemuan di Swiss membahas kesepakatan sementara antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang, dengan Wakil Presiden JD Vance menekankan peluang membuka hubungan baru.
  • Di tengah negosiasi, Trump mengancam Iran terkait dukungan terhadap Hizbullah dan Selat Hormuz, memicu reaksi keras dari Teheran yang menyebut pembicaraan memasuki fase sulit.
  • Iran menegaskan tidak akan mundur dari hak pengayaan uranium meski ada tekanan AS, sementara kedua pihak masih berupaya menjaga jalur diplomasi tetap terbuka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Orang-orang penting dari Amerika dan Iran ngobrol di Swiss supaya perang bisa berhenti. Wakil Presiden Amerika namanya Pak Vance bilang masih bisa damai, tapi Presiden Trump malah marah dan ancam Iran. Orang Iran jadi kesal tapi masih mau bicara. Mereka ribut soal minyak, nuklir, dan perang di Lebanon yang belum tenang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun perundingan di Swiss berlangsung dalam suasana tegang, keberlanjutan dialog antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan komitmen kedua pihak untuk tetap mencari jalan diplomatik. Kehadiran mediator dari Pakistan dan Qatar membantu menjaga komunikasi terbuka, sementara kesepakatan sementara yang memungkinkan perdagangan minyak dan akses aset beku menandakan adanya ruang bagi kemajuan nyata menuju stabilitas regional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengatakan, masih ada peluang untuk membuka lembaran baru dengan Iran, saat kedua negara menggelar pembicaraan di Swiss guna membahas rincian kesepakatan sementara yang disepakati pekan lalu untuk mengakhiri perang.

Namun, di tengah upaya diplomasi tersebut, Presiden AS Donald Trump justru melontarkan peringatan keras kepada Teheran. Trump mengancam akan melancarkan serangan baru apabila Iran terus mendukung kelompok Hizbullah di Lebanon atau berupaya menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.

Pertemuan yang dinamai KTT Danau Lucerne itu berlangsung di sebuah resor pegunungan dekat Danau Lucerne, Swiss. Vance bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner bertemu langsung dengan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, serta Menteri Luar Negeri, Abbas Araghchi.

Mediator dari Pakistan dan Qatar juga hadir dalam perundingan yang menurut media pemerintah Iran berlangsung sekitar 80 menit. Selain pertemuan langsung, delegasi AS dan Iran juga melakukan pembicaraan terpisah dengan para mediator.

1. Trump kembali keluarkan ancaman

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (commons.wikimedia.org/Shealeah Craighead)

Saat pembicaraan dimulai, Vance mengatakan, masih ada peluang bagi kedua negara untuk membangun hubungan yang lebih baik. “Pertanyaan yang ada di hadapan kita sekarang adalah seberapa banyak lagi yang bisa kita capai bersama? Bisakah kita membuka lembaran baru?” kata Vance, dikutip dari France24, Senin (22/6/2026).

“Bisakah kita mengubah hubungan di Timur Tengah secara permanen, atau kita kembali melakukan hal-hal dengan cara lama, yang bukan menjadi pilihan kami, tetapi tentu saja sangat mungkin terjadi,” lanjutnya.

Namun, ketika negosiasi berlangsung, Trump melalui media sosial mengeluarkan ancaman kepada Iran terkait dukungannya terhadap Hizbullah di Lebanon.

“Iran harus segera menghentikan proxy mereka di Lebanon yang dibayar mahal untuk membuat kekacauan,” tulis Trump.

“Jika tidak, kami akan menghantam Iran dengan sangat keras lagi, seperti yang kami lakukan minggu lalu, bahkan lebih keras!!!” tambahnya.

2. Iran ungkap pembicaraan masuk fase sulit

potret bendera Iran (pixabay.com/Chickenonline)

Pernyataan Trump memicu reaksi keras dari Teheran. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf memperingatkan Washington agar berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan.

“Mereka sebaiknya berhati-hati dengan pernyataan mereka,” tulis Qalibaf di platform X.

“Angkatan bersenjata kami siap merespons mereka dengan cara yang berbeda. Mereka boleh terus berbicara, tetapi kamilah yang bertindak,” lanjutnya.

Media pemerintah Iran kemudian melaporkan bahwa perundingan telah memasuki fase sulit dan sempat ditunda setelah muncul pesan yang menghina dari Presiden Amerika Serikat.

Meski demikian, seorang pejabat yang mengetahui jalannya pembicaraan mengatakan, delegasi Iran tetap melanjutkan negosiasi dan belum menunjukkan niat untuk meninggalkan meja perundingan.

3. Iran tak akan lepas hak pengayaan uranium

ilustrasi uranium bagi industri (pixabay.com/JamesQube)

Salah satu fokus utama Washington dalam pembicaraan ini adalah memastikan Iran tetap berada dalam jalur negosiasi mengenai program nuklirnya. Amerika Serikat juga ingin memastikan Selat Hormuz tetap terbuka bagi lalu lintas energi dunia.

Di sisi lain, Iran bersikeras mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium.

“Apa yang pasti adalah bahwa kami tidak akan pernah mundur dari hak untuk memperkaya uranium, dan pihak lain juga dipaksa untuk menerimanya,” kata Presiden Iran Masoud Pezeshkian, seperti dikutip media pemerintah Iran.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei juga menegaskan, implementasi kesepakatan jauh lebih penting dibandingkan sekadar penandatanganan.

“Pelaksanaan dokumen apa pun lebih penting daripada penandatanganannya,” ujarnya.

Menurut Baghaei, pembahasan pihak Iran juga difokuskan pada konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon yang beberapa hari terakhir kembali memanas.

Kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran memungkinkan Iran menjual minyak secara bebas, dan membuka akses terhadap miliaran dolar aset yang sebelumnya dibekukan. Iran juga diminta mengencerkan stok uranium dengan tingkat pengayaan tinggi.

Kesepakatan itu memberikan akses bebas biaya selama 60 hari bagi kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Namun, Iran masih membuka kemungkinan memberlakukan biaya layanan setelah periode tersebut berakhir.

Di saat bersamaan, konflik antara Israel dan Hizbullah terus membayangi jalannya negosiasi. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan pasukannya akan tetap berada di Lebanon selatan sampai ancaman terhadap Israel benar-benar dihilangkan.

Sementara Hizbullah menolak menghentikan serangan jika Israel tidak berkomitmen menarik pasukannya dari Lebanon. Kondisi ini membuat upaya AS untuk mencapai kesepakatan permanen dengan Iran menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Editorial Team

Related Article