Monumen Perdamaian Hiroshima, yang juga dikenal sebagai Kubah Bom Atom, yang terletak di Hiroshima, Jepang. (commons.wikimedia.org/Photo by Jesse Wilson)
Gedung yang kini dikenal sebagai Genbaku Dome ini awalnya direncanakan untuk dihancurkan bersama reruntuhan lainnya setelah perang. Namun, karena struktur batu dan bajanya yang kuat membuatnya tetap berdiri meski berada di pusat ledakan, rencana penghancuran tersebut ditunda. Sempat terjadi kontroversi antara warga yang ingin menghapusnya karena trauma dan mereka yang ingin melestarikannya sebagai simbol perdamaian, hingga akhirnya pemerintah memutuskan untuk mempertahankan kerangka bangunan ini saat rekonstruksi kota dimulai.
Upaya pelestarian secara resmi dikukuhkan pada tahun 1966 oleh Dewan Kota Hiroshima untuk menjaga bangunan ini selamanya. Walikota Shinzo Hamai bahkan melakukan penggalangan dana secara luas, termasuk mengumpulkan sumbangan langsung di jalanan Tokyo, demi membiayai perawatan monumen. Sejak saat itu, berbagai proyek stabilisasi dilakukan dengan sangat hati-hati untuk memastikan struktur bangunan tetap kokoh tanpa mengubah bentuk aslinya saat terkena bom pada tahun 1945.
Hingga kini, kebijakan utama dalam menjaga monumen ini adalah membiarkannya tetap apa adanya tanpa tambahan atap atau galeri agar nilai sejarahnya tidak hilang. Meski demikian, pengelola menghadapi tantangan modern seperti aksi vandalisme atau coret-coret tangan jahil serta pembangunan gedung-gedung tinggi di sekitarnya yang dapat mengganggu pemandangan bersejarah. Penggunaan kerangka logam di bagian dalam gedung menjadi salah satu cara rahasia untuk menjaga stabilitas reruntuhan agar tetap aman dikunjungi oleh wisatawan dunia.