Comscore Tracker

[OPINI] Seberapa Paham Penutur Bahasa Indonesia terhadap Bahasanya?

Sudahkah kita berbahasa Indonesia yang baik dan benar?

Siang itu, kaki melangkah memasuki sebuah studio foto demi menghadiri acara kelas yang telah direncanakan jauh hari. Namun, ruangan masih sunyi, hanya ada beberapa petugas yang berlalu-lalang merapikan studio yang ternyata baru hendak dibuka. Kaki ini lantas melangkah menuju kursi panjang di sudut ruangan untuk sekadar melepas penat setelah perjalanan dua jam dari luar kota. Sembari memejamkan mata, alunan musik perlahan mulai terdengar, dan tidak sampai hitungan satu detik, lagu bergenre RnB tersiar memenuhi ruangan, lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi muda Indonesia, lagu yang saat ini tengah viral.

Meskipun sering mendengarnya dengan tidak sengaja, baru kali ini, telinga ini bisa menikmati setiap nada dan liriknya. Eksentrik, alunannya mampu membawa kenangan dalam euforia yang khas nan istimewa. Sampai … kata perduli tiba-tiba melapik telinga, mengingatkan diri pada eksistensi bahasa Indonesia di tangan bangsanya.

Lantas, seberapa paham penutur bahasa Indonesia terhadap bahasa Indonesia itu sendiri? Kantor Bahasa Maluku dalam artikelnya yang berjudul Mengapa Bahasa Indonesia Dianggap Sulit? menjelaskan bahwa meskipun bahasa Indonesia telah diajarkan kepada masyarakat Indonesia sejak sekolah dasar, tetapi hal itu tidak lantas membuat bahasa Indonesia mudah diterapkan dalam kehidupan. Hal tersebut karena kesalahan-kesalahan dalam berbahasa Indonesia kerap kali terjadi, salah satunya disebabkan oleh kurangnya pemahaman penutur terhadap ragam bahasa baku dan tidak baku. Mayoritas masyarakat Indonesia nyatanya masih memerantakkan antara penggunaan kata baku dan tidak baku.

Simpulan tersebut dapat dibuktikan melalui adanya penggunaan bahasa tidak baku dan penggunaan kata yang keliru dalam lirik lagu Indonesia, seperti kata perduli yang merupakan kata tidak baku dari peduli. Kronisnya, penggunaan kata tidak baku maupun kata yang keliru tidak hanya ditemukan dalam satu atau dua lagu saja, tetapi beberapa lagu. Misalnya, kita kerap kali mendengar ataupun menemukan kata acuh dalam lirik lagu yang konteks kalimatnya menunjukkan makna ketidakpedulian. Padahal, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata acuh berarti peduli; mengindahkan.

Kemudian, kita juga pernah menemukan kata merubah dalam lirik lagu yang secara konteks kalimat, maknanya memang dapat dipahami oleh pendengar. Namun, secara kaidah kebahasaan, maknanya tidaklah tepat, bahkan tidak masuk akal. Merubah merupakan bentuk tidak baku dari mengubah. Kata mengubah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti menjadikan lain dari semula, sementara kata merubah jika diartikan secara logis berarti menjadi rubah (hewan).

Secara tidak langsung, penggunaan bahasa yang terdapat dalam lirik lagu ikut mengonstruksi pemahaman masyarakat akan suatu bahasa. Jika sebuah lagu melantunkan kata perduli dalam liriknya, maka masyarakat akan membenarkan kata perduli, meskipun kata itu sebenarnya bukanlah kata yang tepat dalam bahasa Indonesia. Jika sebuah lagu memaknai kata acuh dengan ketidakpedulian, maka masyarakat akan memiliki penafsiran yang sama terhadap kata acuh–bahwa acuh artinya tidak peduli–sehingga timbullah kekeliruan makna. Hal tersebut akan terus berlanjut selama lagu didengar oleh generasi baru, selama masyarakat belum mengetahui validitasnya. Mengapa? Karena lagu akan tetap bisa diputar sampai berpuluh-puluh tahun kemudian.

Problematika di atas tentunya menjadi pekerjaan kita bersama untuk terus mengeksistensikan bahasa Indonesia dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Lalu, bagaimana cara agar kita mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar? Yakni dengan memahaminya. Pemahaman terhadap bahasa Indonesia tentu sangat diperlukan bagi penutur bahasa Indonesia, sehingga bahasa Indonesia dapat tetap lestari. Pemahaman tersebut bisa didapatkan melalui pembelajaran baik secara nonformal ataupun formal.

Kamu tidak bisa mengatakan bahwa kamu mengetahui bahasa Indonesia sebelum kamu benar-benar memahaminya.”

Baca Juga: [OPINI] Kenapa Makin Banyak yang Menikah dengan Sederhana?

Riani Shr Photo Verified Writer Riani Shr

Menulis adalah salah satu upaya menyembuhkan yang ampuh.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya