Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Presiden Iran Izinkan Akses Internet di Negaranya Dibuka Lagi

Presiden Iran Izinkan Akses Internet di Negaranya Dibuka Lagi
potret Presiden Iran, Masoud Pezeshkian (commons.wikimedia.org/khamenei.ir)
Intinya Sih
  • Presiden Iran Masoud Pezeshkian resmi membuka kembali akses internet internasional setelah 87 hari pemblokiran, memerintahkan Kementerian Komunikasi untuk memulihkan konektivitas nasional.
  • Pemblokiran internet sejak Januari dilakukan untuk meredam protes anti-pemerintah dan mencegah spionase pascaserangan Amerika Serikat serta Israel pada Februari.
  • Kebijakan pemblokiran membuat perusahaan teknologi lumpuh, menimbulkan kerugian hingga 80 juta dolar AS per hari dan mendorong warga bermigrasi demi mempertahankan pekerjaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dilaporkan telah mengizinkan warganya untuk kembali mengakses internet. Berdasarkan laporan media nasional Iran pada Senin (25/5/2026), Pezeshkian juga sudah meminta Kementerian Komunikasi Iran untuk membuka kembali akses internet internasional di negaranya. 

Keputusan ini diambil usai Iran memblokir akses internet untuk warganya selama 87 hari. Menurut Menteri Komunikasi Iran, Sattar Hashemi, keputusan ini praktis membuat warga Iran kini bisa kembali mengakses internet dan membuka situs-situs web dari luar negeri. Selain itu, keputusan ini juga membuat warga Iran bisa berkomunikasi secara efektif lewat media sosial.

1. Iran memblokir akses internet sejak Januari

Internet sedang menyala.
ilustrasi internet (pexels.com/Obi Onyeador)

Iran sendiri memblokir akses internet di negaranya pada 8 Januari. Kala itu, kebijakan ini dilakukan untuk meredam protes anti-pemerintah, terutama yang dilakukan secara daring di media sosial. Sebab, kala itu, warga Iran sedang gencar melakukan aksi protes dan demonstrasi terhadap pemerintah karena krisis ekonomi yang sedang terjadi di sana.

Pada Februari, Iran sebetulnya sudah mulai memulihkan kembali akses internet untuk warganya. Namun, Iran memutuskan untuk kembali memblokir akses internet secara penuh usai Amerika Serikat dan Israel menyerang pada 8 Februari. Langkah ini dilakukan guna mencegah aksi spionase dari AS dan Israel yang biasanya dilakukan secara daring lewat jaringan internet. 

2. Pemblokiran akses internet membuat perusahaan tidak bisa beroperasi

Laptop yang digunakan untuk mengakses internet.
ilustrasi internet (pexels.com/Stefan Coders)

Pemblokiran jaringan internet ini membuat perusahaan, terutama yang berkaitan dengan teknologi, tidak bisa beroperasi. Imbasnya, banyak perusahaan yang akhirnya bangkrut dan terpaksa merumahkan karyawannya. Hal ini lantas membuat sejumlah warga Iran memutuskan untuk mengungsi ke negara lain demi mendapatkan internet.   

“Saya menghabiskan seluruh tabungan saya dari tahun lalu untuk tinggal di Armenia selama dua bulan. Migrasi ini bukan sukarela. Jika saya tidak dapat terhubung, semua kontrak luar negeri saya akan dibatalkan. Beberapa teman saya bahkan menjual emas atau barang-barang rumah tangga istri mereka hanya untuk mendapatkan akses internet dan tidak kehilangan pekerjaan mereka.” kata seorang warga Iran yang tidak disebut namanya sebagaimana dilansir Iran International.

3. Perusahaan di Iran mengalami kerugian besar akibat pemblokiran internet

Uang dalam jumlah banyak.
ilustrasi uang (pexels.com/John Guccione)

Menurut pengamat, pemblokiran jaringan internet ini telah membuat perusahaan-perusahan digital di Iran mengalami kerugian besar hingga mencapai 80 juta dolar AS atau Rp1,4 miliar per hari. Kerugian ini membuat roda perekonomian Iran berkontraksi secara signifikan. 

Oleh karena itu, sejumlah pengamat teknologi sempat menyarankan Iran untuk segera menghentikan pemblokiran akses internet di negaranya. Langkah ini bertujuan agar roda perekonomian kembali berjalan sehingga rakyat bisa segera keluar dari krisis. Beruntungnya, Iran kini sudah mengizinkan akses internet di negaranya dibuka kembali setelah diblokir selama 87 hari.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More