Duta Besar Belanda untuk Indonesia Marc Gerritsen. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
Penghormatan kepada Arie dan para jurnalis yang hilang juga menjadi pengingat mengenai risiko yang dihadapi pekerja media ketika menjalankan tugas. Mariana menyebut, sebagian fotografer yang karyanya dipamerkan menghadapi situasi berbahaya untuk membawa sebuah cerita kepada publik.
Dalam sambutannya, Duta Besar Belanda untuk Indonesia Marc Gerritsen juga menyoroti risiko yang dihadapi jurnalis. Ia mengatakan kebebasan pers merupakan salah satu prioritas hak asasi manusia bagi Belanda.
“Jurnalisme tidak selalu merupakan profesi yang aman. Memberitakan kebenaran dapat menimbulkan konsekuensi yang berat. Beberapa jurnalis menghadapi ancaman kekerasan,” kata Gerritsen.
Ia juga menyinggung jurnalis yang mempertaruhkan nyawa ketika meliput bencana alam. Menurutnya, Kedutaan Besar Belanda di Indonesia mendukung organisasi-organisasi jurnalis di Indonesia dan memandang pers sebagai institusi penting dalam demokrasi.
Sementara itu, Mariana mengatakan, kondisi kebebasan pers di dunia saat ini membuat kerja jurnalis semakin penting. Ia mengutip laporan Reporters Without Borders yang menyebut situasi kebebasan pers berada dalam kondisi yang lebih buruk dibandingkan 20 tahun terakhir.
Mariana juga menyebut data Committee to Protect Journalists yang mencatat 129 jurnalis dan pekerja media tewas pada tahun sebelumnya. Menurutnya, sebagian besar korban berasal dari Palestina, sementara banyak jurnalis lainnya terluka atau dipenjara di berbagai wilayah dunia.
“Dalam masa perang, krisis, dan meningkatnya tren misinformasi, membela kebebasan pers menjadi semakin mendesak,” ujar Mariana.
Ia mengatakan, pameran World Press Photo juga menjadi ruang untuk menghormati keberanian para fotografer dan jurnalis yang mendokumentasikan berbagai cerita. Menurutnya, pekerjaan mereka memungkinkan publik melihat, memahami, dan terhubung dengan kehidupan orang-orang yang mungkin tidak pernah mereka temui.
Dalam kesempatan itu, Uni juga mengingatkan pekerjaan jurnalistik perlu berjalan bersama perhatian terhadap keselamatan. Ia menilai ruang redaksi memiliki tanggung jawab untuk memastikan keamanan jurnalis, termasuk fotojurnalis, ketika menjalankan tugas.
“Tidak ada pekerjaan jurnalistik, termasuk fotografi, yang sepadan dengan sebuah nyawa. Tidak ada pekerjaan jurnalistik yang lebih berharga daripada sebuah nyawa,” kata Uni.
Peringatan tersebut menjadi salah satu pesan yang mengiringi pembukaan World Press Photo 2026 di Jakarta. Di tengah puluhan karya yang merekam konflik, krisis, dan kehidupan manusia dari berbagai penjuru dunia, nama Arie Basuki kembali disebut sebagai pengingat bahwa di balik setiap foto jurnalistik terdapat seorang manusia yang bekerja untuk menjadi saksi.