Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

World Press Photo 2026 Ajak Publik Pahami Dunia Lewat Foto Jurnalistik

6 min read
World Press Photo 2026 Ajak Publik Pahami Dunia Lewat Foto Jurnalistik
Manajer Pameran sekaligus Kurator World Press Photo, Mariana Rettore Baptista. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
  • World Press Photo 2026 di Jakarta menghadirkan 42 karya pemenang dari ribuan karya visual fotografer di berbagai negara.

  • Pameran mengangkat konflik, krisis kemanusiaan, krisis iklim, perlawanan, resiliensi, dan tradisi melalui cerita di balik foto.

  • Pengunjung diajak memperlambat konsumsi informasi, memahami konteks, serta membicarakan kebebasan pers dan isu global.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa yang paling penting saat melihat foto jurnalistik?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Ponsel membuat masyarakat bisa mengetahui peristiwa di berbagai belahan dunia hanya dalam hitungan detik. Namun, derasnya arus informasi juga membuat orang mudah berpindah dari satu berita ke berita lain tanpa benar-benar memahami cerita di baliknya.

World Press Photo mencoba menawarkan pengalaman yang berbeda melalui pameran fotografi jurnalistik di Jakarta. Alih-alih melihat gambar sambil menggulir layar, pengunjung diajak berhenti sejenak, membaca keterangan foto, mengenali fotografer, dan memahami cerita yang sedang disampaikan.

Pameran World Press Photo 2026 dibuka di Erasmus Huis, Jakarta, pada Jumat (25/9/2026). Pameran tersebut berlangsung hingga 24 Oktober 2026 dan menampilkan 42 karya pemenang Kontes World Press Photo ke-69.

Karya-karya tersebut dipilih dari 57.376 karya visual yang dibuat 3.747 fotografer dari 141 negara. Foto-foto yang ditampilkan merekam beragam peristiwa global, mulai dari konflik dan krisis kemanusiaan hingga perlawanan, resiliensi, dan tradisi yang jarang mendapat perhatian.

Manajer Pameran sekaligus Kurator World Press Photo, Mariana Rettore Baptista, mengatakan pameran tidak hanya dimaksudkan untuk menampilkan foto yang kuat secara visual. Setiap karya juga membawa cerita nyata yang menurutnya penting diketahui publik.

“World Press Photo mengemban misi memperjuangkan kebebasan pers dan meningkatkan kesadaran terhadap situasi dunia, serta pentingnya cerita yang mengedepankan akurasi dan menggambarkan kondisi pers saat ini,” kata Mariana saat membuka pameran di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta.

  1. 1. Dari Gaza hingga krisis iklim

    IMG_1395.jpeg
    Foto salah satu pemenang World Press Photo 2026. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

    Mariana mengatakan karya-karya yang dipamerkan tahun ini menghadirkan berbagai persoalan global yang terjadi sepanjang 2025 dan dampaknya masih terasa hingga saat ini. Pameran tidak hanya berfokus pada satu wilayah atau satu jenis krisis.

    Salah satu isu yang diangkat adalah perubahan kebijakan imigrasi Amerika Serikat pada masa awal periode kedua pemerintahan Presiden Donald Trump. Pameran juga menampilkan dampak kebijakan pemangkasan bantuan luar negeri Amerika Serikat terhadap perempuan di Afghanistan dan sejumlah wilayah lainnya.

    Krisis kemanusiaan di Gaza turut menjadi bagian dari pameran. Selain itu, terdapat karya yang merekam berbagai persoalan akibat krisis iklim di Filipina, Kepulauan Pasifik, dan sejumlah wilayah lain di dunia.

    Bagi Mariana, keberagaman isu tersebut justru penting karena persoalan global tidak selalu berdiri sendiri. Kebijakan yang terjadi di satu negara dapat memiliki dampak terhadap masyarakat di tempat lain.

    “Sebagai kurator, sangat penting bagi saya untuk memastikan bahwa saya menciptakan sebuah alur cerita,” ujarnya.

    Ia mencontohkan persoalan di Afghanistan dapat memiliki keterkaitan dengan peristiwa dan kebijakan di Amerika Serikat. Karena itu, penyusunan pameran tidak dilakukan hanya berdasarkan tema secara terpisah, tetapi juga mempertimbangkan hubungan antara satu cerita dengan cerita lainnya.

    Penempatan foto dan penyusunan alur pameran dirancang agar pengunjung dapat melihat keterkaitan tersebut. Dengan cara itu, foto diharapkan tidak berhenti sebagai gambar yang menarik perhatian, tetapi menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan yang lebih luas.

    Salah satu karya yang disoroti Mariana adalah foto fotografer Saber Nuraldin mengenai Gaza. Menurut dia, karya tersebut dapat membantu pengunjung memahami skala dan besarnya krisis kemanusiaan yang dihadapi masyarakat Gaza.

  2. 2. Foto jurnalistik di tengah era media sosial

    IMG_1393.jpeg
    Foto salah satu pemenang World Press Photo 2026. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

    Mariana menilai pengalaman melihat foto jurnalistik secara langsung memiliki perbedaan dengan kebiasaan masyarakat mengonsumsi informasi melalui telepon seluler. Di media sosial, sebuah gambar dapat muncul, dilihat dalam beberapa detik, lalu digantikan oleh konten berikutnya.

    Melalui pameran, pengunjung justru diajak memperlambat proses tersebut. Mereka dapat melihat foto secara utuh, membaca keterangan yang menyertainya, mengetahui nama fotografer, dan memahami konteks cerita yang didokumentasikan.

