Comscore Tracker

Hutan Dibabat Habis, Perubahan Iklim Bertumbuh Masif 

Pentingnya kesadaran menjaga hutan 

Pernah mendengar sebutan Indonesia sebagai paru-paru dunia? Pasti, dong. Sejak bersekolah, sebutan Indonesia sebagai paru-paru dunia sudah di luar kepala. Sebutan tersebut bukan tanpa alasan, lantaran Indonesia sebagai salah satu pemilik luas hutan terbesar di dunia.

Kekayaan berupa hutan hujan tropis menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasokan terbesar oksigen bagi Bumi. Jenis hutan hujan tropis dapat ditemui di wilayah khatulistiwa dengan karakter hutan basah dan lembap. Selain Indonesia terdapat negara lain dengan kekayaan hutan hujan topis seperti Brasil, Kongo, Peru, Madagaskar, dan Kolombia.

Berjuta manfaat didapatkan dari karakter hutan hujan tropis yang terkadang tidak sadar didapatkan oleh penduduk di Bumi. Mulai dari pasokan oksigen, menjaga kestabilan iklim, hingga tempat tinggal beragam spesies untuk menjaga keseimbangan alam.

Sayangnya, upaya perlindungan hutan tidak sejalan di lapangan. Praktik deforetasi terus dilakukan oleh berbagai korporasi demi mengeruk keuntungan pribadi. Sudah tahu, dong akibatnya gimana akibatnya kalau kita kehilangan hutan? Aduh, menjawabnya saja tidak sanggup. Saatnya 1000 Aspirasi Indonesia Muda menyuarakan persoalan besar ini.

Meningkatnya deforetasi, meluasnya dampak kerusakan ekologi

Deforetasi atau penggundulan hutan telah dilakukan dalam beberapa dekade terakhir. Mengutip dari Kompas, sekitar 420 juta hektare hutan telah musnah sejak tahun 1990. Alasan utamanya adalah pertanian.

Indonesia menjadi salah satu dari lima negara teratas dunia yang kehilangan banyak area hutan selama dua dekade terakhir. Menurut data dari Global Forest Watch, Indonesia kehilangan 9,75 juta hektar hutan primer antara tahun 2002 dan 2020. Hampir 80 persen kebakaran hutan terjadi untuk pembukaan lahan kelapa sawit.

Pada tahun 2016, rekor 929.000 hektare hutan musnah, tetapi telah terjadi penurunan laju deforestasi yang stabil sejak saat itu. Pada tahun 2020, angka deforestasi tahunan turun menjadi 270.000 hektar. Mesi terjadi penurunan, kemungkinan deforetasi akan tetap ada selama tidak adanya kesadaran dari akar rumput hingga pemimpin mengenai fungsi hutan dalam keseimbangan alam.

Hutan mempunyai fungsi utama sebagai tempat penyimpanan karbon dalam jumlah besar. Penelitian yang dilakukan Seymour, F. & Busch, J. berjudul Why Forests? Why Now? The Science, Economics, and Politics of Tropical Forests and Climate Change membenarkan bahwa hutan tropis mengandung kira-kira 470 milyar ton karbon.

Deforetasi masif menyebabkan jumlah karbondioksida (CO2) yang dilepaskan ke udara semakin besar. Hal ini berakibat pada pertukaran uap air dan karbondioksida yang terjadi antara atmosfer dan permukaan tanah yang berkaitan dengan terjadinya perubahan iklim.

Perubahan konsentrasi udara di lapisan atmosfer akan berefek langsung terhadap iklim dunia. Hutan mempunyai peran utama mengatur iklim bumi dengan cara menyerap dan menyimpan karbondioksida dari atmosfer. Karbondioksida yang terlepas bebas dalam jumlah besar ke atmosfer akan berkontribusi terhadap perubahan iklim.

Selain itu, hutan sebagai habitat bermacam spesies hewan dan tumbuhan akan rusak dan lenyap akibat pembabatan habis yang dilakukan tanpa ada upaya perbaikan berkelanjutan. Hewan dan tumbuhan yang bergantung pada ekosistem hutan perlahan mati bahkan dapat menimbulkan kepunahan massal.

Kondisi ini akan berdampak di berbagai sektor lain, seperti pendidikan dan penelitian yang akan kehilangan objek kajian karena spesies yang diteliti tidak dapat ditemukan kembali. Hingga di sektor kesehatan, deforestasi dapat berpotensi pada hilangnya berbagai jenis obat yang bersumber dari flora, fauna, serangga atau burung-burung yang telah mati akibat rusaknya ekologi dalam hutan.

Melestarikan hutan merupakan tugas kita bersama

Sebagian korporasi tidak bertanggung jawab atas kerusakan yang ditimbulkannya, tentunya tidak sebanding dengan dampak buruk dari hilangnya hutan dan perubahan iklim yang menimpa orang-orang miskin dan terpinggirkan.

Inilah saat yang tepat untuk membangun kesadaran pentingnya hutan bagi kehidupan dalam KTT G20 ke-17 yang sejalan dengan tema Recover Together, Recover Stronger. Presidensi G20 Indonesia yang akan diselenggarakan di Bali pada 15--16 November 2022 nanti dapat menjadi jembatan dan wadah bagi permasalahan penggundulan hutan yang berakibat pada perubahan iklim.

Dukungan berbagai pihak demi mewujudkan penanaman hutan kembali merupakan elemen penting untuk keberlanjutan kualitas hidup yang lebih baik. Deforetasi dapat terjadi apabila longgarnya regulasi.

Penguatan regulasi merupakan kewajiban pemerintah agar upaya deforestasi tidak terus berlanjut. Perubahan iklim menjadi permasalahan serius yang amat sulit diatasi, kecuali ada komitmen penuh menjaga hutan. Sebab, kita tidak mungkin bisa mengatasi perubahan iklim tanpa melindungi hutan.

Baca Juga: IKN Nusantara Membangun Kota dalam Hutan 

Dina Stevany Photo Verified Writer Dina Stevany

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Ananda Zaura
  • Cynthia Kirana Dewi

Berita Terkini Lainnya