4 Fakta Unik Ngengat Isabella, Serangga yang Bisa Jadi Antibeku Alami

- Ngengat Isabella mampu menghasilkan antibeku alami yang melindungi tubuhnya dari pembekuan es saat musim dingin.
- Masa hidup ngengat Isabella berbeda di setiap tahap, dengan ulat dewasa hanya hidup beberapa hari hingga minggu untuk reproduksi.
- Ngengat dewasa tidak makan dan fokus pada reproduksi, serta dikenal sebagai "Peramal Cuaca" dalam cerita rakyat.
Ngengat Isabella (Pyrrharctia isabella) adalah serangga kecil yang cukup unik dan menarik perhatian sejak fase ulatnya. Saat masih berbentuk woolly bear caterpillar, tubuhnya dipenuhi bulu tebal berwarna cokelat kehitaman yang khas. Penampilannya ini membuatnya mudah dikenali dibandingkan dengan jenis ulat atau ngengat lain.
Tidak hanya dari segi tampilan, ngengat Isabella juga dikenal karena kemampuannya bertahan di kondisi alam yang ekstrem. Dari proses metamorfosis hingga trik menghadapi musim dingin, ada banyak hal menarik dari serangga ini yang jarang terungkap. Biar makin penasaran, yuk simak fakta unik ngengat Isabella berikut ini!
1. Mampu menghasilkan antibeku alami

Ngengat Isabella memiliki kemampuan luar biasa yang jarang dimiliki oleh serangga lain, yaitu mampu menghasilkan antibeku alami. Dilansir laman Scientific American, ngengat ini memproduksi senyawa cryoprotectant yang mencegah pembentukan kristal es dalam tubuhnya saat suhu turun drastis. Dengan cara ini, ngengat Isabella bisa bertahan hidup meski membeku selama musim dingin.
Protein antibeku alami pada ngengat tersebut melindungi sel dan jaringan tubuhnya dari kerusakan akibat pembekuan es. Mekanisme ini tidak hanya menghindarkan kerusakan fisik sel, namun juga menjaga kemampuan ngengat untuk kembali aktif ketika suhu menghangat di musim semi. Penemuan ini membuka peluang riset dalam pengembangan teknologi penyimpanan yang aman di suhu rendah, seperti dalam bidang medis dan pangan.
2. Masa hidupnya berbeda di setiap tahap

Faktanya, siklus hidup ngengat Isabella adalah contoh sempurna dari ironi alam. Saat berwujud ulat bulu woolly bear, mereka bisa hidup sangat lama, bahkan hingga bertahun-tahun di iklim dingin. Dilansir laman Scientific American, ulat wolly bear yang merupakan larva ngengat ini bisa hidup selama bertahun-tahun, bahkan bisa mencapai hingga 14 tahun di beberapa spesies yang hidup di daerah Arktik. Pada tahap larva, mereka aktif makan hanya selama sekitar satu bulan di musim panas, sedangkan sisanya mereka habiskan dalam keadaan beku atau dormansi selama musim dingin.
Tahap pupa dan ngengat dewasa waktunya jauh lebih singkat dibandingkan masa fase larva panjang tersebut. Setelah ulat dewasa keluar dari kepompong sebagai ngengat, mereka hanya hidup beberapa hari hingga minggu untuk melakukan reproduksi dan bertelur, kemudian siklus hidup kembali dimulai.
3. Ngengat dewasanya tidak makan

Di balik siklus hidupnya yang menakjubkan, ngengat Isabella memiliki fakta yang cukup menyedihkan. Ketika sudah mencapai tahap ngengat dewasa, mereka tidak lagi makan. Dilansir laman Raritan Headwaters, meskipun ngengat ini memiliki mulut, mereka tidak makan sebagai ngengat dewasa. Masa hidup mereka yang terbatas hanya beberapa hari dipakai untuk terbang mencari pasangan, kawin, lalu bertelur sebelum akhirnya mati.
Mereka mendapatkan energi yang dibutuhkan untuk terbang dan bereproduksi dari cadangan makanan yang disiapkan selama fase larva. Karena tidak makan di tahap dewasa, fokus utama ngengat Isabella adalah pada reproduksi agar bisa meneruskan siklus hidupnya. Fenomena ini umum pada banyak spesies ngengat dan kupu-kupu, yang mengutamakan efisiensi hidup dalam siklus pendeknya.
4. Dikenal sebagai "Peramal Cuaca" dalam cerita rakyat

Ngengat Isabella, atau Pyrrharctia isabella, khususnya pada tahap ulatnya yang dikenal sebagai woolly bear caterpillar, sudah dikenal dalam cerita rakyat sebagai "Peramal Cuaca." Dilansir laman Iowa's News Now, legenda ini menyatakan bahwa panjang dan warna pita hitam serta cokelat pada tubuh ulat tersebut dapat memprediksi seberapa parah musim dingin yang akan datang.
Semakin panjang pita hitam, semakin keras dan dingin musim dingin, sementara pita cokelat yang lebar menandakan musim dingin yang lebih ringan. Kepercayaan ini telah ada sejak zaman kolonial Amerika dan terus populer hingga kini meskipun didukung oleh penelitian yang menunjukkan hubungan ini tidak akurat.
Meski pengaruh warna pita pada prediksi cuaca tidak ilmiah, kisah ini tetap menarik dan mendekatkan masyarakat pada dunia alami. Festival-festival bahkan diselenggarakan untuk merayakan kemampuan "peramal cuaca" ini, seperti Woollybear Festival di Ohio. Cerita rakyat ini menggambarkan bagaimana masyarakat sejak lama mencoba memahami dan mengantisipasi perubahan musim melalui indera alam, meski secara ilmiah fenomena tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh faktor usia dan diet ulat daripada prediksi cuaca sebenarnya.
Ngengat Isabella memiliki kemampuan bertahan hidup yang menarik, mulai dari bulu tebal pada ulatnya hingga kemampuannya menghadapi suhu yang sangat dingin. Sifat ini membuatnya berbeda dari serangga lain dan menarik untuk dipelajari, terutama terkait bagaimana makhluk kecil bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ekstrem.