Bontebok (commons.wikimedia.org/Colorado State University Libraries)
Dilansir The Nature Conservancy, pada abad 17, para pemukim Eropa mendarat di Tanjung Harapan dan membentuk kolonialisasi. Hal ini membawa dampak buruk bagi warga setempat maupun satwa liar termasuk bontebok.
Bontebok yang mulai hidup berdampingan dengan pemukim Belanda di Afrika Selatan dianggap Belanda sebagai pesaing lahan pertanian. Mereka menembak bontebok dalam jumlah besar.
Dalam perkembangan terdapat spesies mamalia berkuku yang punah karena perburuan petani. Bontebok sendiri nyaris mengalami kepunahan saat itu. Pada 1932, populasi tersisa bontebok hanya 17 ekor.
Agar tetap dilestarikan, 17 ekor bontebok dipindahkan ke Taman Nasional Bontebok. Setelah menghasilkan 61 ekor, bontebok dipindahkan ke sebuah wilayah dengan vegetasi alami bernama fynbos. Berkat pindah ke tempat itu, bontebok berkembang biak dengan sangat baik.
Pada 1969, terdapat 800 ekor bontebok di dunia. Seiiring berkembangnya zaman, populasi bontebok kini mencapai antara 2.500 dan 3.000 ekor sehingga IUCN memberi label bontebok sebagai 'resiko rendah' artinya populasinya dianggap stabil.
Bontebok dapat bertahan tanpa air selama beberapa hari. Namun jika air tersedia, mereka akan minum sekali sehari saja. Untuk rentang hidupnya, bontebok dapat hidup hingga 17 tahun. Usaha Afrika Selatan dalam memulihkan populasi bontebok layak diberi penghargaan luar biasa.