Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Trump Tahan Dana Iran, Kesepakatan Nuklir Masih Buntu
ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art)
  • Presiden AS Donald Trump menegaskan sanksi ekonomi terhadap Iran belum akan dicabut hingga kesepakatan nuklir tercapai sepenuhnya, sebagai upaya memastikan komitmen Teheran dalam perundingan.
  • Iran meminta pencairan bertahap aset beku senilai 12–24 miliar dolar AS untuk membangun kepercayaan, sementara AS mempertimbangkan penggunaan dana sitaan bagi sekutu yang terdampak konflik.
  • AS memberi sinyal batas waktu pendek bagi tercapainya kesepakatan dan menyiapkan opsi militer jika negosiasi gagal, meski jalur diplomasi dengan Iran masih terbuka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Amerika Serikat (AS) menegaskan belum akan melonggarkan sanksi ekonomi terhadap Iran sebelum seluruh kesepakatan yang sedang dinegosiasikan benar-benar tercapai. Langkah itu disebut sebagai cara untuk memastikan Teheran memenuhi komitmennya dalam proses perundingan.

Dalam wawancara eksklusif program Meet the Press milik NBC yang disiarkan pada Minggu (7/6/2026), Presiden Donald Trump menolak kemungkinan pencabutan sanksi maupun pelepasan aset Iran dalam waktu dekat. Trump menyampaikan hal itu saat menjawab pertanyaan pembawa acara Kristen Welker mengenai kemungkinan pencairan aset sebagai bagian dari kesepakatan.

“Jika mereka berperilaku baik, jika mereka melakukan pekerjaan yang baik, kita mulai berbicara [tentang pelepasan aset dan pencabutan sanksi],” ujar Trump, dikutip Al Jazeera.

1. Iran menuntut pencairan dana bertahap

ilustrasi bendera iran (pexels.com/aboodi vesakaran)

Di sisi lain, Iran memandang pencairan sebagian aset yang dibekukan sebagai langkah awal yang diperlukan untuk membangun kepercayaan antara kedua negara. Teheran juga merujuk pada riwayat hubungan dengan Washington, termasuk dua operasi militer AS yang berlangsung saat pembahasan program nuklir pada masa lalu.

Iran saat ini diperkirakan memiliki lebih dari 100 miliar dolar AS (setara lebih dari Rp1.808 triliun) aset yang dibekukan di berbagai rekening bank dunia. Berdasarkan laporan media pemerintah Iran, Teheran meminta pencairan bertahap sebesar 12 miliar hingga 24 miliar dolar AS, setara sekitar Rp217 triliun hingga Rp434 triliun, sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran.

Kondisi tersebut disebut sebagai kebuntuan oleh Mohsen Rezaei, penasihat militer bagi Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei. Dalam wawancara dengan CNN, Rezaei meminta Trump mencari jalan keluar dari kebekuan itu dan menyatakan bahwa pelepasan dana dapat menjadi ujian kepercayaan bagi AS.

2. AS menimbang penggunaan dana sitaan

Pada 19 Maret 2016, Donald Trump mengadakan rapat umum di Fountain Park, Fountain Hills, Arizona. (Gage Skidmore, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Selain membahas pencairan aset, AS juga mempertimbangkan penggunaan dana sitaan Iran untuk membantu negara-negara sekutu di kawasan Teluk yang terdampak konflik. Opsi tersebut sedang dikaji di tengah pembahasan lanjutan mengenai masa depan kesepakatan.

Departemen Keuangan AS dilaporkan tengah menghitung biaya pemulihan yang dibutuhkan sekutu-sekutunya akibat kerusakan yang dikaitkan dengan tindakan Teheran selama konflik. Menteri Keuangan Scott Bessent juga telah meminta jajarannya memperkirakan nilai pasti dari kerugian tersebut.

Dalam pembahasan yang sama, Trump mengatakan dirinya tetap optimistis terhadap kelanjutan dialog sambil mendorong syarat yang lebih ketat terkait program nuklir Iran. Menurutnya, Iran telah menerima prinsip untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, tetapi masih meminta perlindungan yang lebih luas, sementara AS ingin menutup celah yang memungkinkan Iran memperoleh teknologi nuklir dari pihak lain.

“Kami punya klausul di sana bahwa kami tidak akan mengembangkan senjata nuklir. Dan semua orang sangat senang dengan itu kecuali dia. Dan dia bilang, yah, bagaimana jika mereka, bukan mengembangkan, tapi mereka keluar dan membeli, mereka memperoleh,” kata Trump menjelaskan dinamika internal timnya, dikutip The Hill.

Trump menegaskan kata “membeli” atau “memperoleh” perlu dicantumkan dalam rancangan perjanjian. Menurutnya, Iran tak boleh memiliki hak untuk mengembangkan, membeli, maupun memperoleh senjata nuklir.

3. AS menyiapkan opsi militer terhadap Iran

Kapal induk Angkatan Laut USS Gerald R. Ford (CVN-78) mengukus Samudra Atlantik selama simulasi transit selat dengan Gerald R. Ford Carrier Strike Group (GRFCSG) di Samudra Atlantik, 9 Oktober 2022. (S. Navy photo by Mass Communication Specialist 2nd Class Jackson Adkins, Public domain, via Wikimedia Commona)

Meski jalur komunikasi masih tersedia, AS memberi sinyal bahwa kesepakatan perlu dicapai dalam waktu singkat untuk menghindari penggunaan kekuatan militer. Pesan itu disampaikan bersamaan dengan upaya diplomasi yang masih berlangsung.

Trump menyatakan tindakan militer tetap menjadi pilihan apabila perundingan gagal menghasilkan kesepakatan. Dalam wawancara yang sama, ia mengatakan kedua pihak sebenarnya sudah sangat dekat dengan kesepakatan, namun ia siap menggunakan kekuatan penuh jika proses tersebut menemui jalan buntu.

Pertempuran besar di lapangan sendiri telah berhenti sejak 8 April 2026, walaupun sesekali masih terjadi aksi saling serang dalam skala terbatas. Untuk mencari penyelesaian, Trump menyatakan terbuka berdialog langsung dengan Khamenei yang menggantikan ayahnya setelah pemimpin senior itu tewas tidak lama setelah konflik pecah.

Trump juga mengatakan dirinya tidak menuntut agar Lebanon dimasukkan ke dalam kesepakatan gencatan senjata tersebut, meskipun konflik yang melibatkan Israel dan Hezbollah turut memengaruhi situasi kawasan. Dari pihak Iran, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa Teheran siap membalas apabila Israel menyerang Beirut selatan atau blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran terus berlanjut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article