Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Harga BBM Naik lagi, Rakyat Kecil Bisa Apa? Ini Efek Nyatanya
ilustrasi SPBU (unsplash.com/jason song)
  • Kenaikan harga BBM memicu efek domino pada biaya produksi, distribusi, dan harga kebutuhan pokok, membuat masyarakat kecil menanggung beban inflasi tanpa perlindungan memadai.
  • UMKM menjadi korban paling terdampak karena tidak punya ruang efisiensi, sementara kelas menengah terjepit antara tidak mendapat bantuan dan pengeluaran yang terus meningkat.
  • Jargon 'subsidi tepat sasaran' belum terbukti efektif di lapangan karena data penerima bantuan masih bermasalah dan implementasinya belum mampu melindungi kelompok rentan secara nyata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setiap pemerintah mengumumkan harga BBM naik, selalu ada satu ritual yang tidak pernah berubah. Apakah itu? Ya, benar langsung muncul pernyataan resmi penuh jargon "subsidi tepat sasaran”

Tak lama, sederetan ekonom yang muncul di layar kaca menenangkan publik, lalu keesokan harinya harga sembako ikut melar tanpa diundang. Kali ini pun tidak berbeda kecuali bahwa kelompok yang dulu masih bisa menyesuaikan diri, kini mulai kelimpungan juga. Kenapa tak pernah belajar, ya? Simak uraiannya berikut ini!

1. Harga BBM naik, semua harga ikut antri naik

ilustrasi belanja di pasar (unsplash.com/Falaq Lazuardi)

BBM bukan sekadar soal bensin di motor atau solar di truk distribusi. Ia adalah tulang punggung dari hampir seluruh rantai produksi dan distribusi di Indonesia. Ketika harganya naik, biaya angkut naik, biaya produksi naik, dan pada akhirnya harga di warung, di toko kelontong, dan di pasar tradisional pun ikut naik tanpa permisi, tanpa negosiasi.

Mekanismenya sederhana dan sudah hafal semua orang, yakni BBM naik → ongkos angkut naik → harga bahan baku naik → pengusaha menaikkan harga jual → konsumen membayar lebih mahal. Ini bukan teori tinggi dari buku teks ekonomi—ini logika dasar yang bisa dijelaskan di meja warung kopi. Namun, herannya, setiap kali kebijakan ini diumumkan, seolah-olah siklus ini tidak pernah ada dalam lembar kerja pemerintah atau sudah ada, tapi dengan catatan kaki yang berbunyi "biar pasar yang menyesuaikan." Lantas yang jadi masalah, "pasar yang menyesuaikan" artinya rakyatlah yang harus adjust, bukan BUMN yang neraca keuangannya masih bisa napas panjang, bukan kontraktor besar yang sudah punya tim manajemen risiko, dan tentu saja bukan para pengambil kebijakan yang tunjangannya tidak ikut terdampak inflasi.

2. UMKM ialah korban pertama yang paling sering dilupakan

ilustrasi UMKM (unsplash.com/Jun low)

Kalau mau jujur, yang paling cepat merasakan efek domino kenaikan BBM bukan perusahaan besar yang punya tim keuangan canggih dan bisa melakukan lindung nilai. Tapi yang paling telak kena adalah para pelaku UMKM seperti pedagang gorengan, warung makan kecil, usaha laundry kiloan, jasa ojek, dan ribuan jenis usaha rakyat lainnya. Mereka tidak punya pilihan mewah seperti "efisiensi operasional" atau "restrukturisasi biaya."

Pilihan mereka cuma dua, yakni menaikkan harga dan risiko kehilangan pelanggan, atau mempertahankan harga dan perlahan-lahan merugi. Tidak ada opsi ketiga yang lebih elegan daripada itu. UMKM menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja Indonesia. Ketika sektor ini kelojotan, angka pengangguran yang sedang berusaha keras dijaga pemerintah itu pun mulai berdenyut mengancam. Tapi entah kenapa, setiap kali kebijakan BBM dibahas, UMKM selalu disebutkan di paragraf terakhir.

3. Kelas menengah yang terlalu kaya untuk dapat bansos, terlalu miskin untuk tidak terdampak

ilustrasi kelas menengah (unsplash.com/Gema Saputera)

Ada kelompok masyarakat yang nasibnya paling tanggung dalam skema kenaikan BBM. Yup, siapa lagi kalau bukan kelas menengah. Mereka tidak masuk daftar penerima Bantuan Langsung Tunai, tidak berhak atas berbagai skema kompensasi sosial, tapi pendapatan riil mereka nyata-nyata tergerus inflasi yang mengikuti kenaikan BBM. Ketika harga BBM naik, pengeluaran harian mereka membengkak, tapi gaji tidak ikut naik.

Angsuran KPR tetap segitu, cicilan kendaraan tetap segitu, tagihan listrik malah cenderung melar. Maka yang terjadi kemudian adalah penghematan dan penghematan massal. Inilah yang menjadi bencana senyap bagi perekonomian. Konsumsi rumah tangga selama ini menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, menyumbang lebih dari 53 persen terhadap PDB. Ketika kelas menengah mulai memangkas belanja, efeknya merambat ke mana-mana: restoran makin sepi, pusat perbelanjaan lesu, bisnis ritel babak belur. Ekonomi bergerak lebih lambat, tapi pasti, dan paling terasa bagi yang paling bawah.

4. "Subsidi tepat sasaran"selalu jadi jargon keren yang eksekusinya masih belepotan

ilustrasi isi BBM (unsplash.com/Visual Karsa)

Pemerintah selalu punya jawaban yang sama untuk setiap kritik soal kenaikan BBM, yakni subsidi harus tepat sasaran, tidak bisa dinikmati semua golongan tanpa pandang bulu, ini demi keadilan fiskal dan keberlanjutan anggaran. Secara teori, argumen itu tidak sepenuhnya salah. Tapi masalahnya ada di tataran eksekusi. Apakah BLT dan kompensasi yang dijanjikan benar-benar sampai ke tangan yang tepat, tepat waktu, dan dalam jumlah yang cukup untuk menutup dampak inflasi berkepanjangan? Apakah sistem data terpadu kita sudah seakurat itu sehingga tidak ada yang salah sasaran?

Kenyataan di lapangan sering bercerita berbeda. Ada yang berhak, tapi tidak dapat. Ada yang tidak berhak tapi tetap dapat. Dan ada yang dapat, tapi nilai kompensasinya tidak sebanding dengan lonjakan harga kebutuhan sehari-hari yang terus berlanjut bahkan setelah berita kenaikan BBM tidak lagi ramai diperbincangkan di media. Pemerintah boleh bangga dengan desain kebijakannya di atas kertas. Tapi kalau implementasinya masih tambal-sulam dan data penerima bantuannya masih perlu diperbarui setiap beberapa tahun sekali, maka "subsidi tepat sasaran" masih lebih banyak hidup sebagai narasi daripada sebagai kenyataan.

5. Pemerintah boleh hitung fiskal, tapi jangan lupa hitung rakyatnya

ilustrasi rakyat (unsplash.com/Tyler Morgan)

Bukan berarti kenaikan harga BBM tidak pernah bisa dibenarkan. Subsidi BBM yang menguras APBN memang bukan solusi jangka panjang yang ideal. Ini argumen yang masuk akal. Tapi sebuah kebijakan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari neraca keuangan negara. Ia harus dilihat dari dampaknya terhadap kehidupan nyata masyarakat yang paling rentan. Ketika daya beli turun, permintaan domestik melemah.

Ketika permintaan melemah, dunia usaha lesu berinvestasi. Ketika investasi melambat, lapangan kerja tidak bertumbuh sebagaimana yang diharapkan. Ini bukan ramalan pesimis dari kelompok yang tidak suka kebijakan pemerintah, ini siklus yang sudah terdokumentasi dan berulang. Pemerintah bisa saja mengatakan inflasi masih terkendali, pertumbuhan ekonomi masih di angka yang solid, dan daya beli relatif terjaga. Tapi angka makro itu tidak selalu berbicara soal apa yang terjadi di meja makan keluarga kelas menengah bawah yang terpaksa mengganti lauk dengan yang lebih murah, atau pedagang bakso yang diam-diam mengecilkan porsinya supaya harga jualnya tidak berubah karena kalau naik, pelanggannya kabur.

Berani menaikkan BBM itu sebenarnya tidak terlalu sulit: cukup konferensi pers, siapkan narasi yang rapi, dan bubuhkan tanda tangan. Tapi yang jauh lebih sulit dari harga BBM naik adalah memastikan rakyat yang paling rentan tidak terlindas oleh efek domino yang pasti mengikutinya. Selama eksekusi perlindungan sosialnya masih amburadul, selama data penerima bantuannya masih bermasalah, selama komunikasi kebijakannya masih satu arah dari atas ke bawah, maka kritik akan terus ada. Rakyat bukan sekadar variabel dalam persamaan fiskal. Mereka adalah alasan mengapa negara ini berdiri dan sudah seharusnya menjadi prioritas pertama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article