Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apakah Benar Tikus Hewan Pendendam? Simak Fakta Ilmiahnya!

Apakah Benar Tikus Hewan Pendendam? Simak Fakta Ilmiahnya!
ilustrasi tikus (unsplash.com/Michelle Gordon)
Intinya Sih
  • Tikus memiliki memori episodik dan kemampuan navigasi spasial tinggi, memungkinkan mereka mengingat urutan peristiwa serta lokasi dengan akurat untuk bertahan hidup.
  • Perilaku tikus yang tampak seperti dendam sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri berbasis pengalaman masa lalu, bukan emosi kebencian atau balas dendam.
  • Penelitian menunjukkan tikus mampu merasakan empati dan penyesalan melalui aktivitas otak kompleks, menandakan kecerdasan emosional tanpa adanya dorongan dendam terhadap manusia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Tikus salah satu hewan pengerat yang sering muncul di rumah dan sering bikin berantakan. Banyak cerita yang beredar bahwa tikus sengaja merusak barang atau properti sebagai aksi balas dendam setelah dijebak atau disakiti oleh pemilik rumah. Anggapan ini sering kali membuat kita berpikir dua kali sebelum berurusan dengan hewan pengerat satu ini. Namun, apakah memang perilaku tersebut benar-benar didasari oleh rasa dendam layaknya manusia, ataukah hanya sekadar insting bertahan hidup?

Secara ilmiah, sains memiliki jawaban yang jauh lebih logis di balik perilaku adaptif hewan satu ini. Tikus memang dibekali kemampuan kognitif luar biasa, memori yang tajam, serta kemampuan membaca navigasi lingkungan dengan sangat baik. Ketika mereka kembali ke tempat yang sama atau menghindari jebakan, ada mekanisme pertahanan diri berbasis pengalaman masa lalu. Yuk, simak fakta ilmiah selengkapnya untuk memahami isi kepala si cerdik ini!

1. Punya memori episodik yang sangat kuat

ilustrasi kemampuan memori tikus
ilustrasi kemampuan memori tikus (unsplash.com/Siegfried Poepperl)

Penelitian dari Indiana University yang dipimpin oleh Profesor Jonathon Crystal berhasil membuktikan bahwa tikus memiliki kemampuan memori episodik (episodic memory) yang jauh lebih kompleks dari yang diperkirakan sebelumnya. Berbeda dengan memori semantik yang hanya mengingat fakta terisolasi, memori episodic memungkinkan tikus hanya mengingat fakta terisolasi, memori ini memungkinkan tikus untuk memutar kembali ingatan mengenai rangkaian peristiwa sesuai urutan kronologis dan konteks tempat terjadinya.

Melalui serangkaian eksperimen berbasis aroma dan perubahan lingkungan yang rumit, tikus terbukti mampu mengingat tidak hanya informasi yang mereka terima, tetapi juga bagaimana dan di mana mereka memperoleh informasi tersebut. Keberhasilan ini dicapai melalui lima tahap eksperimen yang semakin menantang untuk menguji batas kemampuan kognitif tikus. Pada tahap puncaknya yang disebut holy grail, peneliti mengacak urutan daftar aroma dan memberikan jeda waktu. Tikus tersebut mampu menyusun dan mengingat kembali seluruh urutan informasi secara akurat.

2. Mekanisme pertahanan diri, bukan kebencian

ilustrasi tikus di malam hari
ilustrasi tikus di malam hari (unsplash.com/Marvin Zettl)

Mekanisme pertahan diri tikus yang paling utama terletak pada kecerdasan luar biasa, kemampuan memecahkan masalah, dan ingatan yang sangat tajam. Sebagai hewan nokturnal yang lebih aktif di malam hari, tikus menggunakan pola aktivitas ini menghindari ancaman dari manusia maupun predator alami lainnya. Kecerdasan kognitif yang tinggi memungkinkan mereka untuk menganalisis lingkungan sekitar dengan cepat, memetakan rute pelarian yang rumit, mengenali ancaman seperti jebakan, serta mengingat jalur terbaik menuju tempat berlindung yang aman.

Selain kecerdasan, adaptabilitas fisik tikus merupakan pilar penting dalam strategi bertahan hidup mereka. Tikus dibekali dengan indra penciuman yang sangat sensitif untuk mendeteksi bahaya dari kejauhan dan memandu navigasi dalam gelap. Secara anatomis, mereka memiliki gigi seri yang tumbuh secara terus-menerus dan rahang yang sangat kuat, secara alami memaksa mereka untuk mengerat berbagai material guna menjaga dengan kapasitas luar biasa.

3. Pengondisian klasik atau trauma asosiatif

ilustrasi tikus
ilustrasi tikus (unsplash.com/Joshua J. Cotten)

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Brain Sciences (MDPI), tikus memiliki pengondisian klasik sekaligus trauma asosiatif yang diperoleh melalui mekanisme pembelajaran observasional. Dalam eksperimen, tikus sebagai pengamat dapat merasakan ketakutan dan menunjukkan perilaku membeku freezing hanya dengan melihat tikus demonstrator menunjukkan respon takut terhadap stimulis lingkungan atau suara tertentu, tanpa si pengamat sendiri pernah menerima kejutan secara langsung. Hal ini menunjukkan bahwa tikus mampu mengasosiasikan stimulus netral di sekitarnya dengan emosi negatif secara sosial.

4. Kemampuan navigasi spasial dan bau

ilustrasi tikus
ilustrasi tikus (unsplash.com/Brett Jordan)

Tikus memiliki kemampuan imajinasi yang mirip dengan manusia. Berdasarkan penelitian dari Howard Hughes Medical Institute mengungkapkan bahwa tikus mampu menavigasi lingkungan yang pernah mereka jelajahi sebelumnya hanya dengan menggunakan kekuatan pikiran. Penemuan ini membuktikan untuk pertama kalinya bahwa hewan dapat secara sukarela dan fleksibel mengaktifkan representasi mental tentang tempat-tempat yang jauh dari lokasi fisik mereka saat itu, yang menjadi komponen dasar dari fungsi imajinasi.

Proses eksperimen dilakukan dengan menanamkan elektroda ke dalam bagian otak tikus yang disebut hipokampus, yaitu wilayah yang bertanggung jawab atas memori spasial dan pembuatan peta mental. Awalnya, tikus berlari di atas bola treadmill dalam arena VR 360 derajat untuk mencapai target tertentu guna mendapatkan hadiah. Setelah aktivitas sarafnya terekam, sistem treadmill diputuskan dari arena VR. Hasilnya, tikus-tikus tersebut tetap mampu mengarahkan diri ke target di layar VR murni dengan mengendalikan aktivitas otak mereka tanpa bergerak secara fisik.

5. Emosi tikus punya empati, tapi tidak untuk dendam

ilustrasi tikus
ilustrasi tikus (unsplash.com/Svetozar Cenisev)

Penelitian dari Universitas Minnesota mengungkapkan bahwa tikus memiliki kemampuan kognitif untuk merasakan rasa penyesalan atau regret, sebuah emosi yang sebelumnya dianggap hanya dimiliki oleh manusia. Berbeda dengan rasa kecewa yang muncul ketika ekspektasi tidak terpenuhi, penyesalan pada tikus terjadi saat mereka menyadari bahwa keputusan yang mereka ambil salah dan mereka melewatkan kesempatan yang lebih baik. Melalui pemindaian aktivitas saraf, para ilmuwan menemukan bahwa penyesalan ini melibatkan area otak yang sama dengan manusia saat mengevaluasi keputusan, yaitu korteks orbitofrontal dan ventral striatum.

Dalam eksperimen laboratorium menggunakan labirin makanan, emosi penyesalan ini terwujud secara nyata baik melalui perilaku maupun aktivitas otak tikus. Ketika seekor tikus menolak makanan di satu titik tapi kemudian menyadari bahwa ia harus menunggu lebih lama di titik berikutnya, tikus tersebut secara fisik akan menengok kembali ke titik sebelumnya. Bersamaan dengan itu, sirkuit saraf di otaknya yang merepresentasikan pilihan yang ia lewatkan akan menyala, membuktikan bahwa tikus tidak hanya melihat ke belakang secara fisik tetapi juga sedang memikirkan keputusan masa lalu yang seharusnya ia ambil.

Anggapan bahwa tikus pendendam secara personal tidak sepenuhnya benar secara ilmiah. Perilaku agresif mereka justru bukan didasari oleh rasa benci atau dendam, melainkan berkat kemampuan memori spasial dan kognitif mereka yang luar biasa. Hewan ini hanya belajar dari pengalaman masa lalu untuk menjauhi bahaya, sebuah mekanisme evolusi cerdas, bukan aksi balas dendam ala film drama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa

Related Articles

See More