Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

WFP Pangkas Bantuan Pangan untuk Warga Gaza Imbas Krisis Dana

4 min read
WFP Pangkas Bantuan Pangan untuk Warga Gaza Imbas Krisis Dana
truk World Food Programme (Alex Blokha, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
  • WFP memangkas bantuan pangan Gaza sekitar sepertiga sejak Oktober akibat krisis dana, mengurangi penerima dari 1,6 juta menjadi 1,1 juta orang dan memangkas jatah keluarga.
  • Pemotongan mencakup paket makanan, porsi dapur umum, bantuan tunai, serta frekuensi distribusi di wilayah sulit dijangkau; setengah juta orang berisiko kehilangan akses bantuan penting menjelang musim dingin.
  • Sebanyak 1,4 juta warga Gaza menghadapi kerawanan pangan krisis atau lebih buruk; WFP membutuhkan 450 juta dolar AS untuk operasi Gaza dan Tepi Barat hingga Maret 2027.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Program Pangan Dunia atau World Food Programme (WFP) mengumumkan pemangkasan bantuan pangan bagi warga di Jalur Gaza sekitar sepertiga akibat kekurangan dana, Senin (19/10/2026), setelah pemotongan tersebut mulai diberlakukan sejak Oktober. Pemotongan bantuan darurat tersebut berdampak pada setengah juta orang yang kehilangan akses bantuan pangan penting menjelang musim dingin.

Berdasarkan keterangan resmi WFP, lembaga di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu kini hanya menyalurkan bantuan kepada 1,1 juta orang rentan di Gaza dari sebelumnya 1,6 juta orang pada bulan lalu. Selain pengurangan jumlah penerima bulanan, jatah bantuan bagi keluarga penerima juga dipotong menjadi setengahnya.

  1. 1. Dampak pemotongan jatah makanan bagi warga

    ilustrasi antrean penerimaan makanan gratis
    ilustrasi antrean penerimaan makanan gratis (unsplash.com/Michael Ali)

    Keluarga yang menerima bantuan kini hanya mendapatkan satu paket makanan dari yang sebelumnya dua paket, disertai kantong tepung gandum berukuran lebih kecil. Pembagian makanan hangat harian di dapur umum juga berkurang dari 250 ribu porsi menjadi 150 ribu porsi. Bagi keluarga di wilayah sulit dijangkau, termasuk di dekat garis batas kendali militer Israel atau yellow line, bantuan makanan hangat kini hanya dibagikan dua hari sekali.

    WFP juga mengurangi nilai bantuan uang tunai yang disalurkan kepada 75 ribu keluarga. Dilansir The Guardian, dampak pemotongan ini langsung dirasakan oleh Alaa Sarhan, mantan tenaga paramedis penerima tunjangan difabel yang tinggal di tenda dekat yellow line bersama istri dan lima anaknya. Sarhan mengungkapkan bahwa keluarganya terpaksa merencanakan pola makan berdasarkan apa yang tersedia, bukan apa yang ingin mereka makan.

    "Sering kali, aku merelakan bagian makananku agar anak-anakku bisa makan, dan aku terbiasa melakukan ini karena yang paling penting adalah mereka memiliki makanan," tutur Sarhan. Untuk mencegah pemutusan bantuan pangan secara penuh terhadap setengah juta orang, WFP berupaya menerapkan skema rotasi bantuan dengan memprioritaskan kelompok paling rentan. Kendati demikian, WFP memperingatkan bahwa pemotongan jatah tidak akan efektif bagi keluarga paling miskin dan pengurangan sekecil apa pun tetap berisiko mendorong mereka kembali ke tingkat malanutrisi berbahaya.

  2. 2. Krisis kerawanan pangan dan ancaman malanutrisi

    anak-anak Gaza di kamp pengungsi
    anak-anak Gaza di kamp pengungsi (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

    Laporan WFP mencatat sekitar 1,4 juta orang atau 67 persen populasi Gaza menghadapi kerawanan pangan tingkat krisis atau lebih buruk (fase tiga IPC ke atas). Dari jumlah tersebut, sebanyak 200 ribu orang berada pada fase empat atau kondisi darurat yang membutuhkan pasokan bantuan segera guna mencegah kematian akibat kelaparan. Situasi makin berat karena tingkat pengangguran di Gaza melampaui 80 persen, sehingga banyak keluarga tidak mampu membeli pangan bergizi.

    Kelompok anak-anak dan para ibu menjadi pihak yang paling rentan terhadap krisis pangan berkepanjangan ini. Survei UNICEF menemukan satu dari delapan anak di Gaza mengalami kekurangan gizi kronis. Sementara itu, data WFP menunjukkan hanya satu dari lima anak yang mengonsumsi variasi makanan yang cukup. Di sisi lain, sebagian besar lahan pertanian Gaza diduduki militer Israel, fasilitas irigasi rusak, dan nelayan dilarang melaut oleh angkatan laut Israel.

    Perwakilan dan Direktur WFP untuk Palestina, Shaun Hughes, menyatakan perbaikan ketahanan pangan yang sempat diraih sangat mudah goyah. "Ini adalah capaian yang sangat rapuh, mudah berbalik, dan situasinya masih brutal," tegas Hughes. Warga Gaza lainnya, Nesreen Muqayed, seorang perempuan berusia 50 tahun pengidap sakit ginjal, menuturkan persediaan tepungnya telah habis dan sayur serta buah telah menjadi barang mewah yang tidak mampu dibeli keluarganya secara teratur.

  3. 3. Kebutuhan pendanaan WFP dan tantangan operasional

    Pengungsi memikul karung tepung bantuan WFP
    Pengungsi memikul karung tepung bantuan WFP (Al Jazeera English, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)

    WFP menyatakan membutuhkan dana mendesak sebesar 450 juta dolar AS atau setara Rp8,12 triliun untuk menopang operasi penting di Gaza dan Tepi Barat selama enam bulan ke depan hingga Maret 2027. Penurunan anggaran terjadi setelah pemotongan dana bantuan luar negeri oleh Amerika Serikat serta krisis biaya hidup dan kejenuhan donatur internasional. Sebelumnya, kucuran dana tunai lebih dari 30 juta poundsterling atau setara Rp721,83 miliar per bulan sempat menopang daya beli sektor swasta di Gaza.

    Pelaksana Tugas Direktur Eksekutif WFP, Carl Skau, menegaskan penurunan distribusi semata-mata dipicu oleh berkurangnya dana donasi, bukan hambatan pengiriman atau menurunnya kebutuhan warga. "Saya ingin memperjelas: ini bukan karena kebutuhan berkurang, dan bukan karena kami tidak mampu membawa masuk makanan. Ini semata-mata karena pendanaan kami berkurang," ungkap Skau saat taklimat PBB. Skau menambahkan bahwa WFP hanya mencatat tiga insiden gangguan pengiriman bantuan logistik selama masa perang.

    Di luar kendala dana, operasional di Gaza terhambat pembatasan pasokan bahan bakar serta mahalnya sewa gudang akibat kerusakan bangunan pasca serangan udara. Skau juga menyebut pengiriman komersial ke Gaza sempat terhenti selama lima hari sehingga mendorong kenaikan harga bahan makanan. Kekurangan anggaran global ini turut memaksa WFP memangkas setengah bantuan pangannya di Tepi Barat dari 400 ribu menjadi 200 ribu orang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More