Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Hewan yang Bisa Menyimpan Racun di Dalam Tubuhnya

3 min read
4 Hewan yang Bisa Menyimpan Racun di Dalam Tubuhnya
ilustrasi ikan buntal (unsplash.com/aemkei)
  • Ikan buntal menyimpan tetrodotoksin di hati, ovarium, dan saluran pencernaan; racun saraf ini dapat melumpuhkan pernapasan predator hingga berakibat fatal.
  • Kupu-kupu raja mengakumulasi glikosida jantung dari tanaman beracun sejak fase ulat, sementara ular picung menyimpan racun dari kodok beracun dalam kelenjar leher.
  • Burung hooded pitohui memperoleh batrachotoxin dari serangga atau kumbang beracun, lalu menyimpannya pada kulit dan bulu untuk melindungi diri serta telur dari predator.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Keanekaragaman yang ada di dunia hewan hadir dalam berbagai bentuk mekanisme pertahanan diri yang sangat tentunya sangat mengagumkan untuk menjaga keberlangsungan hidup mereka di alam bebas. Ada beberapa jenis hewan yang memiliki kemampuan khusus untuk menampung atau mengumpulkan zat beracun di dalam jaringan tubuh mereka dan berperan penting sebagai benteng perlindungan dari berbagai serangan predator.

​Kemampuan dalam menyimpan racun ini ternyata bisa berasal dari sekresi organ internal secara mandiri atau bahkan hasil akumulasi dari berbagai makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Dengan memahami keunikan dari sistem pertahanan biologis ini, maka bisa memberikan wawasan menarik terkait tingginya tingkat adaptasi hewan dalam mempertahankan populasinya di alam liar.

  1. 1. Ikan buntal yang menyimpan zat tetrodotoksin mematikan

    ilustrasi ikan buntal (pexels.com/Jeffry S.S.)
    ilustrasi ikan buntal (pexels.com/Jeffry S.S.)

    Ikan buntal dikenal sebagai salah satu hewan vertebrata paling beracun yang ada di dunia karema menyimpan zat tetrodotoksin pada bagian organ dalamnya. Kandungan racun saraf memiliki kadar yang sangat kuat dan terakumulasi di bagian hati, ovarium, dan saluran pencernaan ikan, sehingga kerap digunakan sebagai bentuk pertahanan dari predator laut.

    ​Jika ada predator yang nekat mengonsumsi tubuh ikan ini, maka mereka akan mengalami kelumpuhan sistem pernapasan secara mendadak hingga pada akhirnya berujung pada kematian yang fatal. Mekanisme penyimpanan racun yang sangat pekat ini ternyata membuat ikan buntal hampir tidak memiliki adanya predator alami ketika berenang di lautan bebas.

  2. 2. Kupu-kupu raja yang menampung racun dari tumbuhan

    ilustrasi kupu-kupu (pexels.com/Ylanite Koppens)
    ilustrasi kupu-kupu (pexels.com/Ylanite Koppens)

    Kupu-kupu raja dikenal sebagai hewan yang kemampuan unik untuk mengumpulkan dan menyimpan racun glikosida jantung di dalam jaringan tubuhnya, bahkan sejak masih berstatus ulat. Senyawa berbahaya ini kemudian akan diserap secara konsisten ketika ulat tersebut mengonsumsi daun yang berasal dari tanaman beracun sebagai makanan utamanya.

    ​Zat racun yang tersimpan secara rapat ini nantinya akan tetap bertahan di dalam tubuh hingga ulatnya berubah menjadi kupu-kupu dewasa yang memiliki penampilan indah. Burung atau pemangsa lain yang berusaha untuk memakan serangga tersebut akan secara langsung mengalami mual hebat, sehingga mereka akan cenderung menghindari spesies ini di kemudian hari.

  3. ​3. Ular picung yang menyimpan racun dari mangsa konsumsinya

    ilustrasi ular (unsplash.com/Kenjiro Koya)
    ilustrasi ular (unsplash.com/Kenjiro Koya)

    Ular picung ternyata memiliki kebiasaan yang unik dalam mengumpulkan zat beracun di dalam kelenjar khusus, khususnya yang terletak di bagian belakang lehernya. Senyawa racun tersebut tidak diproduksi sendiri oleh ular tersebut, melainkan diperoleh dari hasil memangsa jenis kodok beracun yang dijumpai di habitatnya.

    ​Tubuh ular ini memiliki keunikan tersendiri karena mampu menoleransi kandungan racun tersebut, lalu menyimpannya sebagai senjata pertahanan sekunder dari berbagai ancaman pemangsa lain. Pada saat merasa terdesak, maka ular ini akan menundukkan kepalanya agar kelenjar racun yang ada di bagian lehernya terlihat jelas, sehingga cukup untuk menakuti musuh yang mendekat.

  4. ​4. Burung hooded pitohui yang mengandung racun pada bulunya

    ilustrasi burung hooded pitohui
    ilustrasi burung hooded pitohui (birdsoftheworld.org)

    Burung hooded pitohui dikenal sebagai spesies unggas langka yang memiliki kemampuan untuk menyimpan zat batrachotoxin beracun di dalam jaringan kulit, serta helai bulunya. Senyawa beracun neurotoksin yang sangat kuat ini ternyata berasal dari jenis serangga atau kumbang beracun yang kerap dikonsumsinya di dalam hutan.

    ​Sentuhan langsung pada helai bulu burung ini ternyata bisa mengakibatkan rasa kebas, gatal hebat, hingga efek kelumpuhan ringan pada kulit pemangsanya. Keberadaan racun di seluruh permukaan tubuhnya ini bisa memberikan perlindungan ekstra untuk burung dan telur-telurnya dari berbagai ancaman predator pohon.

    ​Keberadaan mekanisme penyimpanan racun yang terdapat pada tubuh berbagai jenis satwa ini seolah menjadi bukti nyata dari tingginya keanekaragaman strategi untuk bertahan hidup di alam liar. Melalui kejelian alam dalam memanfaatkan rantai makanan dan reaksi kimia biologis, maka mereka berhasil menciptakan sistem perlindungan diri yang sangat efektif untuk kelangsungan spesiesnya. Mekanisme racun ini bisa membuat mereka tetap merasa aman di alam bebas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More