Comscore Tracker

Di Fiji, PNS yang Tolak Vaksinasi COVID-19 Dipecat

Warga Fiji yang belum divaksinasi tak boleh kerja

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Fiji, Frank Bainimarama, melarang warganya untuk bekerja jika belum disuntik vaksin COVID-19. Kebijakan itu diberlakukan demi memerangi varian delta yang memiliki daya penularan tinggi.

“Tidak ada suntikan, maka tidak ada pekerjaan,” kata Bainimarama sebagaimana dikutip dari AFP.

Secara lebih rinci, aturan yang berlaku di negara berpenduduk 930 ribu orang itu adalah setiap pegawai negeri sipil (PNS) harus mengajukan cuti jika mereka belum menerima suntikan vaksin dosis pertama pada 15 Agustus 2021. Kemudian, mereka akan diberhentikan jika tak kunjung menerima suntikan kedua pada 1 November 2021.

1. Masyarakat mulai abai dengan protokol kesehatan

Di Fiji, PNS yang Tolak Vaksinasi COVID-19 Dipecatilustrasi masker medis (IDN Times/Mela Hapsari)

Selain itu, karyawan sektor swasta harus menerima vaksinasi COVID-19 pertamanya pada 1 Agustus 2021. Individu yang menolak divaksinasi akan didenda, dan perusahaan yang tidak memfasilitasi vaksinasi akan ditutup.

"Yang paling aman sekarang adalah kebijakan pemerintah ditegakkan melalui hukum” ujar Bainimarama yang menjabat sebagai Perdana Menteri Fiji sejak 2007.

Kebijakan tegas itu muncul ketika masyarakat mulai abai dengan protokol kesehatan. Seperti enggan menjaga jarak dan banyak yang tidak mengenakan masker, sehingga menyebabkan lonjakan penularan.

Baca Juga: Fiji Antisipasi Tsunami COVID-19 Varian India

2. Varian delta menyebabkan lonjakan infeksi di Fiji

Di Fiji, PNS yang Tolak Vaksinasi COVID-19 DipecatIlustrasi Virus Corona. IDN Times/Mardya Shakti

Sejak COVID-19 ditetapkan sebagai pandemik hingga April 2021, Fiji belum mencatatkan kasus infeksi. Situasi itu berubah ketika varian delta mulai memasuki negara di kawasan pasifik itu, puncaknya terjadi pada 9 Juli 2021 ketika 860 orang dinyatakan positif virus corona dalam sehari, dikutip dari Worldometer.

Sejauh ini, Fiji telah mencatat 9.521 kasus positif dan 51 kematian. Varian delta mendorong fasilitas kesehatan untuk bekerja hingga titik maksimal.

Bainimarama menolak seruan untuk mengunci seluruh negara, dengan alasan ekonomi dan langkah itu dinilai tidak efektif di permukiman padat penduduk.

"Penguncian keras, seperti yang diminta beberapa orang, tidak dapat ditegakkan secara ketat di mana-mana di Fiji dan para ahli kami memberi tahu kami bahwa itu tidak akan membunuh virus," katanya.

"Tapi itu akan membunuh pekerjaan dan itu bisa membunuh masa depan negara kita," tambah dia.

3. Pemerintah akan tegas dalam kampanye vaksinasi dan protokol kesehatan

Di Fiji, PNS yang Tolak Vaksinasi COVID-19 DipecatVaksin COVID-19 AstraZeneca (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Sebaliknya, Bainimarama telah memberlakukan penguncian lokal di zona merah infeksi, termasuk ibu kota Suva, sembari meluncurkan vaksin AstraZeneca.

Hampir 340 ribu orang dewasa telah menerima suntikan pertama. Salah satu tantangan vaksinasi yang dihadapi Fiji adalah misinformasi dan hoaks seputar vaksin yang beredar di internet.

"Saya belum termagnetisasi atau terkelupas oleh vaksin, saya belum menerima tanda binatang atau makhluk lain, vaksin tidak memicu hal itu kepada siapa pun," ujar dia.

Mereka yang melanggar protokol kesehatan akan didenda di tempat.

"Akhir dari cobaan ini akan datang. Sampai itu terjadi, kita harus tetap waspada sampai lebih banyak dari kita terlindungi, divaksinasi, pakai masker, jaga jarak fisik dari orang lain,” tutup Bainimarama.

Baca Juga: [UPDATE] 3,8 Juta Warga Dunia Meninggal Dunia karena COVID-19

Topic:

  • Jihad Akbar

Berita Terkini Lainnya