    Menurut Mariana, seluruh foto yang ditampilkan merupakan karya fotografer profesional yang bekerja dengan standar tinggi dalam foto jurnalistik dan jurnalistik. Cerita yang dihadirkan juga merupakan peristiwa nyata yang dinilai penting untuk diketahui publik.

    “Kami ingin masyarakat terhubung dengan cerita yang kami sampaikan melalui foto-foto ini. Kami ingin mereka terlibat dengan isu kebebasan pers dan kisah orang-orang yang direpresentasikan dalam foto-foto tersebut,” katanya.

    Proses seleksi yang dilakukan juga tidak sederhana. Dari lebih dari 57 ribu karya visual yang masuk, hanya sebagian yang kemudian dipilih sebagai karya pemenang dan ditampilkan dalam pameran.

    Karena itu, Mariana mengajak pengunjung tidak memperlakukan pameran seperti mengonsumsi berita di layar ponsel. Ia justru menyarankan masyarakat meluangkan waktu untuk melihat setiap karya dan mempertanyakan cerita yang ada di baliknya.

    “Melihat pameran ini merupakan kesempatan untuk berhenti sejenak, berefleksi, mengajukan pertanyaan, melihat keterangan foto, membaca nama fotografer, dan benar-benar berinteraksi dengan media serta berita masa kini dengan cara yang berbeda,” ujar Mariana.

    Ia juga mendorong pengunjung datang bersama teman atau orang lain agar pengalaman melihat karya dapat dilanjutkan dengan percakapan. Menurutnya, berdiskusi mengenai foto dan cerita yang ditampilkan dapat membantu publik memahami persoalan secara lebih mendalam.

    “Saya menyarankan untuk datang bersama teman, meluangkan waktu, mendiskusikan cerita-cerita tersebut, mengajukan pertanyaan, dan benar-benar berhenti sejenak untuk menjadikannya pengalaman bersama,” katanya.

  3. 3. Jakarta jadi lokasi tunggal pameran World Press Foto di Asia Tenggara

    IMG_1414.jpeg
    Manajer Pameran sekaligus Kurator World Press Photo, Mariana Rettore Baptista. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

    Pameran World Press Photo 2026 di Jakarta juga memiliki arti khusus karena Indonesia menjadi satu-satunya lokasi di Asia Tenggara yang menjadi tempat penyelenggaraan pameran tersebut tahun ini.

    Mariana mengatakan kondisi tersebut memberikan kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk melihat secara langsung karya-karya foto jurnalistik dari berbagai belahan dunia. Pameran juga menjadi ruang untuk membicarakan isu global melalui medium visual.

    “Ini merupakan sebuah keistimewaan untuk dapat menjadi tuan rumah pameran seperti ini, membicarakan isu-isu tersebut dan melihat foto-foto pemenang di satu-satunya tempat di Asia Tenggara yang saat ini menampilkan pameran ini,” kata Mariana.

    Menurut dia, kehadiran pameran di Jakarta memungkinkan publik Indonesia melihat beragam cerita dan tema melalui karya foto jurnalistik yang telah melalui proses seleksi. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperluas cara masyarakat memahami peristiwa yang terjadi di luar lingkungan mereka.

    Duta Besar Belanda untuk Indonesia Marc Gerritsen mengatakan, World Press Photo yang didirikan di Belanda pada 1955 memiliki misi memperjuangkan kekuatan jurnalistik foto di seluruh dunia. Menurutnya, organisasi tersebut berupaya memperdalam pemahaman, mendorong dialog, dan menginspirasi aksi.

    “World Press Photo, yang didirikan di Belanda pada tahun 1955, memperjuangkan kekuatan jurnalistik foto di seluruh dunia. Mereka memiliki tujuan memperdalam pemahaman, mendorong adanya dialog, dan menginspirasi aksi. Kami bangga dapat mendukung kebebasan pers di mana pun,” kata Gerritsen.

    Mariana menambahkan, kekuatan pameran tidak hanya terletak pada aspek visual dari karya-karya yang ditampilkan. Foto-foto tersebut juga membawa cerita dari orang-orang yang berada di tengah berbagai peristiwa besar dunia.

    “Yayasan World Press Photo percaya pada kekuatan gambar untuk mendorong dialog, meningkatkan kesadaran, dan menginspirasi perubahan,” ujarnya.

    Menurut Mariana, kumpulan foto tersebut sekaligus menjadi ajakan untuk memperhatikan kebebasan berekspresi dan kebebasan pers. Ia menilai karya-karya tersebut merupakan rekaman kondisi dunia yang dilihat melalui lensa fotografer yang dalam menjalankan pekerjaannya kerap menghadapi risiko.

    Pameran World Press Photo 2026 di Jakarta tidak hanya menawarkan kumpulan foto pemenang kepada pengunjung. Pameran tersebut juga menjadi ruang untuk melihat kembali bagaimana berita diproduksi, siapa yang berada di balik kamera, dan bagaimana sebuah gambar dapat membawa cerita tentang manusia serta persoalan yang terjadi di berbagai belahan dunia.

    Melalui pengalaman melihat foto secara langsung, pengunjung diajak untuk tidak sekadar mengetahui bahwa sebuah peristiwa terjadi, tetapi meluangkan waktu untuk memahami konteks dan dampaknya. Pameran berlangsung di Erasmus Huis hingga 24 Oktober 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More