Konde Bantah Bagian Antek Asing Dalangi Kerusuhan Agustus 2025

- Konde.co membantah tuduhan sebagai antek asing dalam kerusuhan Agustus 2025 dan menilai narasi itu sebagai upaya mendiskreditkan media alternatif yang kritis terhadap kekuasaan.
- Luviana menyoroti sulitnya media alternatif seperti Konde memperoleh pengakuan dan perlindungan negara, serta sering dicurigai menerima dana asing meski berjuang mempertahankan jurnalisme independen.
- Laporan investigasi Tempo mengungkap operasi informasi pro-Rusia dan pro-China yang menyebar narasi keterlibatan pihak asing, dengan sejumlah media termasuk Konde disebut sebagai sasaran tuduhan.
Jakarta, IDN Times - Konde.co membantah tudingan menjadi bagian dari antek asing yang disebut mendalangi demonstrasi dan kerusuhan pada Agustus 2025. Pemimpin Redaksi Konde.co, Luviana Ariyanti, menilai narasi tersebut merupakan upaya mendiskreditkan media alternatif yang tetap kritis terhadap kekuasaan.
Nama Konde sebelumnya disebut dalam laporan investigasi yang dimuat interaktif Tempo berjudul Operasi Rusia Setelah Demonstrasi. Laporan itu mengungkap adanya operasi informasi yang diduga melibatkan aktor asing pro-Rusia dan pro-China untuk membangun narasi jika demonstrasi akhir Agustus 2025 didalangi pihak asing, termasuk Amerika Serikat, George Soros, hingga CIA.
Dalam laporan tersebut, Konde.co menjadi salah satu yang dituduh sebagai media yang didanai Amerika Serikat untuk memprovokasi aksi demonstrasi. Tuduhan itu muncul setelah Konde mengunggah liputan mengenai aksi Aliansi Perempuan Indonesia di depan gedung DPR yang menuntut penghentian kekerasan terhadap demonstran.
Luviana menegaskan Konde menolak tuduhan tersebut dan tidak ingin terjebak dalam narasi antek asing.
"Konde menolak pernyataan itu gitu dan tidak mau terjebak gitu ya Dalam skenario antek asing gitu. Pertama itu kita gak mau terjebak dalam skenario antek asing gitu. Memang apa yang dilakukan pemerintah dalam hal ini Prabowo ya. Dia kan suka nongkrong sama Trump gitu ya. Terus ke China juga gitu. Nah justru siapa yang antek asing sebenarnya gitu kan ya," kata Luviana kepada IDN Times, Selasa (26/5/2026).
"Dalam konteks ini ya, dalam konteks sebagai warga negara dan negara dan warga negara gitu ya. Siapa yang sebenarnya antek asing gitu? Kan kita bisa lihat ya Prabowo ketemu Trump, ke China, ke mana, ke pemimpin-pemimpin dunia gitu-gitulah ya," sambungnya.
1. Media alternatif kesulitan dapat perlindungan

Luviana juga menyoroti kondisi media alternatif yang selama ini kesulitan mendapat pengakuan dan perlindungan negara. Ia menyebut, Konde sebagai small newsroom yang justru sering dipinggirkan.
"Sebagai media alternatif, Konde itu kan small newsroom yang mesti dilindungi gitu ya. Jadi ternyata selama ini tuh sebagai media alternatif itu susah banget mendapat pengakuan dari Dewan Pers gitu-gitu ya," kata Luviana.
Luviana menjelaskan, media alternatif menghadapi persoalan besar dalam membangun ekosistem ekonomi media. Di satu sisi, media independen diminta tetap hidup dan menjalankan fungsi jurnalistik. Namun di sisi lain, ketika mendapat dukungan pendanaan, mereka justru dicurigai menerima dana asing.
"Tidak ada pengakuan terhadap media alternatif. Tidak ada perlindungan gitu ya. Walaupun ketika kasus Dewan Pers melindungi gitu, tapi kan masuk verifikasi di Dewan Pers saja susahnya minta ampun gitu ya," kata Luviana.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat media alternatif berada dalam situasi serba sulit karena tidak memperoleh dukungan memadai untuk mempertahankan kerja jurnalistik.
"Nah, tapi di satu sisi kemudian dipojokkan menerima dana asing. Jadi maunya apa gitu. Udah jelas kan maunya bahwa media alternatif seperti kita itu gak boleh hidup gitu aja kan ya," kata dia.
2. Media alternatif juga bekerja untuk kepentingan publik

Luviana menegaskan, media alternatif seperti Konde bekerja untuk kepentingan publik melalui jurnalisme investigasi dan jurnalisme mendalam. Dia menilai stigma antek asing muncul ketika media menjalankan fungsi kritik terhadap kekuasaan.
"Kalau misalnya kita mau memperjuangkan jurnalisme publik atau jurnalisme investigasi, jurnalisme mendalam itu kan justru didukung ya karena kita bekerja buat publik gitu," katanya.
Menurutnya, fungsi dasar media tidak berubah, yakni mengawasi kekuasaan dan membawa suara masyarakat.
"Fungsi media itu sebenarnya kan cuma dua ya. Pertama, dia mengawasi kekuasaan. Yang kedua membawa suara publik. Itu saja sebenarnya fungsi media tradisional," ujar Luviana.
3. Pihak yang disebut sebagai antek asing

Laporan Tempo menyebut operasi informasi terkait demonstrasi Agustus–September 2025 menyebar melalui jaringan media pemerintah Rusia, influencer asing, serta akun domestik pro-pemerintah. Investigasi itu menemukan ratusan unggahan yang menyebarkan narasi “revolusi warna”, “demo Soros”, hingga tuduhan keterlibatan badan intelijen Amerika Serikat dalam aksi demonstrasi di Indonesia.
Selain Konde, sejumlah organisasi dan media lain seperti Tempo, Project Multatuli, ICW, YLBHI, hingga LBH Jakarta juga disebut menjadi sasaran tuduhan sebagai antek asing.

















