7 Fakta Takur, Burung Hijau yang Berjasa bagi Hutan Indonesia

Burung takur adalah burung hijau penghuni hutan yang membantu menyebarkan biji-bijian.
Burung ini punya ciri unik, seperti kaki zigodaktil, kumis, dan paruh tebal pembuat sarang.
Meski dilindungi hukum, populasi takur tetap terancam akibat hilangnya hutan dan perdagangan liar.
Hewan ini berbulu hijau, berkumis, dan berparuh tebal. Sosok mereka sulit terlihat di antara dedaunan lebat, tapi punya kicauan yang menggaung lantang di hutan-hutan Indonesia. Nama burung ini adalah burung takur.
Burung takur atau Asian barbet merupakan sejenis burung pengicau yang hidup di hutan-hutan Asia Tenggara. Burung ini dikenal punya kicauan yang lantang dan warna bulu yang memukau. Gak banyak yang tahu kalau Indonesia punya berbagai jenis burung takur. Yuk, kenalan dengan burung ini lewat tujuh fakta unik berikut ini!
1. Burung gempal penggemar buah tin

Burung takur merupakan jenis burung pengicau yang tinggal di hutan Asia Tenggara, termasuk hutan Indonesia. Burung ini bagian dari ordo Piciformes yang juga mencakup burung pelatuk dan burung tukan. Burung takur gemar makan buah ara atau buah tin dan berbagai jenis buah-buahan lain sehingga berperan besar dalam regenerasi hutan dengan menyebarkan biji-bijian.
Burung takur sendiri berukuran sedang. Tubuh mereka gempal dan berkepala besar. Paruh mereka pun tebal. Sebagian besar burung takur berwarna hijau dengan corak warna-warni yang khas di kepala tergantung jenis.
2. Si hijau penghuni tajuk hutan

Burung takur merupakan burung yang hidup di daerah berhutan, baik hutan primer maupun sekunder, dan hutan gugur. Mereka bisa ditemukan di hutan dataran rendah sampai lereng gunung. Warna hijau burung takur membuat burung ini menyatu sempurna dengan dedaunan di tajuk hutan. Belum lagi, mereka punya kebiasaan bertengger dalam waktu lama tanpa bergerak yang makin membuat burung takur sulit terlihat di lapangan.
3. Dilindungi hukum, tapi sering diperdagangkan

Menurut informasi dari laman Birds of the World, total ada 35 jenis burung takur. Semuanya dibagi dalam dua genus, yakni genus Psilopogon (takur) dan genus Calorhamphus (takur ampis). Dua jenis takur ampis, yakni takur ampis kalimantan (C. fuliginosus) dan takur ampis melayu (C. hayii), berwarna cokelat kusam unik serta bersarang di dalam koloni.
Jenis burung takur yang populer adalah takur api atau fire-tufted barbet (P. pyrolophus) asli Semenanjung Melayu dan Sumatra. Tubuh mereka besar dan ada sejumput rambut merah mirip api di atas kepala. Ada juga takur ungkut-ungkut atau coppersmith barbet (P. haemacephalus) yang tersebar paling luas, dari India sampai Indonesia. Jenis takur ini punya suara "tuk-tuk-tuk" metal seperti dentuman pandai besi yang sedang menempa logam.
Hampir semua jenis burung takur yang ada di Indonesia dilindungi oleh hukum. Beberapa contohnya ialah kedua jenis takur ampis, takur api, takur tohtor, takur tulung-tumpuk, takur warna-warni, takur bultok, takur tutut, dan lain-lain. Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MenLHK/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, jenis takur tersebut dilarang keras diperdagangkan.
4. Punya susunan kaki unik di dunia burung

Tahukah kamu kalau burung takur punya kaki unik seperti burung pelatuk? Ya, burung takur punya susunan kaki zigodaktil, dua jari kaki (pertama dan keempat) menghadap ke depan dan dua jari kaki (kedua dan ketiga) ke belakang. Kaki zigodaktil bikin burung takur bisa bertengger santai di cabang atau batang pohon yang vertikal dengan mengayunkan jari kaki terluar ke depan atau ke samping. Menurut laman Carolina Birds, susunan kaki zigodaktil menguntungkan burung takur yang suka bertengger lama-lama di atas pohon.
5. Burung berkumis

Ya, kamu gak salah baca. Kamu bahkan bisa melihat sendiri kalau burung takur punya kumis. Di pangkal paruh mereka, tumbuh bulu-bulu kaku (bristles atau barbs) mirip kumis yang disebut rictal bristles. Kumis inilah yang membuat burung takur disebut Asian barbet di luar negeri.
Laman The Linnean Society menerangkan kalau rictal bristle punya banyak fungsi tergantung jenis burung. Kumis ini bisa membantu menangkap mangsa (sering kali serangga) dan melindungi mata burung. Rictal bristle juga membantu terbang bermanuver menggunakan isyarat sensorik pada burung-burung yang hidup di hutan lebat, seperti burung takur.
6. Paruh tebal untuk membangun sarang

Burung takur tidak membangun sarang mereka dari ranting atau daun. Mereka bersarang bersarang di rongga atau lubang pohon yang digali sendiri dengan paruh. Sarang mereka dibangun di kayu mati (deadwood) yang lunak di cabang atau tunggul pohon. Kemampuan membuat lubang sarang dengan paruh sangat penting untuk keberhasilan perkembangbiakan burung takur.
7. Populasi mereka digempur tekanan dari manusia

Burung takur merupakan komponen penting dari hutan Asia. Gak hanya menyebarkan biji-bijian, burung ini juga berjasa dalam memberikan tempat berlindung. Menurut laman Creagrus, lubang sarang burung takur yang sudah tidak digunakan sering dimanfaatkan berbagai jenis hewan lain untuk dijadikan tempat bersarang atau tempat berlindung.
Sayangnya, populasi burung takur makin menurun seiring hilangnya hutan di dataran rendah dan pegunungan. Belum lagi tekanan dari perdagangan burung peliharaan makin mengancam keberadaan mereka. Contoh ini terlihat pada takur api. Dilansir laman Birds of the World, burung ini memang tidak terancam langsung secara global. Namun, penebangan hutan di lereng di wilayah sebaran mereka yang terbatas berpotensi memecah populasi secara parah.
Semoga saja keragaman dan keberadaan burung takur bisa bertahan dari gempuran tekanan dari manusia, ya. Burung-burung inilah yang menjaga keberlangsungan hutan di Indonesia tanpa kita sadari. Setelah tahu lebih banyak, bagaimana pendapatmu tentang burung takur atau Asian barbet?



















