pasukan Houthi di Kota Sanaa, Yaman. (Public domain, via Wikimedia Commons)
Aktivasi pakta tersebut dipicu oleh eskalasi pertempuran di Yaman yang dimulai sejak Juli. Milisi Houthi mengklaim telah melancarkan serangan ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan kilang minyak Aramco di pesisir Rabigh. Suara ledakan dilaporkan terdengar hingga menggetarkan jendela rumah warga di utara ibu kota Saudi tersebut.
Merespons serangan Houthi, koalisi pimpinan Saudi meluncurkan operasi udara bernama "Fajar Yaman" dengan mengerahkan 100 jet tempur. Serangan udara ini mendukung gerak maju pasukan pemerintah Yaman untuk merebut kembali kota pelabuhan Mocha dan menguasai Selat Bab al-Mandab.
Konflik ini juga mengganggu jalur energi setelah gempuran Houthi sempat menghentikan aliran pipa minyak East-West milik Saudi. Direktur Utama Saudi Aramco Amin Nasser memperingatkan bahwa cadangan minyak mentah dunia kini berada pada level yang mengkhawatirkan akibat perang.
Perang sipil Yaman kembali berkobar setelah gencatan senjata selama dua tahun resmi berakhir. Laporan PBB mencatat lebih dari 184 ribu warga sipil terpaksa mengungsi akibat pertempuran. Keterlibatan militer Turki dan Pakistan diprediksi akan makin memperdalam isolasi kelompok Houthi di kawasan.