Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Fakta Pyrocumulonimbus, Awan Badai yang Bisa Tumbuh dari Karhutla

4 min read
5 Fakta Pyrocumulonimbus, Awan Badai yang Bisa Tumbuh dari Karhutla
Pyrocumulonimbus (unsplash.com/Jason Zeis)
  • Pyrocumulonimbus terbentuk di atas kebakaran sangat intens ketika panas mengangkat udara, uap air, dan asap hingga berkembang menjadi awan badai dengan konveksi kuat.
  • Awan pyroCb dapat memicu petir, hujan, dan angin kencang yang berpotensi memperkuat atau mengubah arah api, bahkan menyalakan titik kebakaran baru.
  • Arus kuat pyroCb mampu membawa asap hingga troposfer atas atau stratosfer, sehingga partikel bertahan lama dan menyebar jauh; pembentukannya bergantung pada berbagai kondisi kebakaran dan atmosfer.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pyrocumulonimbus atau pyroCb merupakan awan badai yang terbentuk di atas kebakaran dengan intensitas tinggi. Fenomena ini muncul ketika panas dari api mendorong udara panas, uap air, dan asap naik dengan cepat ke atmosfer. Dalam kondisi tertentu, arus naik tersebut berkembang menjadi awan badai yang mampu menghasilkan cuaca ekstrem.

Keberadaan pyroCb membuat kebakaran hutan dan lahan tidak hanya dipengaruhi cuaca, tetapi juga dapat menciptakan kondisi atmosfernya sendiri. Awan ini dapat menghasilkan petir, hujan, dan angin kencang sekaligus membawa asap ke lapisan atmosfer yang sangat tinggi. Dampaknya bahkan dapat terasa jauh dari lokasi kebakaran.

  1. 1. Terbentuk dari panas kebakaran

    Pyrocumulonimbus
    Pyrocumulonimbus (pexels.com/Lika Sadradze)

    Pyrocumulonimbus atau pyroCb merupakan awan badai yang terbentuk di atas kebakaran yang sangat intens. Panas dari api membuat udara bergerak naik dengan cepat sambil membawa uap air dan asap ke atmosfer. Jika arus naik cukup kuat, uap air mengembun dan membentuk awan yang dapat berkembang menjadi cumulonimbus.

    NASA menjelaskan bahwa proses ini membuat kebakaran dapat menghasilkan cuacanya sendiri. Awan yang terbentuk bukan sekadar kumpulan asap, karena bagian dalamnya dapat mengalami konveksi kuat seperti badai biasa. Karena itu, kemunculan pyroCb menandakan adanya interaksi erat antara api dan atmosfer.

  2. 2. Bisa memicu petir dan angin kencang

    Pyrocumulonimbus
    Pyrocumulonimbus (commons.wikimedia.org/EllsworthC)

    PyroCb dapat berkembang menjadi badai yang menghasilkan petir, hujan, dan angin kencang. Di dalam awan yang menjulang tinggi, terbentuk kristal es yang membantu memisahkan muatan listrik hingga memicu sambaran petir. Hujan juga dapat turun dari awan tersebut ketika proses pembentukan presipitasi berlangsung.

    Namun, hujan tidak selalu membuat kebakaran langsung mereda. NASA mencatat bahwa angin kuat dan aliran udara dari badai dapat memperkuat api atau mengubah arah penyebarannya. Petir dari pyroCb juga berpotensi menyalakan titik api baru di kawasan yang belum terbakar dan memperluas area kebakaran.

  3. 3. Asapnya bisa mencapai stratosfer

    Pyrocumulonimbus
    Pyrocumulonimbus (commons.wikimedia.org/Merrin Macleod)

    Salah satu ciri paling penting pyroCb adalah kemampuannya mengangkat asap jauh lebih tinggi daripada kebakaran biasa. Arus udara yang sangat kuat di dalam badai dapat membawa partikel asap menuju troposfer atas dan, pada kejadian tertentu, menembus stratosfer. Ketinggian yang dicapai bergantung pada kekuatan api dan kondisi atmosfer.

    NASA mencatat bahwa pyroCb terbesar dapat membawa asap hingga sekitar 10 sampai 15 kilometer di atas permukaan Bumi. Beberapa penelitian bahkan mendokumentasikan injeksi asap yang mencapai lebih dari 20 kilometer. Setelah berada di stratosfer, partikel asap dapat bertahan lebih lama dan menyebar sangat luas.

  4. 4. Dapat menyebarkan asap jarak jauh

    Pyrocumulonimbus
    Pyrocumulonimbus (commons.wikimedia.org/Merrin Macleod)

    Asap yang masuk ke stratosfer tidak lagi berada pada lapisan atmosfer yang sama dengan sebagian besar cuaca sehari-hari. Karena itu, partikel tersebut dapat bertahan lebih lama dan terbawa arus udara ke wilayah yang jauh dari lokasi kebakaran. Pergerakannya dapat membuat dampak sebuah kebakaran melampaui kawasan di sekitar sumber api.

    Contohnya terlihat pada kebakaran Australia pada 2019 dan 2020 yang menghasilkan banyak pyroCb. Penelitian di jurnal Nature mencatat bahwa lebih dari separuh dari 38 pyroCb yang diamati dalam peristiwa tersebut menyuntikkan asap langsung ke stratosfer. Plume asap kemudian menyebar ke wilayah luas di Belahan Bumi Selatan selama berbulan-bulan.

  5. 5. Tidak semua kebakaran membentuk pyroCb

    Pyrocumulonimbus
    Pyrocumulonimbus (commons.wikimedia.org/Eric Neitzel)

    PyroCb hanya terbentuk pada sebagian kecil kebakaran, sehingga keberadaannya tidak dapat ditentukan dari ukuran api saja. Intensitas pembakaran, jumlah panas yang dilepaskan, kelembapan, angin, dan kondisi atmosfer turut memengaruhi terbentuknya badai tersebut. Kombinasi faktor itu menentukan apakah asap dan udara panas dapat membentuk arus naik yang cukup kuat.

    NASA kini meneliti proses tersebut melalui misi INSPYRE pada musim kebakaran 2026. Penelitian itu bertujuan memahami mengapa sebagian kebakaran menghasilkan pyroCb dan mengapa sebagian lainnya tidak. Hasil pengamatan diharapkan membantu memperbaiki model atmosfer serta pemahaman tentang pergerakan asap dari kebakaran hutan.

    Pyrocumulonimbus menunjukkan bahwa kebakaran dengan intensitas tinggi dapat berinteraksi langsung dengan atmosfer dan menghasilkan sistem cuaca sendiri. Awan ini dapat memperumit perilaku kebakaran melalui petir, angin, dan perubahan arah penyebaran api. Di sisi lain, kemampuan pyroCb mengangkat asap ke atmosfer atas membuat dampak kebakaran dapat menjangkau wilayah yang jauh dari sumbernya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More