ilustrasi rakyat (unsplash.com/Tyler Morgan)
Bukan berarti kenaikan harga BBM tidak pernah bisa dibenarkan. Subsidi BBM yang menguras APBN memang bukan solusi jangka panjang yang ideal. Ini argumen yang masuk akal. Tapi sebuah kebijakan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari neraca keuangan negara. Ia harus dilihat dari dampaknya terhadap kehidupan nyata masyarakat yang paling rentan. Ketika daya beli turun, permintaan domestik melemah.
Ketika permintaan melemah, dunia usaha lesu berinvestasi. Ketika investasi melambat, lapangan kerja tidak bertumbuh sebagaimana yang diharapkan. Ini bukan ramalan pesimis dari kelompok yang tidak suka kebijakan pemerintah, ini siklus yang sudah terdokumentasi dan berulang. Pemerintah bisa saja mengatakan inflasi masih terkendali, pertumbuhan ekonomi masih di angka yang solid, dan daya beli relatif terjaga. Tapi angka makro itu tidak selalu berbicara soal apa yang terjadi di meja makan keluarga kelas menengah bawah yang terpaksa mengganti lauk dengan yang lebih murah, atau pedagang bakso yang diam-diam mengecilkan porsinya supaya harga jualnya tidak berubah karena kalau naik, pelanggannya kabur.
Berani menaikkan BBM itu sebenarnya tidak terlalu sulit: cukup konferensi pers, siapkan narasi yang rapi, dan bubuhkan tanda tangan. Tapi yang jauh lebih sulit dari harga BBM naik adalah memastikan rakyat yang paling rentan tidak terlindas oleh efek domino yang pasti mengikutinya. Selama eksekusi perlindungan sosialnya masih amburadul, selama data penerima bantuannya masih bermasalah, selama komunikasi kebijakannya masih satu arah dari atas ke bawah, maka kritik akan terus ada. Rakyat bukan sekadar variabel dalam persamaan fiskal. Mereka adalah alasan mengapa negara ini berdiri dan sudah seharusnya menjadi prioritas pertama.