World Press Photo Sorot Hilangnya Arie Basuki saat Liput Anak Krakatau

World Press Photo 2026 di Jakarta mengenang Arie Basuki dan jurnalis lain yang masih hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.
Arie pernah meraih penghargaan World Press Photo Contest 2024, sementara lima jurnalis tersebut menjalankan tugas bersama tiga awak kapal.
Pembukaan pameran menyoroti risiko kerja jurnalistik dan pentingnya keselamatan jurnalis saat mendokumentasikan berbagai peristiwa.
Jakarta, IDN Times - Pameran World Press Photo 2026 di Jakarta dibuka dengan momen penghormatan kepada jurnalis yang kehilangan nyawa maupun masih hilang ketika menjalankan tugas. Salah satu nama yang disebut adalah fotojurnalis Indonesia Arie Basuki.
Manajer Pameran sekaligus Kurator World Press Photo, Mariana Rettore Baptista, mengenang Ari dalam pembukaan pameran di Erasmus Huis, Jakarta, Jumat (25/9/2026). Arie merupakan salah satu dari lima jurnalis Indonesia yang hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.
Arie disebut pernah meraih penghargaan dalam World Press Photo Contest 2024. Hingga kini, ia masih dinyatakan hilang bersama sejumlah jurnalis lainnya setelah menjalankan tugas jurnalistik di tengah situasi bencana tersebut.
Mariana menyampaikan penghormatan kepada Arie dan para jurnalis lain yang masih hilang. Ia juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga mereka.
“Sebelum saya mulai, saya ingin menyampaikan bahwa fotojurnalis Indonesia, Arie Basuki, masih hilang bersama jurnalis lainnya. Kelompok tersebut hilang ketika meliput erupsi Gunung Anak Krakatau,” kata Mariana, Jumat (25/8/2026).
1. Arie Basuki pernah raih penghargaan World Press Photo

Manajer Pameran sekaligus Kurator World Press Photo, Mariana Rettore Baptista. (IDN Times/Marcheilla Ariesta) Mariana kemudian mengingat kembali keterkaitan Arie dengan World Press Photo. Karya Arie pernah mendapatkan penghargaan dalam World Press Photo Contest 2024, sehingga namanya memiliki hubungan khusus dengan ajang fotografi jurnalistik tersebut.
Ia mengatakan, World Press Photo Foundation menyampaikan keterkejutan dan kesedihan atas kehilangan tersebut. Yayasan juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga seluruh jurnalis yang masih hilang.
Penyebutan nama Arie menjadi bagian dari pembukaan pameran yang tahun ini kembali mempertemukan publik dengan karya-karya fotojurnalistik dari berbagai belahan dunia. Di balik karya yang dipamerkan, World Press Photo juga mengingatkan adanya risiko yang dihadapi para pekerja media ketika mendokumentasikan sebuah peristiwa.
“World Press Photo Foundation menyampaikan keterkejutan dan kesedihan kami atas kehilangan ini dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga semua orang yang masih hilang,” ujar Mariana.
Pesan tersebut kemudian berkelindan dengan tema utama pameran World Press Photo 2026. Sebanyak 42 cerita pemenang dipilih dari lebih dari 57 ribu karya visual yang dikirimkan 3.747 fotografer dari 141 negara.
Karya-karya tersebut mendokumentasikan konflik, krisis kemanusiaan, migrasi, perubahan iklim, protes, hingga berbagai bentuk resiliensi. Foto-foto itu menjadi rekaman atas peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia melalui sudut pandang para fotografer yang berada di lapangan.
2. Lima jurnalis hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau

