7 Fakta Kolibri Gunung Berapi, Hidup dengan Adaptasi yang Menakjubkan!

- Kolibri gunung berapi hidup di pegunungan tinggi Kosta Rika dan Panama
- Ukuran tubuhnya sangat kecil, hanya sekitar 7-8 cm dengan berat rata-rata 2,4 gram
- Mengonsumsi nektar bunga pegunungan sebagai sumber energi dan memakan serangga kecil
Kolibri gunung berapi merupakan salah satu burung endemik yang hidup di kawasan pegunungan tinggi Amerika Tengah, khususnya di wilayah Kosta Rika dan Panama. Burung mungil ini dikenal secara ilmiah dengan nama Selasphorus flammula.
Nama “flammula” sendiri berarti “nyala api kecil”, merujuk pada bulu-bulunya yang berkilau indah seperti percikan cahaya api. Selain memiliki penampilan yang memikat, kolibri ini juga dikenal dengan kemampuannya melayang di udara secara stabil dan mengatur metabolisme tubuhnya untuk bertahan di malam yang membeku. Ingin tahu lebih banyak tentang burung mungil berbulu api ini? Yuk, simak fakta-fakta menakjubkannya di bawah ini!
1. Mendiami wilayah pegunungan tinggi di Kosta Rika dan Panama

Dilansir laman Animalia, kolibri gunung merapi mendiami wilayah pegunungan tinggi di Kosta Rika dan Panama, terutama di sekitar gunung berapi aktif dan pasif seperti Gunung Talamanca, Gunung Poás, dan Gunung Irazú. Habitatnya berada di ketinggian 1.800–3.500 meter di atas permukaan laut sehingga menjadikannya salah satu kolibri yang hidup di tempat tertinggi.
Burung ini biasa ditemukan di area hutan montana, semak belukar subalpin, dan padang rumput pegunungan yang penuh dengan bunga liar. Meskipun kondisi di wilayah ini cenderung dingin dan berkabut, kolibri gunung merapi mampu menyesuaikan diri dengan sangat baik. Lingkungannya juga sering kali berdekatan dengan lereng curam dan medan berbatu, yang menjadi tantangan sekaligus pelindung alami dari predator besar.
2. Memilki ukuran tubuh yang sangat kecil

Dilansir laman International Hummingbird Society, ukuran tubuh kolibri gunung merapi sangat kecil, hanya sekitar 7-8 cm, dengan berat rata-rata 2,4 gram, membuatnya nyaris seberat selembar kertas. Meski mungil, penampilannya sangat mencolok, terutama pada jantan yang memiliki gorget (tenggorokan berwarna cerah) berwarna ungu kemerahan metalik yang berubah-ubah tergantung sudut cahaya.
Bagian tubuh atas biasanya berwarna hijau zaitun, sedangkan bagian bawahnya cenderung putih keabu-abuan. Betina dan anakan tidak memiliki gorget terang, tapi tetap memiliki warna tubuh yang lembut dan halus.
Ekor kolibri ini cukup pendek dan berbentuk seperti kipas saat dibuka sehingga menambah keunikan visualnya ketika terbang. Ukuran dan bentuk tubuhnya membuatnya sangat gesit dan mampu bermanuver di antara bunga pegunungan yang kecil dan tersembunyi.
3. Mengonsumsi nektar bunga pegunungan sebagai sumber energinya

Dilansir laman Birds of the World, sebagian besar asupan energi kolibri gunung merapi berasal dari nektar bunga, terutama bunga pegunungan seperti Fuchsia, Salvia, dan tanaman semak lokal lainnya. Burung ini memiliki paruh yang ramping dan lidah panjang yang bisa menjulur cepat untuk mengisap cairan manis dari bunga. Namun, tak hanya itu, mereka juga memakan serangga kecil seperti lalat buah, kutu daun, dan laba-laba mini, sebagai sumber protein.
Proses mencari makan mereka sangat terorganisir dan efisien, karena mereka sering mengunjungi bunga-bunga tertentu secara berulang dalam pola yang disebut “traplining”. Mereka juga sangat peka terhadap waktu mekar bunga dan mampu mengingat lokasi bunga-bunga produktif.
4. Agresif dan teritorial terhadap wilayah nektarnya

Dilansir laman Animalia, meskipun tubuhnya mungil, kolibri gunung merapi jantan terkenal sangat teritorial dan agresif, terutama terhadap sesama kolibri atau burung kecil lain yang mencoba memasuki wilayah nektarnya. Mereka akan melakukan serangan udara kecil dengan kecepatan tinggi untuk mengusir pesaing, bahkan jika lawan lebih besar sekalipun.
Teritorialitas ini semakin kuat saat musim kawin, ketika jantan berusaha mempertahankan sumber makanan terbaik untuk menarik betina. Mereka akan mengontrol area kecil yang penuh dengan bunga, dan melakukan patroli secara berkala. Dalam beberapa kasus, mereka bahkan bisa menyerang serangga besar seperti lebah atau tawon yang mencoba mencuri nektar.
5. Sayapnya mengepak hingga 80 kali per detik

Keunggulan utama kolibri gunung merapi terletak pada kemampuan terbangnya yang luar biasa. Dilansir laman Adopteer Regenwood, sayapnya dapat mengepak hingga 80 kali per detik sehingga memungkinkan burung ini melayang di udara seperti helikopter. Mereka bisa bergerak ke segala arah, maju, mundur, bahkan diam di tempat dengan presisi tinggi.
Kemampuan ini sangat berguna untuk mengakses bunga-bunga yang menggantung di tebing curam atau berada dalam celah sempit. Selain itu, mereka memiliki denyut jantung yang bisa mencapai 1.200 kali per menit saat terbang aktif yang menjadikannya salah satu makhluk dengan metabolisme tercepat.
6. Melakukan torpor sebagai strategi adaptasi

Tinggal di dataran tinggi membuat kolibri gunung merapi harus menghadapi fluktuasi suhu ekstrem, terutama saat malam hari ketika suhu bisa turun drastis. Dilansir laman Planet Scott, untuk mengatasi hal ini, mereka menggunakan strategi adaptasi berupa torpor, yaitu kondisi mirip hibernasi sementara.
Dalam torpor, suhu tubuh mereka bisa turun hingga hampir sama dengan lingkungan sekitarnya, dan denyut jantung melambat drastis untuk menghemat energi. Kondisi ini dapat berlangsung selama malam hari sebelum mereka “bangun” kembali saat matahari terbit. Tanpa torpor, mereka bisa mati kelaparan atau kedinginan karena energi mereka akan habis hanya untuk menjaga suhu tubuh.
7. Memiliki variasi warna tergantung distribusinya

Dilansir laman Birds and Blooms, kolibri gunung merapi memiliki beberapa subspesies yang tersebar di berbagai gunung berapi di Amerika Tengah, dan masing-masing memiliki variasi warna gorget dan distribusi yang khas. Misalnya, S. f. torridus ditemukan di Gunung Irazú dan memiliki tenggorokan keunguan terang, sementara S. f. flammula ditemukan di daerah Pegunungan Talamanca dengan corak sedikit lebih gelap.
Subspesies ini terbentuk karena isolasi geografis antar gunung yang menyebabkan perbedaan genetik dan adaptasi lokal. Perbedaan ini seringkali bukan hanya estetika, tetapi juga bisa memengaruhi perilaku kawin dan preferensi habitat.
Kolibri gunung berapi merupakan burung kecil endemik yang hidup di kawasan pegunungan tinggi Amerika Tengah. Burung ini memiliki tubuh mungil, tapi perannya dalam ekosistem sangat besar. Ia berfungsi sebagai penyerbuk utama bagi bunga-bunga pegunungan yang tidak dapat dijangkau oleh serangga. Selain itu, kolibri ini memiliki kemampuan adaptasi luar biasa terhadap suhu dingin dan medan yang curam. Sayangnya, habitat alaminya kini mulai terancam oleh deforestasi dan degradasi ekosistem pegunungan. Jika dibiarkan, hal ini dapat mengganggu keseimbangan ekologi di kawasan dataran tinggi. Oleh karena itu, upaya pelestarian kolibri gunung merapi menjadi penting sebagai bagian dari menjaga keberlanjutan kehidupan di puncak dunia.