Comscore Tracker

[OPINI] Sudahkah Bahagia dengan Diri Sendiri?

Berbahagialah dengan dirimu sendiri

Ada banyak hal yang membuat manusia merasa bahagia dan ada banyak alasan untuk menjawab mengapa manusia merasa bahagia. Namun, kesalahan manusia yang terjadi tanpa disadarinya ialah menggantungkan kebahagiaan itu bukan pada dirinya sendiri, melainkan kepada sesuatu hal di luar dirinya. Mengapa manusia pernah mengalami kekecewaan dan kesedihan yang teramat sangat? Salah satu jawabannya ialah karena manusia telah meletakkan kebahagiaannya di pundak manusia yang lain. Hal itu pun menjadi sebuah persoalan yang masih berusaha saya hadapi dan atasi hingga saat ini.

Ketika masa-masa yang dinilai sulit itu menghampiri dan saat semesta menginginkan saya terus bertahan tanpa melawan, saya masih bisa bahagia karena seseorang datang untuk memberikan apa yang saya butuhkan. Sesulit apapun kondisinya, kehadirannya selalu membuat saya bahagia. Selama ia tetap datang, selama itu pula saya akan tetap merasa tenang. Namun, saya melupakan bahwa sejatinya manusia adalah makhluk yang dinamis dan fana. Saya melupakan bahwa setiap orang memiliki fokusnya masing-masing. Maka, ketika kenyataan tentangnya tak sesuai dengan apa yang saya harapkan, rasa sakit dan kecewa itu lantas menjalar. Makannya, jangan menggantungkan kebahagiaan pada seseorang!

Kemudian, perkataan Epictetus dalam Discourses yang dikutip dari Filosofi Teras karya Henry Manampiring pun menari di kepala, “Siapapun yang mengingini atau menghindari hal-hal yang ada di luar kendalinya tidak pernah akan benar-benar merdeka dan bisa setia pada dirinya sendiri, tetapi akan terus terombang-ambing, terseret oleh hal-hal tersebut”. Epictetus merupakan tokoh filsuf Stoa. Filosofi Stoikisme mengajarkan kepada kita bahwa kekuatan akan didapatkan ketika manusia mampu mengendalikan hal-hal di bawah kendalinya, bukan mengendalikan hal-hal yang tidak di bawah kendalinya. Dalam filosofi Stoikisme dikenal dengan istilah dikotomi kendali (dichotomy of control), sebuah prinsip yang menegaskan bahwa terdapat hal-hal yang bisa kita kendalikan dan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan.

Saat kita menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain, maka kita telah menyela prinsip dikotomi kendali. Sebab, perasaan dan pikiran orang lain termasuk bagian dari hal yang berada di bawah kendali kita, dalam arti kita tidak mungkin dapat mengendalikannya. Oleh karena itu, kita akan merasa kecewa ketika mendapati kenyataan bahwa seseorang yang kita gantungkan kebahagiaan kita padanya tidak melakukan hal yang kita ekspektasikan darinya. Alih-alih berusaha keras mengendalikan orang lain, akan lebih mudah dan masuk akal untuk mengendalikan diri kita sendiri. Dalam konteks ini berarti menjadikan diri kita sendiri sebagai sumber kebahagiaan sejati.

Benar, kan? Bukankah melelahkan jika kita terus menerus menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain terlebih di zaman seperti saat ini? Hidup yang kita jalani seakan sesak padahal alam semesta ini luas. Belum lagi perasaan sakit dan kecewa yang akan terus menerus kita alami sebab sifat manusia itu sendiri yang bisa berubah dan tidak kekal. Menjalani hidup tanpa menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain begitu tenang, ini juga berarti bahwa kita telah mampu mencintai diri sendiri. Terlihat kan, betapa damainya orang yang telah bahagia dengan dirinya, ia akan lebih bersyukur dan lebih menerima.

Baca Juga: [OPINI] Filosofi Diam dalam Film Where The Crawdads Sing

Riani Shr Photo Verified Writer Riani Shr

Menulis adalah salah satu upaya menyembuhkan yang ampuh.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya