Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta African Cuckoo-Hawk, Burung Pemangsa Unik dari Afrika
burung aviceda cuculoides (inaturalist.org/AMADOU BAHLEMAN FARID)
  • African Cuckoo-Hawk atau Aviceda cuculoides adalah raptor keluarga Accipitridae, bukan burung kukuk, dengan persebaran luas di Afrika sub-Sahara.
  • Spesies ini menempati hutan hingga sabana pada ketinggian sekitar 3.000 meter, berburu serangga, reptil, dan burung kecil dari tenggeran maupun saat terbang.
  • IUCN mengategorikannya sebagai Least Concern dengan populasi stabil, tetapi kehilangan habitat hutan dan keterbatasan data populasi tetap menjadi perhatian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

African Cuckoo-Hawk (Aviceda cuculoides) merupakan burung pemangsa berukuran sedang yang termasuk keluarga Accipitridae. Spesies ini tersebar luas di kawasan Afrika sub-Sahara dan dapat ditemukan di berbagai habitat berhutan hingga sabana. Namanya cukup menarik karena kata "Cucko-Hawk" membuat burung ini sekilas terdengar seperti perpaduan antara burung kukuk dan burung pemangsa.

Burung ini dikenal memiliki kebiasaan yang cukup sulit diamati karena cenderung pemalu dan hidup dalam kepadatan rendah. African Cuckoo-Hawk juga memiliki kemampuan beradaptasi dengan berbagai lingkungan, termasuk hutan, tepian hutan, kawasan berhutan terbuka, dan bahkan beberapa habitat yang telah mengalami perubahan. Berikut lima fakta menarik African Cuckoo-Hawk, burung pemangsa unik dari Afrika.

1. Termasuk burung pemangsa dari keluarga accipitridae

burung aviceda cuculoides (inaturalist.org/pfinn03)

African Cuckoo-Hawk merupakan anggota famili Accipitridae, kelompok burung pemangsa yang juga mencakup elang, alap-alap tertentu, dan beberapa jenis burung pemangsa lainnya. Mengutip Integrated Taxonomic Information System, nama ilmiahnya adalah Aviceda cuculoides, sedangkan genus Aviceda mencakup beberapa spesies cuckoo-hawk yang ditemukan di Afrika dan Asia. Secara taksonomi, spesies ini termasuk dalam ordo Accipitriformes.

Meskipun memiliki kata "cuckoo" dalam nama umumnya, African Cuckoo-Hawk bukanlah anggota keluarga Cuculidae yang mencakup burung kukuk. Nama tersebut berkaitan dengan kemiripan tertentu yang membuatnya disebut cuckoo-hawk, sementara secara kekerabatan burung ini tetap merupakan raptor. Perbedaan tersebut membuat nama umumnya cukup menarik untuk diperhatikan ketika mengenali spesies ini.

2. Menghuni berbagai habitat di Afrika

burung aviceda cuculoides (inaturalist.org/Duncan McKenzie)

African Cuckoo-Hawk memiliki wilayah persebaran yang sangat luas di Afrika sub-Sahara. CMS Raptors menyebutkan bahwa spesies ini tercatat di banyak negara, mulai dari Senegal, Gambia, dan Ghana di Afrika Barat hingga Kenya, Tanzania, Zambia, Zimbabwe, Namibia, dan Afrika Selatan. Wilayah persebarannya yang luas menjadi salah satu alasan spesies ini tidak dianggap mendekati kategori terancam secara global.

Habitatnya juga cukup beragam karena dapat ditemukan di hutan hijau, hutan gugur, kawasan berhutan, tepian hutan, hingga sabana yang lebih terbuka. African Cuckoo-Hawk bahkan dapat ditemukan pada ketinggian hingga sekitar 3.000 meter di atas permukaan laut. Ketika melakukan pergerakan musiman, burung ini juga dapat memanfaatkan kawasan hutan yang lebih kering dan semak belukar.

3. Memangsa serangga, reptil, dan burung kecil

burung aviceda cuculoides (inaturalist.org/LostInCR)

Makanan African Cuckoo-Hawk terdiri dari berbagai jenis hewan yang berukuran relatif kecil. Dilansir IUCN Red List, mangsanya terutama mencakup serangga, reptil, dan burung-burung kecil yang ditemukannya di habitat tempat tinggalnya. Komposisi makanan tersebut menunjukkan bahwa burung ini memiliki pola makan yang cukup fleksibel sebagai predator.

Dalam mencari makanan, African Cuckoo-Hawk umumnya melakukan perburuan dari tempat bertengger. Burung ini dapat menunggu dengan tenang sebelum menyambar mangsa, tetapi juga diketahui menangkap serangga yang sedang terbang dan mencari mangsa secara aktif. Strategi tersebut membuatnya mampu memanfaatkan berbagai jenis sumber makanan di lingkungan sekitarnya.

4. Membuat sarang kecil di atas pohon

burung aviceda cuculoides (inaturalist.org/Marc Henrion)

African Cuckoo-Hawk membangun sarang berukuran kecil di bagian tinggi pepohonan. CMS Raptors menyebutkan bahwa pohon yang digunakan dapat berupa berbagai jenis pohon, termasuk eukaliptus, dan lokasi sarang sering ditemukan di sekitar aliran air. Posisi sarang yang tinggi membantu burung ini memanfaatkan lingkungan pepohonan sebagai tempat berkembang biak.

Waktu berkembang biaknya berbeda-beda tergantung wilayah tempat populasi tersebut berada. Di Afrika bagian selatan, musim berkembang biak umumnya berlangsung sekitar September hingga Maret, sedangkan di Afrika Barat biasanya terjadi sekitar Juni hingga Agustus. Di Kenya, aktivitas berkembang biak dapat berlangsung pada dua periode yang berkaitan dengan datangnya musim hujan.

5. Memiliki status konservasi least concern

burung aviceda cuculoides (inaturalist.org/Jes Lefcourt)

African Cuckoo-Hawk saat ini dikategorikan sebagai Least Concern (LC) atau berisiko rendah dalam Daftar Merah IUCN. Status tersebut berkaitan antara lain dengan wilayah persebarannya yang sangat luas dan tidak adanya indikasi penurunan populasi yang cukup besar untuk memenuhi kriteria kategori terancam. Populasinya juga dinilai memiliki tren yang stabil berdasarkan penilaian IUCN yang tersedia.

Meskipun demikian, bukan berarti spesies ini sepenuhnya terbebas dari ancaman. Hilangnya habitat hutan dapat memberikan tekanan terhadap African Cuckoo-Hawk, sementara pengetahuan mengenai ukuran dan tren populasinya masih relatif terbatas. Karena itu, penelitian lebih lanjut mengenai populasi dan persebarannya tetap diperlukan untuk memahami kondisi spesies ini dengan lebih baik.

African Cuckoo-Hawk merupakan burung pemangsa yang menarik karena memiliki nama unik, persebaran luas, serta kebiasaan berburu yang cukup beragam. Kemampuannya memanfaatkan berbagai habitat dan memangsa serangga, reptil, hingga burung kecil membuatnya menjadi bagian penting dari ekosistem Afrika. Walaupun berstatus Least Concern, keberadaan habitat alami tetap penting untuk menjaga populasi burung ini di masa mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article