Comscore Tracker

"Virus Ambisi", Bikin Ambyar Dunia Nyata hingga Dunia Maya

Opini tentang anak-anak yang jadi "korban ambisi" orangtua

“Kok anakku kemarin menang di Lomba A, bisa kalah di Lomba B?  Mereka gak tahu aja, anak saya udah nyanyi di banyak event dan lomba bahkan udah rekaman empat album loh...”   

So, what gitu loh? Salah satu lirik lagu penyayi Saykoji yang bisa menjawab dengan menohok pertanyaan ini. Selintas kita merasa ini wajar terjadi. Hanya saja jika ini membuat si anak gak nyaman dengan sikap orangtuanya, ini yang bikin gawat alias “ambyar.”

Selalu merasa si anak paling hebat. Sudah sering menang lomba, skill nyanyi si anak yang paling keren sampai les nyanyi ke beberapa tempat les yang pastinya bikin anak bingung. Iya, gak sih? Karena masing-masing coach punya cara ngajar skill nyanyi yang berbeda-beda juga.

Ini yang sering dicap “korban ambisi” orangtua. Saya mengamati dari setiap ajang lomba nyanyi di Kota Padang. Bukan pada satu ajang saja, namun hampir semua ajang lomba nyanyi di Kota Padang ini, ada unsur magic dari persatuan emak-emak tanpa nama ini, ya sebut aja emak rempong.

Mereka lahir bukan disengaja namun mewakili ambisi dari hati, tapi ambisi hati emak rempong. Kalau sudah selesai lomba, mereka sama-sama menghujat juri. Parahnya lagi tidak berhenti di saat itu saja, malah lanjut di dunia maya. Seperti sudah direncanakan, emak rempong saling tag akun facebook. Isi kolom komentar dari status yang dibuat oleh salah satu emak rempong, berisi komentar pedas berupa hujatan buat juri yang tidak pantas di posting lewat media sosial.

Ternyata ini tidak terjadi di daerah saja, tetapi juga terjadi di beberapa kota besar, salah satunya Jakarta. Jakarta sebagai representatif ajang lomba nyanyi bahkan pencarian bakat talenta muda. Masih ada saja yang komplain atas hasil penjurian dan sering protes ke panitia lomba.

Flashback nih, guys. Ketika saya sharing dengan Kang Arvin Zeinullah yang dikenal sebagai pelatih vocal di Gita Svara (Jakarta), pelatih paduan suara mahasiswa Unpad dan IPB, serta influencer bagi perkembangan paduan suara mahadiswa di Indonesia via direct message (DM) Instagram beberapa waktu lalu. Kurangnya kesadaran orangtua kalau namanya lomba pasti ada yang menang dan ada yang kalah, tidak mau mengevaluasi apa yang jadi kekurangan penampilan anak karena terlalu merasa anaknya perfect, tapi yang paling penting di sini orangtua tidak menyadari yang lomba adalah sang anak, bukan orangtuanya.

Sharing singkat via DM tersebut, membuka cakralawa kisi-kisi menyembuhkan "virus ambisi " ini, antara lain perlu diberikan bacaan atau tulisan terkait juri yang dipilih dalam suatu ajang lomba nyanyi atau seni dipilih berdasarkan kredibilitas, independen, tidak bisa di intervensi serta mempunyai pengalaman di bidang masing-masing.

Pengalaman ini tidak ada di bangku sekolah. Ini juga yang harus disadari oleh orangtua bahwa anak jika ingin berhasil jadikanlah kekalahan sebagai bagian pengalaman mereka. Bukan di saat menang saja sang anak baru dibanggakan. Ajari mereka sportifitas dan menghargai proses, tidak ada yang instan untuk bisa mewujudkan mimpi mereka menjadi penyanyi profesional. Kuncinya berlatih dan berlatih... Exercise makes perfect ...

"Tolong kamu cam kan itu....”  Salah satu lirik lagu dari Virgoun dapat mewakili tulisan ini agar orangtua di luar sana yang masih belum aware dan menyadari akan sindrom "virus ambisi" bisa lebih bijak dalam mendukung talenta anak-anak mereka. Bukan karena ambisi orangtua semata. 

Eda Elysia Photo Writer Eda Elysia

Mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Ernia Karina

Berita Terkini Lainnya