Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Antlion, Serangga yang Jebak Mangsanya dengan Pasir Hidup
Antlion dewasa (pexels.com/Pavan Prasad)
  • Antlion dikenal sebagai serangga dari famili Myrmeleontidae dengan larva yang hidup di pasir dan membangun perangkap berbentuk corong untuk menjebak mangsa kecil seperti semut.
  • Larva antlion bersembunyi di dasar lubang, menggunakan rahang besar untuk menangkap serta mengisap cairan tubuh mangsa, sambil melempar pasir agar korban sulit melarikan diri.
  • Setelah fase larva selama satu hingga tiga tahun, antlion bermetamorfosis menjadi serangga bersayap dengan empat sayap berjaring halus dan antena pendek berujung membesar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Antlion merupakan kelompok serangga dari famili Myrmeleontidae yang dikenal karena fase larvanya yang memiliki cara berburu tidak biasa. Meski bentuk dewasa memiliki sayap, larvanya justru hidup di pasir dan menjadi predator bagi serangga kecil. Serangga ini dapat ditemukan di berbagai wilayah yang memiliki tanah berpasir dan kering.

Keunikan antlion terletak pada kemampuannya membangun perangkap berbentuk corong yang memanfaatkan pasir sebagai senjata alami. Strategi berburu tersebut membuat antlion sering dianggap sebagai salah satu pemburu paling unik di dunia serangga. Berikut lima fakta menarik tentang antlion yang membuatnya berbeda dari kebanyakan serangga lainnya.

1. Larvanya membangun perangkap berbentuk corong

Antlion (flickr.com/Gilles San Martin)

Istilah antlion sebenarnya lebih merujuk pada fase larvanya daripada bentuk dewasanya. Larva ini terkenal karena kemampuannya menjebak mangsa menggunakan perangkap berbentuk lubang yang dibuat di tanah berpasir. Kemampuan tersebut menjadi salah satu ciri yang membedakan antlion dari banyak serangga lainnya.

Dilansir dari Texas A&M University, larva menggali pasir dengan bergerak mundur sambil berputar. Pasir yang terangkat kemudian dilempar keluar hingga terbentuk lubang berbentuk corong yang cukup curam untuk membuat serangga kecil mudah tergelincir ke bagian tengah perangkap. Bentuk corong ini membantu larva menangkap mangsa tanpa harus mengejarnya secara langsung.

2. Menunggu mangsa dari bawah pasir

Antlion (commons.wikimedia.org/ Jean and Fred)

Setelah perangkap selesai dibuat, antlion tidak perlu berkeliaran untuk mencari makanan. Larva akan bersembunyi di dasar lubang dengan tubuh yang tertutup pasir. Hanya rahangnya yang besar dan siap digunakan untuk menangkap mangsa yang terlihat di permukaan.

Melansir Texas A&M University, semut atau serangga kecil lain yang jatuh ke dalam corong akan meluncur menuju bagian perangkap. Dinding lubang yang curam membuat mangsa sulit mendapatkan pijakan untuk memanjat keluar. Saat mangsa mencapai pusat perangkap, larva segera menangkapnya menggunakan rahang kuat yang dirancang untuk menusuk tubuh mangsa.

3. Melempar pasir untuk menggagalkan pelarian mangsa

Antlion (commons.wikimedia.org/Joseph Berger)

Perangkap antlion tidak hanya mengandalkan bentuk corong yang licin. Menurut University of Florida IFAS Extension, ketika mangsa berusaha memanjat keluar, antlion akan melempar butiran pasir ke arahnya. Tindakan ini dilakukan dari dasar lubang tempat larva bersembunyi menunggu mangsa.

Butiran pasir tersebut menyebabkan mangsa kehilangan pijakan dan kembali terjatuh ke dasar lubang. Dinding perangkap yang curam membuat serangga kecil semakin sulit mempertahankan posisinya saat mencoba keluar. Mekanisme ini membuat peluang mangsa untuk melarikan diri menjadi jauh lebih kecil sekaligus membantu antlion mempertahankan efektivitas perangkapnya.

4. Rahangnya digunakan untuk melumpuhkan dan mengisap mangsa

Rahang antlion (commons.wikimedia.org/Paweł Wałasiewicz)

Larva antlion memiliki rahang berbentuk sabit yang tidak hanya digunakan untuk menangkap mangsa. Rahang tersebut berukuran besar dibandingkan tubuhnya dan menjadi alat utama saat berburu. Rahang itu juga berfungsi menyuntikkan racun sekaligus mengisap makanan cair dari tubuh korban.

Menurut Texas A&M University, rahang antlion mampu menusuk tubuh semut dan mengisap cairan tubuhnya. Cara makan ini membuat larva memperoleh nutrisi tanpa harus mengunyah mangsanya. Setelah proses makan selesai, sisa tubuh mangsa yang kosong akan dibuang keluar dari perangkap sehingga lubang tetap siap digunakan untuk menangkap mangsa berikutnya.

5. Mengalami metamorfosis menjadi serangga bersayap

Antlion dewasa (commons.wikimedia.org/Joseph Berger)

Meski terkenal sebagai pemburu pasir, antlion tidak menghabiskan seluruh hidupnya dalam bentuk larva. Dilansir dari University of Florida IFAS Extension, fase larva dapat berlangsung antara satu hingga tiga tahun sebelum akhirnya berubah menjadi pupa di dalam kepompong yang dibuat di bawah pasir. Tahap ini menjadi bagian penting dalam proses perubahan menuju bentuk dewasa.

Setelah perkembangan selesai, antlion akan muncul sebagai serangga dewasa bersayap. Pada fase dewasa, bentuk tubuhnya tidak lagi menyerupai larva yang hidup di dalam pasir. Britannica menyebut antlion dewasa memiliki empat sayap berjaring halus dan antena pendek yang ujungnya membesar, sehingga tampil sangat berbeda dibandingkan fase larvanya.

Antlion menunjukkan bahwa ukuran tubuh yang kecil tidak menghalangi munculnya strategi berburu yang sangat efektif. Dari kemampuan membangun perangkap pasir, bersembunyi di dasar corong, melempar pasir ke arah mangsa, hingga menggunakan rahang khusus untuk menangkap makanan, seluruh siklus hidupnya memperlihatkan adaptasi yang unik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article