Comscore Tracker

Menjadi Batu di Masa Pandemik

#SatuTahunPandemik COVID-19

Kick off pandemik COVID-19 di negeri ini dimulai ketika Presiden Jokowi mengumumkan dua kasus pertama pada 2 Maret 2020. Korbannya dua warga Depok yang tinggal hanya berapa kilometer dari rumah saya.

Sampai saat ini saya masih menduga dua kasus itu sebenarnya bukan kasus pertama. Sebab WHO menyebut virus corona sudah menjalar sejak Desember 2019, tiga bulan sebelum ditemukan di Indonesia.

Dalam bayangan saya ketika itu, pasti ada kasus-kasus COVID-19 lain yang tidak terdeteksi yang telah menjalar dan menginfeksi ke mana-mana. Tapi itu hanya dugaan saja.

Dugaan yang membuat saya bergidik ngeri. Apalagi informasi mengenai COVID-19 sempat simpang siur. Bahkan ada yang menyebut COVID-19 produk konspirasi global!

Jadi, alih-alih mencerahkan, informasi yang beredar pada awal-awal COVID-19 justru menambah ketidakjelasan sekaligus kecemasan.

Ya, ketidakjelasan memang menjadi persoalan lain selain COVID-19 itu sendiri, termasuk ketidakjelasan kebijakan pemerintah menangani COVID-19.

Setidaknya begitu menurut abang saya. Dia musisi sekaligus pengusaha rental sound system. Usahanya terkatung-katung karena ketidakjelasan selama pandemik.

Sebab hampir semua event-nya dibatalkan. Ia sempat tersenyum saat pemerintah meniadakan PSBB, tapi senyum tersebut sontak lenyap saat pemberlakukan pembatasan sosial kembali diberlakukan.

"Amsyong," gerutunya.

Sebab tak ada event berarti tak ada duit masuk. Padahal dia punya dua anak yang harus disuapi. Biaya sekolah, meski tidak tatap muka, juga tetap harus dilunasi.

Teman saya yang membuka kedai juga harus gigi jari. Padahal kedainya baru buka beberapa pekan ketika gelombang COVID-19 menggulung harapannya. Kini kedainya tutup. Sementara tagihan sewa ruko terus berjalan. Cerita menyedihkan lain juga datang dari teman SMA yang harus menutup showroom mobil bekasnya.

"Gimana mau bertahan kalau sebulan ini aja gak ada mobil yang laku satu pun," katanya saat saya telepon.

Banyak cerita menyedihkan lain, tapi tidak ada yang lebih perih dari kabar meninggalnya sahabat yang pergi karena terpapar COVID-19.

Saat itu baru terasa betapa COVID-19 begitu dekat. Apalagi saat ibu saya  mendadak dipanggil Allah, meski kepergiannya bukan karena COVID-19, tapi sangat mengguncang saya.

Sebab ibu adalah tempat saya berbagi masalah, tempat saya bercerita, tempat saya menimba berkah, tempat saya ngutang, tempat segala-galanya.

Kepergiannya yang mendadak di tengah pandemik menggoreskan duka yang teramat dalam sekaligus menyadarkan saya betapa rapuhnya kehidupan.

Tapi hidup harus terus berjalan, meski dalam bayang-bayang virus corona yang masih merajalela, meski dalam bayang-bayang rasa kehilangan.

Namun saya bersyukur karena tidak mengalami krisis finansial akibat pandemik. Sebab perusahaan tempat saya bekerja masih stabil, begitu pun tempat istri saya.

Tapi ada satu hal yang membuat saya waswas, yakni kesehatan bapak. Dia sudah tua dengan sederet penyakit: jantung, diabetes, dan ginjal. Bapak sangat rawan jika terpapar virus corona.

Sehingga, sepeninggal ibu, saya harus membagi waktu antara menjaga bapak dengan keluarga kecil saya.Untuk itu saya tinggal di dua rumah dalam sepekan, yakni rumah saya dan rumah bapak. Anak dan istri terpaksa mengikuti ritme ini. Bukan hal yang mudah karena jarak antara rumah saya dengan rumah bapak lumayan jauh. Selain itu istri saya juga harus bekerja dan anak saya harus sekolah.

Butuh waktu berpekan-pekan bagi kami untuk akhirnya terbiasa dengan ritme yang sejujurnya sangat melelahkan dan menguras emosi serta pikiran ini.

Sementara virus corona tak juga melandai. Sebarannya justru semakin meluas dan korban yang berjatuhan semakin masif. Pada saat yang sama, tekanan kerja tak berkurang.

Rasa takut terpapar virus corona, rasa kehilangan ibu, serta situasi kerja yang kadang kurang kondusif berimbas buruk pada psikologi saya.

Saya merasa lebih sering marah selama pandemik. Untungnya saya punya kebiasaan diam atau tidur kalau lagi marah. Jadi marah bisa diredam di kasur. Tapi persoalan gak selesai di ranjang, kan?

Teman-teman sering keliru mengira saya ini jarang marah. Padahal sebaliknya. Hanya saja saya selalu berusaha menertawakan kemarahan saya. Dan percayalah, itu gak mudah. Sebab menahan dan meredam kemarahan itu jauh lebih menyiksa dibanding menahan buang air besar ketika diare.

Ibu saya pernah bilang kalau emosi itu seperti api. Ia gampang menyebar dan apa yang dibakarnya gak akan pernah sama lagi. Pesan itu gak hanya mujarab meredam emosi, tapi juga menjadikan hidup saya lebih tenang, lebih ayem, lebih nrimo di masa-masa sulit seperti ini.

"Sebab emosi gak akan menghasilkan apapun kecuali emosi itu sendiri," begitu kata almarhumah ibu.

Dulu saya juga diajarkan untuk selalu melompat lebih tinggi, berlari lebih cepat, dan meraup lebih banyak. Pandemik membuat saya belajar melepaskan, merelakan, mengikhlaskan. Karena Tuhan menciptakan tangan bukan hanya untuk menggenggam.

Cerita teman-teman yang terdampak pandemik juga membuat saya belajar untuk lebih berempati, lebih mendengarkan, lebih melihat persoalan dari mata mereka sendiri.

Sebab hari-hari ini sepertinya saya semakin kehilangan empati. Saya merasakannya saat membaca angka-angka kematian akibat COVID-19 yang terus bertambah.

Angka-angka tersebut seharusnya membuat saya takut atau setidaknya terharu. Tapi saya membaca berita tersebut seperti membaca berita politik.

Mungkin karena kabar kematian akibat COVID-19 sudah begitu biasa sehingga saya menyikapinya dengan datar saja. Sesuatu yang rutin akan menjadi kelaziman, begitu kira-kira.

Inilah yang membuat saya takut. Sebab yang lazim di sini adalah berita kematian yang jumlahnya bukan lagi belasan atau puluhan, melainkan ribuan. Sebab, ketika kasus demi kasus kematian hanya menjadi statistik, ketika kabar kematian tak lagi mengusik kesedihan dan rasa kemanusiaan, ketika itu saya merasa telah menjadi batu.

Semoga ini hanya perasaan saya saja. Semoga... semoga... semoga... saat pendemik berakhir kita masih menjadi manusia yang lebih menghargai kehidupan dan sesama.

#SatuTahunPandemik adalah refleksi dari personel IDN Times soal satu tahun virus corona menghantam kehidupan di Indonesia. Baca semua opini mereka di sini.

Baca Juga: Setahun Pandemik, IDI: Indonesia Belum Lewati Gelombang Pertama 

Topic:

  • Umi Kalsum

Berita Terkini Lainnya