Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Vaksinasi Tertunda Sejak 2024, Bangladesh Hadapi Wabah Campak
Bendera Bangladesh (unsplash.com/engin akyurt)
  • Pemerintah Bangladesh meluncurkan kampanye vaksinasi darurat nasional untuk menghentikan wabah campak, menargetkan lebih dari 1,3 juta anak di 18 distrik berisiko tinggi.
  • Lonjakan kasus menyebabkan sedikitnya 130 anak meninggal dan ribuan lainnya terinfeksi, membuat fasilitas kesehatan kewalahan menangani pasien di berbagai wilayah.
  • Wabah dipicu penundaan imunisasi sejak 2024 akibat gejolak politik dan masalah stok vaksin, memaksa pemerintah menyusun strategi baru demi mencegah krisis serupa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Bangladesh resmi meluncurkan kampanye vaksinasi darurat di seluruh negeri pada Minggu (5/4/2026). Langkah cepat ini diambil untuk menghentikan penyebaran wabah campak yang semakin meluas dan mengkhawatirkan. Imunisasi massal ini diharapkan mampu memutus rantai penularan virus dengan segera.

Keputusan darurat ini diambil setelah data kesehatan menunjukkan lonjakan kasus yang mengancam sistem kesehatan nasional dan keselamatan jiwa anak-anak. Dengan populasi lebih dari 170 juta jiwa, pemerintah kini fokus melindungi kelompok paling rentan guna menekan angka kematian akibat komplikasi pernapasan dan saraf.

Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga juga telah mengirimkan tim medis serta peralatan berskala besar ke wilayah zona merah untuk menstabilkan krisis.

1. Pemerintah gelar imunisasi darurat untuk jutaan anak di daerah rawan

Kampanye vaksinasi darurat ini menargetkan lebih dari 1,3 juta anak untuk mendapatkan vaksin campak dan rubella (MR). Sasaran utamanya adalah anak-anak berusia enam bulan hingga di bawah lima tahun yang bermukim di 30 upazila (sub-distrik) dalam 18 distrik berisiko tinggi.

Pemerintah memprioritaskan anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi rutin, terutama yang tinggal di daerah terpencil dan permukiman padat penduduk. Langkah ini krusial untuk segera membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

"UNICEF sangat khawatir dengan lonjakan kasus campak di Bangladesh yang membahayakan ribuan anak kecil. Munculnya kembali wabah ini menunjukkan adanya celah kekebalan di masyarakat yang harus segera diperbaiki melalui kerja sama semua pihak," kata Perwakilan UNICEF untuk Bangladesh, Rana Flowers, dilansir Asia One.

Selain mengalokasikan dana 6,04 miliar taka (Rp834,81 miliar) untuk vaksin, pemerintah juga mendistribusikan kapsul Vitamin A kepada anak yang terinfeksi maupun berstatus suspek. Tujuannya adalah memperkuat daya tahan tubuh dan mencegah komplikasi berat seperti pneumonia atau radang otak. Ribuan pos kesehatan darurat telah dibuka, dan cuti bagi tenaga medis dibatalkan demi menjaga kesiagaan.

"Pemerintah sudah siap menangani wabah ini dengan menyiagakan seluruh tenaga kesehatan. Kami berkomitmen melindungi setiap anak melalui vaksinasi, tanpa peduli apakah mereka sudah pernah divaksin atau belum, demi menghapus penyakit ini sepenuhnya," tegas Menteri Kesehatan Bangladesh, Sardar Md Sakhawat Husain, dilansir TBS News.

2. Ratusan anak diduga meninggal dan ribuan terinfeksi

Hingga Minggu (5/4/2026), data resmi Direktorat Jenderal Layanan Kesehatan (DGHS) mencatat 17 kematian yang terbukti secara medis akibat campak. Namun, melihat gejala klinis yang dialami para korban, angka kematian sebenarnya diduga kuat telah mencapai sedikitnya 130 jiwa dalam enam minggu terakhir. Saat ini, total kasus suspek campak menembus angka 7.500 kasus di seluruh negeri.

Wilayah Bangladesh utara menjadi area paling terdampak. Setiap harinya, ratusan pasien baru berdatangan hingga membuat ruang perawatan intensif anak penuh sesak.

Beban fasilitas kesehatan kini sangat berat. Rumah Sakit Perguruan Tinggi Kedokteran Rajshahi dilaporkan telah merawat hampir 350 pasien sejak pertengahan Maret. Sementara itu, Rumah Sakit Penyakit Menular di Dhaka mencatat angka kematian tertinggi akibat gangguan pernapasan. Tragisnya, banyak anak meninggal sebelum sempat menjalani tes laboratorium karena kondisi mereka memburuk sangat cepat.

"Vaksinasi massal ini akan membantu mencegah hilangnya nyawa anak-anak di 56 distrik yang sudah tertular. Meski penyebaran diprediksi masih akan terjadi beberapa hari ke depan, kami optimis situasi akan terkendali setelah target vaksinasi tercapai," jelas Perwakilan WHO untuk Bangladesh, Dr. Ahmed Jamsheed Mohamed.

Pakar kesehatan masyarakat, Dr. ANM Nuruzzaman, turut menekankan pentingnya kecepatan bertindak.

"Vaksinasi ini sangat mendesak untuk menyelamatkan nyawa, terutama di wilayah padat dan daerah yang sulit akses kesehatan. Imunisasi tetap menjadi cara paling ampuh untuk menghentikan wabah sebelum dampaknya semakin parah," katanya.

3. Penundaan vaksinasi dan masalah stok jadi pemicu utama

Wabah besar pada 2026 ini meledak akibat rendahnya kekebalan tubuh masyarakat. Salah satu akar masalahnya adalah tertundanya kampanye imunisasi nasional yang seharusnya dieksekusi pada Juni 2024 akibat gejolak politik dan protes massa.

Di samping itu, birokrasi pembelian stok vaksin di kementerian serta keterlambatan distribusi ke daerah terpencil yang sempat berstatus tidak aman turut memperparah keadaan. Mantan pejabat Program Perluasan Imunisasi (EPI), Tajul Islam A Bari, melontarkan kritik keras terkait hal ini.

"Padahal dana sudah ada, tapi pihak berwenang gagal membeli vaksin tepat waktu. Sekarang kita menghadapi krisis kesehatan menakutkan yang mengancam nyawa ribuan anak karena kegagalan sistem dalam menjaga stok vaksin," kritiknya.

Pemerintah sendiri telah mengakui kegagalan mereka dalam mencapai target "nol kasus campak" pada akhir 2025. Program vaksinasi rutin terbukti tidak berjalan maksimal di titik-titik rawan seperti kamp pengungsi dan wilayah perbatasan. Saat ini, strategi baru sedang disusun, termasuk rencana memberikan vaksin lebih awal pada bayi usia enam bulan.

"Kami gagal mencapai target nol kasus pada Desember 2025 karena program vaksinasi tidak berjalan baik. Kami perlu memperbaiki total sistem pengawasan dan pelaksanaan di lapangan agar bencana kesehatan seperti ini tidak terulang lagi," aku Ketua Komite Verifikasi Nasional untuk Campak dan Rubella, Mahmudur Rahman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team