Comscore Tracker

WFH, Allhamdulillah, Menang Dua Lomba Jurnalistik

#SatuTahun Pandemik COVID-19

Medan, IDN Times - Gak ada yang pernah menyangka tahun 2020 akan kita lewati dengan kondisi seberat ini. Pandemik COVID-19 benar-benar menimbulkan rasa khawatir. Gak disangka ada banyak nyawa yang melayang sejak Maret 2020, kasus pertama ada di Indonesia. Hingga setahun berlalu sudah lebih sejuta orang terdata positif COVID-19.

Kekhawatiran menguat, takut jika virus itu juga menyerang keluarga. Dua abang ipar yang berada di luar kota sempat didiagnosis positif. Untungnya mereka tanpa gejala dan bisa melewati ujian itu dengan baik.

Tidak hanya rasa khawatir dan takut, virus itu juga membatasi ruang gerak. Sepanjang 2020 aku memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Diterapkannya kebijakan Work From Home (WFH) oleh kantor membuatku jadi akrab dengan suasana rumah. Biasanya sebelum pandemik, keluar di pagi hari jelang siang menuju kantor. Lalu pulang hampir dini hari. Begitu seterusnya. 

Ya, pekerjaan sebagai jurnalis memang membuatku harus selalu siaga. Sejak 2008 aku bergelut dengan aktivitas itu. Merencanakan liputan, mengejar narasumber, menulisnya, membacanya saat terbit dan siklus itu berulang terus setiap hari. Apalagi sejak 2019, aku bergabung dengan media digital, IDN Times, yang mengharuskan sikap update dan standby. Aku harus selalu mengecek telepon seluler dan memandangi layar laptop.

Biasanya hanya punya sedikit waktu untuk main dengan dua orang anakku Khaylila dan Alana. Lalu dengan mamanya? Ada waktunya dong. Tidak mungkin aku ceritakan di sini. Hehehe... Sebelum pandemik, aku hanya sering main dengan mereka di hari Sabtu atau Minggu. Saat kerjaan sedikit longgar dan hari libur. Tapi sejak sering di rumah, bawaannya pengin main terus dengan mereka.

Satu bulan hingga dua bulan berlalu, rasanya masih nyaman untuk tetap di rumah saja. Tapi di bulan seterusnya, aku sudah rindu beraktivitas di luar. Terutama untuk kerja di kantor.

Entah kenapa aku memang lebih suka bekerja di kantor. Lebih konsentrasi. Kalau di rumah, rasanya ingin main sama anak terus. Apalagi dengan Alana yang baru berumur 2 tahun kini. Dia sering merengek manja duduk di pangkuan saat aku berada di depan laptop, rasanya gak tega untuk gak menggendong. Belum lagi kalau dia nangis. Mesti dibawa keliling komplek lalu disogok dengan permen atau es krim. Aku menikmati saat-saat seperti itu.

Aku menunggu-nunggu kapan kebijakan kantor menerapkan kembali bekerja dari kantor. Tapi sepertinya situasi pandemik yang masih berlanjut dan kasus positif bertambah banyak, membuatku dan rekan sekantor lain harus memaklumi keputusan tersebut.  Itu demi kebaikan bersama.

Tapi memang rasa jenuh selalu muncul saat harus bekerja di rumah saja. Terkadang aku memberanikan diri keluar rumah untuk bekerja di kafe. Biasanya nyari kafe yang sepi, tapi hotspot-nya ada. Satu lagi yang penting, murah. 

Sesekali ajak teman untuk nongkrong sambil kerja di sana. Karena gak dipungkiri kita butuh teman ngobrol. Selain bersama keluarga, aku merasa happy kalau jumpa teman. Tapi tetap harus selalu menggunakan masker dan membawa cairan untuk cuci tangan. Kalau pulang pun harus mandi dulu sebelum masuk kamar.

Selain itu di masa pandemik ada saja kejutan-kejutan yang hadir. Baik suka maupun duka. Misalnya ada beberapa teman yang kini tak lagi berada di bawah bendera yang sama. Pembatasan anggaran peliputan membuat beberapa tak lagi bisa bergabung. Ada empat yang tak lagi sekantor meski status mereka memang freelance. Tentu ada rasa kehilangan karena biasanya kami berjuang bersama-sama membesarkan media ini.

Kabar duka lain hadir dari teman-teman di bulan kedua  2021. Baru saja ada teman di Jawa Tengah yang harus kehilangan buah hati keempatnya dipanggil menghadap Yang Maha Pencipta. Sulit rasanya membayangkan rasa kehilangan itu. Masih belum hilang duka, teman sesama editor di Surabaya juga harus pergi untuk selamanya. Meski hanya sekali bertemu di acara tahunan kantor, aku mengaguminya lewat tulisan-tulisannya yang dibaca hingga jutaan orang.

Tidak hanya kejutan yang bikin kecewa, tapi juga ada yang gembira. Dua rekan sekantor di Medan, dianugerahi anak selama pandemik. Mungkin karena kelamaan di rumah mungkin. Ups, Hehehe. Selain itu kejutan dan keberuntungan lainnya, saya memenangkan dua lomba jurnalistik pada 2020. Hadiahnya laptop, dan satu lagi voucher. Hadiah yang bikin senang istri. Hitung-hitung nambah uang beli susu katanya.

Harapanku keadaan normal kembali. Program vaksinasi aku harapkan bisa jadi solusi agar tahun 2021  bisa melakukan hal-hal menyenangkan yang sudah aku  rindukan. Misalnya traveling ke luar kota hingga main bola tanpa perlu rasa was-was dan menyaksikan lagi sepak bola bergulir dengan normal dengan suara-suara riuh suporter di tribun. 

Saku rindu mengobrol tanpa masker. Tak ragu berjabat tangan dan berpelukan. Semoga kita bisa bersilaturahim tanpa ada batas lagi. Aku juga janji untuk lebih sering kumpul dengan keluarga tanpa harus karena alasan corona. Amin...

Baca Juga: Kabar Duka hingga Debat Hoaks di Keluarga

Topic:

  • Ernia Karina

Berita Terkini Lainnya