Comscore Tracker

[OPINI] Millennial Jangan Apatis Politik

Kalau bukan kita, siapa lagi?

Memasuki tahun politik pada 2019 mendatang, hawa persaingan pemilihan presiden sudah dirasakan sejak beberapa bulan lalu. Pesta demokrasi yang akan dilaksanakan pada April 2019 ini akan dilaksanakan secara serentak baik tingkat legislatif maupun eksekutif.

Pemilihan presiden kali ini bukan masalah duel yang pernah terjadi pada 2014 silam, namun bagaimana agar Indonesia memilih pemimpin terbaik untuk bangsa Indonesia dalam mengikuti kemajuan global yang begitu cepat dan dinamis.

Generasi millennial atau kalangan muda seringkali dianggap apatis apabila berkaitan dengan politik, mereka kerap kali menyatakan bahwa politik itu kotor. Benarkah demikian?

Politik memang dekat dengan kekuasaan dan untuk mendapatkannya tidak jarang mereka menghalalkan segala cara demi kekuasaan semata. Apabila kondisi tersebut terus berlangsung, maka siapa yang akan mengakhiri siklus tersebut kalau bukan kalangan muda?

1. Jumlah pemilih milennial yang banyak akan mempengaruhi total suara

[OPINI] Millennial Jangan Apatis Politikunsplash.com/Julián Gentilezza

Suara millennial yang sangat potensial ini memang menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap peserta pemilu, menurut Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi Titi Anggraini, sebanyak 40 persen dari 171 daerah partisipan pilkada serentak 2018 merupakan pemilih pengguna yang notabene adalah millennial.

40 persen bukan angka yang kecil, melainkan hampir setengan pemilih berasal dari golongan muda. Hal ini tentu menjadi PR besar bagi instansi terkait untuk meningkatkan minat politik anak muda supaya tepat dalam berpolitik sebagai pemilih serta untuk menghindari kesempatan golput saat pemilu berlangsung.

2. Pemilu merupakan gerbang menuju arah perbaikan

[OPINI] Millennial Jangan Apatis Politikunsplash.com/Element5 Digital

Pemilu bukan hanya persaingan semata antar dua atau lebih kubu, makna dari pemilu sejatinya lebih luas daripada itu. Pemilu bagaikan sebuah cara dalam memilih seorang nahkoda kapal, pilihlah nahkoda terbaik agar kapal bisa berlabuh dan mengarungi lautan dengan baik.

Lewat pemilu juga kita dapat "menghukum" yang telah gagal dalam periode sebelmunya dan memberi suara kita kepada yang lebih baik dan siap untuk memimpin.

Kondisi sebuah bangsa ditentukan oleh rakyat itu sendiri, jangan hanya menuntut untuk terjadinya perbaikan namun tidak jeli pada saat memilih pemimpin dan wakil rakyat. Perlu jeli supaya tidak salah dan menyesali keputusan untuk 5 tahun yang akan datang.

3. Kalau bukan kita, siapa lagi?

[OPINI] Millennial Jangan Apatis Politikunsplash.com/rawpixel

Sudah saatnya millennial gak apatis lagi terhadap politik, politk memang jahat dan kejam namun tidak semuanya. Poltik pada dasarnya hanyalah ilmu, pelaku politik justru yang membuatnya menjadi kotor dan jahat. Mau tidak mau, suka tidak suka kehidupan politk akan terus berjalan dan milennial menjadi salah satu penentu keberhasilan pemilu mendatang.

Saatnya menuju arah yang lebih baik, dimulai dari diri kita masing-masing, kalau bukan kita lalu siapa lagi?

Baca Juga: [OPINI] Antara Hoax dan Millennial, Apa yang Harus Ditakuti?

Agung Destian Putra Photo Community Writer Agung Destian Putra

Merangkai sebuah kata menjadi tulisan yang informatif merupakan definisi menulis bagi saya.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You