Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Warga Swiss Tolak Proposal Pembatasan Populasi 10 Juta Jiwa
keramaian di Kota Bern, Swiss (unsplash.com/prateek_mahesh)
  • Mayoritas warga Swiss menolak proposal pembatasan populasi 10 juta jiwa, dengan 55 persen suara menentang demi menjaga stabilitas ekonomi dan hubungan dengan Uni Eropa.
  • Penentang khawatir aturan baru akan mengganggu pasar tenaga kerja yang bergantung pada pekerja asing, sementara pendukung menilai imigrasi berlebihan memicu kenaikan biaya hidup dan kemacetan.
  • Populasi Swiss kini mencapai 9,1 juta jiwa dan diperkirakan tembus 10 juta pada awal 2040-an, dengan warga asing mencakup sekitar 27 persen dari total penduduk.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Warga Swiss menolak proposal yang ingin membatasi populasi negara mereka di angka 10 juta jiwa dalam referendum pada Minggu (14/6/2026). Hasil awal menunjukkan mayoritas pemilih lebih mengutamakan stabilitas ekonomi dan hubungan dengan Uni Eropa (UE).

Keputusan ini melegakan kalangan bisnis yang mengkhawatirkan dampak pemutusan kerja sama ketenagakerjaan dengan mitra dagang utama mereka. Pemungutan suara tersebut sebelumnya sempat diprediksi akan berlangsung sangat ketat oleh berbagai lembaga survei.

1. 55 persen pemilih tolak pembatasan populasi

ilustrasi pemilihan umum (unsplash.com/ Element5 Digital)

Proyeksi awal dari lembaga penyiaran nasional SRF menunjukkan bahwa sekitar 55 persen pemilih menyatakan penolakan terhadap inisiatif tersebut. Sementara itu, porsi pemilih yang mendukung proposal ini hanya mencapai 45 persen.

Proposal tersebut digagas oleh Partai Rakyat Swiss atau SVP yang merupakan partai sayap kanan terbesar di parlemen. Partai tersebut meminta pemerintah membatasi jumlah penduduk agar tidak melewati angka 10 juta jiwa sebelum tahun 2050.

Aturan ini juga mewajibkan pemerintah mengambil tindakan pengetatan izin tinggal jika populasi menyentuh 9,5 juta jiwa. Jika batas 10 juta jiwa terlampaui selama dua tahun berturut-turut, Swiss harus membatalkan perjanjian pergerakan bebas dengan UE. Pemerintah federal dan parlemen sejak awal sudah menyatakan penolakan terhadap ide pembatasan ini.

2. Pro dan kontra rencana pembatasan populasi Swiss

bendera Swiss (unsplash.com/thiagoandf)

Para penentang proposal menilai aturan baru ini bisa mengacaukan perekonomian. Pasalnya, Swiss sangat bergantung pada pekerja asing untuk sektor penting seperti kesehatan, pariwisata, dan farmasi.

"Masyarakat merasa khawatir dengan konsekuensi negatif terhadap pasar tenaga kerja dan hubungan kita dengan Uni Eropa," ujar Urs Bieri, peneliti dari firma jajak pendapat GFS Bern, The Straits Times.

Di sisi lain, kubu pendukung menilai gelombang imigrasi tidak terkendali telah membuat negara tersebut menjadi terlalu padat. Menurut mereka, kedatangan warga asing memicu lonjakan harga sewa rumah, kemacetan lalu lintas, dan beban berat pada layanan publik.

Anggota parlemen dari SVP menuduh imigran menjadi dalang di balik penurunan kualitas hidup warga lokal. Namun, argumen tersebut dibantah oleh politisi sayap kiri yang menilai masalah perumahan sebenarnya disebabkan kelemahan regulasi.

3. Populasi Swiss diprediksi capai 10 juta jiwa pada 2040-an

bendera Swiss. (unsplash.com/Alex Presa)

Saat ini, jumlah penduduk Swiss telah mencapai 9,1 juta jiwa dan tumbuh jauh lebih cepat dibanding negara tetangganya. Berdasarkan data resmi, populasi negara tersebut diprediksi akan menyentuh angka 10 juta jiwa pada awal tahun 2040-an.

Warga negara asing saat ini membentuk sekitar 27 persen dari total keseluruhan populasi di Swiss. Berbeda dengan negara Eropa lain, sebagian besar imigran yang menetap di negara ini berasal dari sesama wilayah Eropa.

"Imigrasi yang tidak terkendali membuat Swiss tidak lagi terlihat seperti Swiss yang asli," tutur Nils Fiechter, politisi muda dari Partai Rakyat Swiss, dilansir BBC.

Sejak Swiss membuka perbatasan bagi pekerja UE pada tahun 2002, jumlah penduduk naik hingga 23 persen. Lonjakan ini terjadi seiring dengan pertumbuhan ekonomi negara yang meningkat sebesar 24 persen pada periode yang sama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article