Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Turki-Pakistan Sepakat Kirim Pasukan ke Arab Saudi untuk Hadapi Houthi
ilustrasi bendera Arab Saudi. (unsplash.com/ Akhilesh Sharma)
  • Turki dan Pakistan sepakat mengirim pasukan serta persenjataan ke Arab Saudi setelah pertemuan darurat di Riyadh, merespons serangan rudal dan drone Houthi.
  • Pengerahan ini menjadi aktivasi perdana Pakta Pertahanan Makkah, yang menetapkan serangan terhadap satu anggota sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
  • Eskalasi konflik Yaman mengancam fasilitas Saudi dan jalur energi; serangan Houthi sempat menghentikan pipa East-West, sementara lebih dari 184 ribu warga sipil mengungsi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Turki dan Pakistan sepakat mengirim pasukan ke Arab Saudi untuk menghadapi serangan kelompok Houthi Yaman. Keputusan tersebut disepakati dalam pertemuan darurat menteri luar negeri dan menteri pertahanan ketiga negara di Riyadh pada Senin (5/10/2026).

Langkah ini menandai pertama kalinya Pakta Pertahanan Makkah diaktifkan. Ketiga negara juga mengecam ancaman serangan yang menyasar kota suci Makkah dan Madinah.

1. Pertemuan darurat di Riyadh sepakati pengerahan militer

Ilustrasi bendera Turki. (unsplash.com/Tarik Haiga)

Pertemuan di Riyadh dihadiri para menteri dan pejabat militer tertinggi dari ketiga negara. Delegasi berkumpul untuk merespons serangan rudal dan drone Houthi yang semakin sering menyasar Saudi.

"Komite sepakat untuk mengaktifkan langkah-langkah pencegahan kolektif, dalam kerangka aliansi, sebagai respons terhadap serangan dan semua pihak yang bertanggung jawab," ujar Khalid, dilansir Al Jazeera.

Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan komitmen penuh untuk mengerahkan pasukan serta persenjataan yang telah disepakati. Meski begitu, pengumuman tersebut belum merinci jumlah maupun peran yang akan dijalankan pasukan tersebut setibanya di Arab Saudi.

2. Pakta Mekkah adopsi klausul pertahanan kolektif ala NATO

Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi (U.S. Air Force photo by Senior Airman Giovanni Sims, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pakta Pertahanan Makkah resmi ditandatangani pada 7 Agustus 2026 oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. Perjanjian ini menetapkan bahwa serangan terhadap salah satu negara anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Skema pertahanan bersama tersebut mengadopsi prinsip serupa Pasal 5 traktat NATO. Aliansi ini menggabungkan Turki sebagai pemilik militer terbesar kedua di NATO dan Pakistan sebagai satu-satunya negara Muslim pemilik senjata nuklir. Arab Saudi melengkapi aliansi tersebut dengan kekuatan finansial dan militer utama di kawasan Teluk.

Berdasarkan data Global Firepower Index 2026, kekuatan gabungan ketiga negara mencakup hampir 1,4 juta personel aktif dan 3.400 pesawat tempur. Aliansi ini juga didukung 6 ribu tank serta lebih dari 340 kapal perang.

3. Serangan Houthi guncang Saudi dan ancam pasokan minyak

pasukan Houthi di Kota Sanaa, Yaman. (Public domain, via Wikimedia Commons)

Aktivasi pakta tersebut dipicu oleh eskalasi pertempuran di Yaman yang dimulai sejak Juli. Milisi Houthi mengklaim telah melancarkan serangan ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan kilang minyak Aramco di pesisir Rabigh. Suara ledakan dilaporkan terdengar hingga menggetarkan jendela rumah warga di utara ibu kota Saudi tersebut.

Merespons serangan Houthi, koalisi pimpinan Saudi meluncurkan operasi udara bernama "Fajar Yaman" dengan mengerahkan 100 jet tempur. Serangan udara ini mendukung gerak maju pasukan pemerintah Yaman untuk merebut kembali kota pelabuhan Mocha dan menguasai Selat Bab al-Mandab.

Konflik ini juga mengganggu jalur energi setelah gempuran Houthi sempat menghentikan aliran pipa minyak East-West milik Saudi. Direktur Utama Saudi Aramco Amin Nasser memperingatkan bahwa cadangan minyak mentah dunia kini berada pada level yang mengkhawatirkan akibat perang.

Perang sipil Yaman kembali berkobar setelah gencatan senjata selama dua tahun resmi berakhir. Laporan PBB mencatat lebih dari 184 ribu warga sipil terpaksa mengungsi akibat pertempuran. Keterlibatan militer Turki dan Pakistan diprediksi akan makin memperdalam isolasi kelompok Houthi di kawasan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article