Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Bontebok, Populasinya Berhasil Pulih dari Ambang Kepunahan
Bontebok (commons.wikimedia.org/Rebecca Ryen-Stols)
  • Bontebok adalah antelop asal Afrika Selatan yang hidup di padang rumput dan sabana, kini dilindungi di Taman Nasional Bontebok serta beberapa cagar alam karena populasinya tergolong langka.
  • Hewan ini memiliki ciri khas bulu gelap mengilap dengan bagian putih mencolok, bertanduk melengkung, hidup berkelompok kecil, dan dikenal sebagai pemakan rumput aktif di pagi serta sore hari.
  • Populasi bontebok sempat turun drastis hingga tersisa 17 ekor pada 1932 akibat perburuan, namun berhasil pulih menjadi sekitar 2.500–3.000 ekor sehingga kini berstatus ‘risiko rendah’ menurut IUCN.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bontebok (damaliscus pygarus) adalah sejenis antelop yang hidup di Afrika Selatan, Lesotho dan Namibia. Di alam liar, bontebok mendiami padang rumput, sabana terbuka dan vegetasi semak tinggi disebut fynbos.

Dewasa ini, karena bontebok sekarang termasuk populasi langka membuat mereka dilindungi di Taman Nasional Bontebok dan beberapa cagar alam serta lahan pertanian swasta di sekitarnya. Populasi terbesar terdapat di Cagar Alam De Hoop.

Alasan bontebok hampir punah dan kini langka beserta sederet fakta menarik lainnya akan dikupas melalui artikel ini. Check this out.

1. Ciri fisik bontebok

Bontebok (commons.wikimedia.org/Colorado State University Libraries)

Bontebok memiliki bulu punggung yang relatif gelap mengkilap dengan bagian belakang dan pantat yang tinggi dan berwarna putih. Bontebok mengembangkan tanduk besar dan melengkung seperti kijang di mana ekornya berjumbai berbulu hitam berukuran pendek.

Ukuran bontebok: panjang kepala dan sekujur tubuh kisaran antara 140 dan 160 cm dan ekor mereka antara 30 dan 45 cm. Ada perbedaan berat berdasarkan jenis kelaminnya. Jantan kisaran 65-80 kg dan betina antara 55-70 kg.

2. Bontebok, antelop yang omnivora

Bontebok (commons.wikimedia.org/Fred Derks)

Lantaran hidup di daerah rerumputan, bontebok memilih rumput pendek sebagai makanan utamanya. Mereka pemakan rumput diurnal yang berarti bontebok akan merumput di pagi dan sore hari. Di Kebun Binatang San Diego, bontebok diberi makan potongan ranting pohon.

Bontebok memiliki beberapa bagian tubuh putih yang menonjol pada wajah, ekor, perut dan kakinya yang menyerupai kaus kaki. Terdapat juga tanda putih di wajah sebagai topeng yang menyerupai helm abad pertengahan. Tujuannya untuk mengintimidasi predator seperti jakal punggung hitam dan anjing liar afrika.

3. Kehidupan perkawinan bontebok

Bontebok (commons.wikimedia.org/Fred Derks)

Cara jantan memikat betina dengan memamerkan postur tubuh yaitu menundukkan kepala dan mengangkat ekornya ke atas punggung, kemudian bergerak beriringan dengan betina dan berputar dalam lingkaran kecil.

Pasangan bontebok kawin antara Januari dan Maret. Masa kehamilan betina antelop adalah 7-8 bulan. Setelah lahir hanya dalam hitungan menit, anak bontebok langsung bisa bisa berdiri dan bergerak.

4. Perilaku unik sang antelop

Bontebok (commons.wikimedia.org/Colorado State University Libraries)

Bontebok adalah jenis hewan yang suka bergerombol. Sekelompok sering melakukan suatu ritual unik yakni berdiri dengan kepala menunduk dan menghadap matahari.

Antelop ini hidup dalam kawanan hanya terdiri dari jantan, betina dan campuran jumlahnya tidak melebihi 40 ekor. Dengan kawanan kecilnya, rutin melakukan migrasi di musim gugur dan dingin.

Jantan bersikap teritorial terhadap wilayah sehingga jika ada yang menganggu, perkelahian antar jantan tidak terelakan. Antar jantan saling beradu tanduk yang terlihat sangat mirip dengan adu panco manusia bertujuan untuk menunjukkan dominasi dan menarik betina.

5. Bontebok adalah spesies antelop pernah hampir punah

Bontebok (commons.wikimedia.org/Colorado State University Libraries)

Dilansir The Nature Conservancy, pada abad 17, para pemukim Eropa mendarat di Tanjung Harapan dan membentuk kolonialisasi. Hal ini membawa dampak buruk bagi warga setempat maupun satwa liar termasuk bontebok.

Bontebok yang mulai hidup berdampingan dengan pemukim Belanda di Afrika Selatan dianggap Belanda sebagai pesaing lahan pertanian. Mereka menembak bontebok dalam jumlah besar.

Dalam perkembangan terdapat spesies mamalia berkuku yang punah karena perburuan petani. Bontebok sendiri nyaris mengalami kepunahan saat itu. Pada 1932, populasi tersisa bontebok hanya 17 ekor.

Agar tetap dilestarikan, 17 ekor bontebok dipindahkan ke Taman Nasional Bontebok. Setelah menghasilkan 61 ekor, bontebok dipindahkan ke sebuah wilayah dengan vegetasi alami bernama fynbos. Berkat pindah ke tempat itu, bontebok berkembang biak dengan sangat baik.

Pada 1969, terdapat 800 ekor bontebok di dunia. Seiiring berkembangnya zaman, populasi bontebok kini mencapai antara 2.500 dan 3.000 ekor sehingga IUCN memberi label bontebok sebagai 'resiko rendah' artinya populasinya dianggap stabil.

Bontebok dapat bertahan tanpa air selama beberapa hari. Namun jika air tersedia, mereka akan minum sekali sehari saja. Untuk rentang hidupnya, bontebok dapat hidup hingga 17 tahun. Usaha Afrika Selatan dalam memulihkan populasi bontebok layak diberi penghargaan luar biasa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article