Editor in Chief IDN Times, Uni Lubis dalam pembukaan pameran World Press Photo 2026 di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. (IDN Times/Marcheilla Ariesta) Pemimpin Redaksi IDN Times, Uni Lubis juga mengangkat kembali kisah lima fotojurnalis Indonesia yang hilang ketika menjalankan tugas jurnalistik dalam pembukaan pameran. Ia mengajak para tamu untuk menundukkan kepala dan mendoakan mereka.
Selain Arie Basuki dari Merdeka.com, nama yang disebut Uni adalah M. Bagus Khoirunnas dari LKBN Antara, Yudistiro Pranoto dari INews, Firdaus Wajdi dari Anadolu Agency, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas.
Uni mengatakan, kelima jurnalis tersebut menjalankan tugas untuk menjadi saksi atas bencana dan tragedi kemanusiaan. Mereka juga berada bersama tiga awak kapal yang membawa rombongan tersebut.
“Marilah kita menundukkan kepala dan berdoa untuk lima jurnalis Indonesia yang hilang ketika menjalankan tugas jurnalistik mereka meliput erupsi Anak Krakatau, bersama tiga awak kapal yang membawa mereka,” katanya.
Menurut Uni, pengalaman melihat karya-karya yang dipamerkan membuatnya teringat pada para foto jurnalis yang bekerja untuk menangkap, melaporkan, dan menghadirkan berbagai sisi kehidupan manusia.
Ia mengatakan, fotografi jurnalistik memiliki kemampuan untuk menjadi saksi atas sebuah peristiwa. Hal itu dinilai semakin penting ketika batas mengenai apa yang dapat disebut sebagai sebuah gambar terus berubah.
“Dalam satu tahun ketika batas-batas mengenai apa yang disebut sebagai sebuah gambar sedang diuji seperti belum pernah terjadi sebelumnya, pameran ini mengingatkan kita dengan sangat jelas mengenai apa yang dapat dilakukan fotografi pada kondisi terbaiknya: menjadi saksi,” ujarnya.
Bagi Uni, foto jurnalistik bukan sekadar menghasilkan gambar. Ada proses panjang di belakang sebuah foto, mulai dari keberadaan fotografer di lokasi, waktu yang dihabiskan untuk menunggu, hingga risiko yang harus dihadapi ketika mendokumentasikan sebuah peristiwa.
Karena itu, ia menekankan keselamatan jurnalis harus menjadi perhatian di ruang redaksi. Menurutnya, tidak ada pekerjaan jurnalistik yang nilainya lebih tinggi daripada keselamatan hidup seorang jurnalis.
3. Keselamatan jurnalis jadi sorotan

Duta Besar Belanda untuk Indonesia Marc Gerritsen. (IDN Times/Marcheilla Ariesta) Penghormatan kepada Arie dan para jurnalis yang hilang juga menjadi pengingat mengenai risiko yang dihadapi pekerja media ketika menjalankan tugas. Mariana menyebut, sebagian fotografer yang karyanya dipamerkan menghadapi situasi berbahaya untuk membawa sebuah cerita kepada publik.
Dalam sambutannya, Duta Besar Belanda untuk Indonesia Marc Gerritsen juga menyoroti risiko yang dihadapi jurnalis. Ia mengatakan kebebasan pers merupakan salah satu prioritas hak asasi manusia bagi Belanda.
“Jurnalisme tidak selalu merupakan profesi yang aman. Memberitakan kebenaran dapat menimbulkan konsekuensi yang berat. Beberapa jurnalis menghadapi ancaman kekerasan,” kata Gerritsen.
Ia juga menyinggung jurnalis yang mempertaruhkan nyawa ketika meliput bencana alam. Menurutnya, Kedutaan Besar Belanda di Indonesia mendukung organisasi-organisasi jurnalis di Indonesia dan memandang pers sebagai institusi penting dalam demokrasi.
Sementara itu, Mariana mengatakan, kondisi kebebasan pers di dunia saat ini membuat kerja jurnalis semakin penting. Ia mengutip laporan Reporters Without Borders yang menyebut situasi kebebasan pers berada dalam kondisi yang lebih buruk dibandingkan 20 tahun terakhir.
Mariana juga menyebut data Committee to Protect Journalists yang mencatat 129 jurnalis dan pekerja media tewas pada tahun sebelumnya. Menurutnya, sebagian besar korban berasal dari Palestina, sementara banyak jurnalis lainnya terluka atau dipenjara di berbagai wilayah dunia.
“Dalam masa perang, krisis, dan meningkatnya tren misinformasi, membela kebebasan pers menjadi semakin mendesak,” ujar Mariana.
Ia mengatakan, pameran World Press Photo juga menjadi ruang untuk menghormati keberanian para fotografer dan jurnalis yang mendokumentasikan berbagai cerita. Menurutnya, pekerjaan mereka memungkinkan publik melihat, memahami, dan terhubung dengan kehidupan orang-orang yang mungkin tidak pernah mereka temui.
Dalam kesempatan itu, Uni juga mengingatkan pekerjaan jurnalistik perlu berjalan bersama perhatian terhadap keselamatan. Ia menilai ruang redaksi memiliki tanggung jawab untuk memastikan keamanan jurnalis, termasuk fotojurnalis, ketika menjalankan tugas.
“Tidak ada pekerjaan jurnalistik, termasuk fotografi, yang sepadan dengan sebuah nyawa. Tidak ada pekerjaan jurnalistik yang lebih berharga daripada sebuah nyawa,” kata Uni.
Peringatan tersebut menjadi salah satu pesan yang mengiringi pembukaan World Press Photo 2026 di Jakarta. Di tengah puluhan karya yang merekam konflik, krisis, dan kehidupan manusia dari berbagai penjuru dunia, nama Arie Basuki kembali disebut sebagai pengingat bahwa di balik setiap foto jurnalistik terdapat seorang manusia yang bekerja untuk menjadi saksi.

![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)















