Comscore Tracker

Eksistensi Bahasa Indonesia di Tangan Bangsa: Perlukah Memfortifikasi?

Bahasa Indonesia patut untuk dijaga dan dipertahankan

Salah satu identitas bangsa Indonesia yang perlu dipertahankan dan dilestarikan ialah bahasa Indonesia. Sebab, bahasa Indonesia merupakan lambang identitas nasional. Bahasa Indonesia memiliki peran yang penting dalam kedudukannya sebagai bahasa negara. Salah satu peran tersebut ialah sebagai bahasa pengantar dalam dunia pendidikan. Namun, di era globalisasi saat ini, eksistensi bahasa Indonesia dinilai perlu mendapat perhatian.

Marsudi dan Zahrok (2015) menyatakan bahwa kita kerap menyaksikan penggunaan kata maupun istilah bahasa Indonesia digunakan secara bersamaan, berkombinasi, campur aduk dengan bahasa asing. Penggunaan kata itu terjadi bahkan dalam ranah pendidikan. Bukankah ada banyak istilah dalam bahasa Inggris yang lebih sering digunakan alih-alih istilah dalam bahasa Indonesianya? Padahal, kata-kata asing tersebut telah memiliki padanan dalam bahasa Indonesia yang cocok dan bermakna sama.

Dalam kaitannya dengan ranah pendidikan, Saputra (2016: 243) mengemukakan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia menjadi asing bagi penuturnya sendiri. Hal tersebut didasarkan pada kecenderungan pelajar yang lebih kompeten menggunakan bahasa asing dibanding bahasa Indonesia. Sikap berbahasa seperti ini tergambar dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ketika seseorang lebih mahir menyebut kata website dibanding situs web.

Istilah-istilah bahasa asing lain yang kerap menggantikan istilah-istilah bahasa Indonesia dalam komunikasi verbal maupun visual di antaranya kata download yang menggantikan kata mengunduh, kata link yang menggantikan kata pranala, kata slide yang menggantikan kata salindia, kata deadline yang menggantikan kata tenggat, kata briefing yang menggantikan kata santiaji, maupun kata study tour yang menggantikan kata widyawisata.

Sejatinya bahasa Indonesia telah menjawab tantangan di era globalisasi dengan melakukan penyegaran bahasa. Sebagaimana sifat bahasa yang dinamis, maka bahasa Indonesia juga berupaya memiliki kosakata yang relevan dan ekstensif untuk dapat digunakan di tengah-tengah masyarakat modern. Sayangnya, istilah-istilah dalam bahasa Indonesia yang merupakan padanan dari bahasa asing masih terdengar aneh di telinga bangsanya sendiri, bahkan terdengar elusif. Mengapa demikian? Sebab kosakata tersebut jarang diucapkan dan digunakan.

Wiyanti (2016) dalam artikelnya yang berjudul “Kemampuan Memahami Padanan Kata Bahasa Indonesia pada Peserta Kuis Olimpiade Indonesia Cerdas Season 2 di Rajawali Televisi” mengemukakan hasil penelitiannya bahwa kemampuan pemahaman padanan kata dalam bahasa Indonesia pada peserta kuis Olimpiade Indonesia Cerdas di bawah rata-rata. Lebih lanjut, Wiyanti (2016) menjelaskan bahwa dari total 18 soal, peserta hanya mampu menjawab benar 6 soal. Artinya, lebih dari 50 persen soal tidak terjawab. Hasil penelitian tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa pengetahuan akan padanan kata dalam bahasa Indonesia perlu mendapat perhatian yang khusus sebagai bagian dari problematika bahasa Indonesia.

Permasalahan itu dapat lahir karena kurangnya rasa nasionalisme berupa kecintaan terhadap bahasa Indonesia. Padahal, jika masyarakat kita sebagai penutur asli memiliki kebanggaan secara menyeluruh terhadap bahasa Indonesia, eksistensi bahasa Indonesia tidak tergerus dalam pengaruh global. Redaksi yang terlintas akan menjadi masyarakat yang bangga terhadap bahasa Indonesia, bukan masyarakat yang bangga terhadap bahasa asing.

Dalam menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bahasa Indonesia ini, pemuda Indonesia memiliki peran yang sangat penting. Sebab, menguatnya bahasa Indonesia diawali oleh pemuda melalui Sumpah Pemuda. Oleh karena itu, generasi muda seyogianya mampu merepresentasikan identitas bangsa dengan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Generasi muda bukanlah rantai pemutus dalam melestarikan bahasa Indonesia, mereka justru merupakan penghubung dalam memodernisasikan bangsanya dengan bahasa Indonesia. Generasi muda seharusnya memiliki antusiasme yang tinggi untuk memperkenalkan bahasa Indonesia kepada masyarakatnya sendiri atau bahkan dunia.

Kita sebagai generasi muda harus menanamkan terlebih dahulu kecintaan terhadap bahasa Indonesia. Kita harus bersikap lebih senang, terhormat, dan intelek ketika mampu menggunakan bahasa Indonesia, termasuk dalam lingkup pendidikan. Jika bukan kita sebagai generasi muda yang mengawali, lantas siapa lagi? Pengetahuan dan pemahaman yang kita miliki tentang bahasa Indonesia kemudian dapat kita bagikan dan sebarkan kepada bangsa kita sendiri dengan mengoptimalkan peran media digital maupun media sosial. Bukankah aneh mengetahui bahwa istilah-istilah dalam bahasa Indonesia masih terdengar asing di telinga banyak orang padahal teknologi informasi dan komunikasi terus berkembang? Sebaliknya, istilah-istilah dalam bahasa asing justru marak bermunculan, menjadi tren, serta banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kita termasuk bangsa yang menutup mata untuk memandang peluang digitalisasi, ataukah kita termasuk bangsa yang menyoroti ganjil bahasa sendiri?

Bangsa Indonesia memiliki identitas yang layak dan patut dipertahankan, yaitu bahasa Indonesia. Upaya untuk melestarikan bahasa Indonesia dan menjaganya di era globalisasi saat ini dengan memanfaatkan perkembangan teknologi memang bukan perkara yang mudah, melainkan dibutuhkan sikap konsisten dan berkelanjutan mengingat sifat bahasa yang juga dinamis. Namun, ketika bangsa Indonesia telah mampu memfortifikasi identitasnya, maka segala pengaruh budaya apapun yang masuk tidak akan membawa perubahan yang berarti. Sebab, bangsa ini telah mengenal dirinya sendiri, bangsa ini telah memegang teguh apa yang menjadi jati dirinya.

Baca Juga: [OPINI] Ketika Media Memberi Statistik dan Masyarakat Sulit Berempati

Riani Shr Photo Verified Writer Riani Shr

Menulis adalah salah satu upaya menyembuhkan yang ampuh.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya