TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

[OPINI] Apakah Intoleransi Suatu Hal yang Wajar?

Berikut adalah intoleransi dari sudut pandang psikologi

Unsplash/ayahya09

Beberapa tahun ini telah terjadi banyak peristiwa yang sangat menarik untuk diamati, terutama pada permasalahan diskriminasi dan rasisme. Diskriminasi seolah-olah menjadi suatu hal yang wajar di Indonesia, meskipun semboyan Negara Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika atau memiliki arti 'berbeda-beda tetapi tetap satu'. Beberapa minggu yang lalu telah terkuak mengenai kejadian intoleransi dalam institusi pendidikan yang ternyata sudah cukup lama mewabah di Indonesia, bahwa siswi beragama non-muslim dipaksa oleh pihak sekolah negeri untuk menggunakan hijab.

Banyak kejadian intoleransi lainnya yang terjadi pada waktu dekat ini, seperti pembubaran kegiatan kebaktian, penyerangan terhadap tempat ibadah, tindakan terorisme, dan lain sebagainya. Bahkan, kasus intoleransi pun dapat diamati tidak hanya di dalam negeri namun juga di luar negeri, contohnya seperti peristiwa Black Lives Matter, persekusi terhadap etnis Asia di Eropa karena pandemi COVID-19, Islamophobia di negara-negara barat, dan lain sebagainya. Mengapa intoleransi banyak terjadi dan apa yang harus dilakukan agar dunia mampu menerima perbedaan? Artikel ini akan membahas diskriminasi terutama dari sisi psikologi sosial :

Teori In-Group Favoritism

Unsplash/markusspiske

Salah satu teori yang cukup terkenal di ilmu psikologi sosial adalah in-group favoritism yang dikemukakan oleh William Sumner pada tahun 1906. In-group favoritism atau biasa disebut intergroup bias adalah sebuah teori yang menjelaskan bahwa manusia memiliki tendensi untuk lebih menyukai anggota kelompoknya sendiri daripada anggota kelompok lainnya, kelompok dalam hal ini mengacu pada perkumpulan manusia.

William Sumner mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang selalu membentuk sebuah kelompok secara alamiah, namun manusia juga cenderung merasa bangga dan menganggap diri mereka dan kelompoknya lebih hebat daripada manusia lain yang bukan termasuk kelompok mereka. 

Baca Juga: [OPINI] Benarkah Digitalisasi Meruntuhkan Media Cetak?

Teori Aversive Racism

Pixabay/StockSnap

Berbeda dengan teori in-group favoritism, teori aversive racism mempelajari tentang rasisme secara khusus. Teori ini berkembang pada Tahun 1980-an setelah perang Vietnam. Gerakan anti-perang dan pro-perdamaian juga semakin banyaknya kaum terpelajar menyebabkan tindakan rasisme terhadap kaum minoritas mulai berkurang di Amerika Serikat. Kaum muda pada era tersebut mulai memandang bahwa semua manusia memiliki hak yang sama tidak peduli warna kulit, etnisitas, maupun agama.

Meskipun demikian, diskriminasi tetap tertanam dalam alam bawah sadar kaum muda pada masa itu. Aversive racism adalah sebuah kecenderungan untuk melakukan rasisme meskipun tidak secara terus-terang. Orang yang melakukan Aversive Racism seringkali tidak merasa rasis dan menghormati perbedaan, namun mereka secara tidak sadar juga menjauhi kaum minoritas dan kadang kala memiliki prasangka buruk terhadap kaum minoritas.

Teori Authoritarian Personality

Pexels/Daniel Reche

Teori ini dikemukakan oleh Adorno et al pada Tahun 1950 setelah perang dunia II telah usai. Theodore Adorno adalah seorang profesor psikologi beretnis Yahudi yang melarikan diri dari Jerman saat Adolf Hitler dan Partai Nazi berkuasa. Adorno berusaha menganalisa mengapa seseorang maupun suatu kelompok tertentu merasa lebih superior daripada orang atau kelompok lain agar kejadian seperti Holocaust yang telah membunuh jutaan etnis Yahudi tidak kembali terjadi di masa depan.

Adorno dan peneliti lainnya menemukan bahwa sifat fasis dan diskriminatif terjadi sebagai akibat kumpulan pengalaman-pengalaman yang dialami seseorang pada masa kecil. Adorno et al menjelaskan bahwa didikan orang tua sangat berpengaruh terhadap masa depan anak, di mana orang tua yang keras terhadap anak secara tidak sadar membuat anak mewajarkan kekerasan dan akan membenci orang lain yang tidak sesuai dengan ajaran yang diperolehnya sejak kecil. Kepribadian yang muncul saat anak tersebut tumbuh dewasa adalah kepribadian fasis dan biasanya berideologi sayap kanan. 

Similarity/Attraction Theory

Unsplash/sharonmccutcheon

Teori ini diciptakan pada Tahun 1969 oleh Berscheid dan Walster. Teori ini menyatakan bahwa seseorang cenderung menyukai orang yang mirip dengan mereka, baik dari perilaku, kepercayaan, ras, maupun karakteristik lainnya. Kita menyukai orang lain yang mirip dengan kita karena kita menjadi lebih mudah berkomunikasi dan mengembangkan kedekatan dengan mereka. Penelitian juga membuktikan bahwa beberapa orang dalam suatu pertemanan lebih mirip dalam hal kepribadian dibandingkan orang lain. 

Baca Juga: [OPINI] 500 Days of Summer, Menilik Perpisahan dari Dua Sudut Pandang

Writer

Nyana Vaddhano

Mahasiswa Kewirausahaan di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya