Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Rufous Collared Kingfisher, Cekakak Hutan Melayu yang Menawan

5 Fakta Rufous Collared Kingfisher, Cekakak Hutan Melayu yang Menawan
burung actenoides concretus (inaturalist.org/ou.wildlife)
Intinya Sih
  • Rufous-collared Kingfisher atau cekakak-hutan melayu hidup di hutan tropis lebat Asia Tenggara dan menjadi indikator penting kesehatan ekosistem hutan dataran rendah.
  • Burung ini memiliki warna kontras dengan kerah cokelat kemerahan, serta lebih sering memangsa serangga dan hewan kecil dibanding ikan seperti raja udang lainnya.
  • Persebarannya terbatas di Asia Tenggara dan berstatus Near Threatened menurut IUCN, dengan deforestasi menjadi ancaman utama bagi kelangsungan populasinya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Di balik rimbunnya hutan tropis Asia Tenggara, tersembunyi seekor burung dengan warna kontras yang memikat perhatian para pengamat burung. Actenoides concretus, atau Rufous-collared Kingfisher, dikenal dalam bahasa Indonesia sebagai cekakak-hutan melayu. Spesies ini bukan hanya indah secara visual, tetapi juga memiliki karakter ekologis yang unik dibandingkan kebanyakan raja udang lainnya.

Berbeda dari citra umum kingfisher yang identik dengan sungai dan danau, burung ini justru lebih sering ditemukan jauh di dalam hutan lebat. Kehadirannya menjadi indikator penting bagi kesehatan ekosistem hutan dataran rendah. Berikut 5 fakta menarik Cekakak-hutan melayu yang menawan ini.

1. Hidup di hutan tropis yang lebat

Burung Actenoides concretus
burung actenoides concretus (inaturalist.org/Chen Gim Choon)

Rufous-collared Kingfisher mendiami hutan primer dan hutan sekunder tua di kawasan Asia Tenggara. Dilansir BirdLife International, habitatnya meliputi hutan dataran rendah hingga perbukitan, terutama di wilayah Semenanjung Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan. Spesies ini cenderung menghindari area terbuka dan lebih memilih kanopi hutan yang rapat.

Kehidupan di dalam hutan membuat burung ini relatif sulit diamati dibandingkan kingfisher lain yang hidup di sekitar badan air terbuka. Ia lebih sering terdengar daripada terlihat karena sifatnya yang pemalu. Adaptasi terhadap lingkungan hutan inilah yang membedakannya dari banyak kerabatnya dalam keluarga Alcedinidae.

2. Warna kontras dengan kerah cokelat kemerahan

Burung Actenoides concretus
burung actenoides concretus (inaturalist.org/Peter Ericsson)

Nama "rufous-collared" merujuk pada warna cokelat kemerahan mencolok di bagian lehernya. Warna tersebut kontras dengan tubuh bagian atas yang cenderung gelap kebiruan dan bagian bawah yang lebih terang. Kombinasi ini menjadikannya salah satu kingfisher hutan dengan tampilan paling menarik secara visual.

Perbedaan warna antara jantan dan betina juga terlihat, meskipun tidak terlalu ekstrem. Dilansir eBird, variasi pola warna membantu identifikasi di lapangan, terutama bagi pengamat burung berpengalaman. Detail warna ini menjadi salah satu alasan spesies ini digemari dalam dunia birdwatching.

3. Bukan pemakan ikan utama

Burung Actenoides concretus
burung actenoides concretus (inaturalist.org/damiangan)

Meski termasuk keluarga raja udang, Rufous-collared Kingfisher tidak bergantung pada ikan sebagai sumber makanan utama. Ia lebih sering memangsa serangga besar, kadal kecil, katak, dan hewan invertebrata lainnya di lantai hutan. Pola makan ini menyesuaikan dengan habitatnya yang jauh dari perairan terbuka.

FeatherScan menjelaskan bahwa strategi berburu biasanya dilakukan dengan bertengger diam sebelum menyambar mangsa secara cepat. Teknik ini menunjukkan adaptasi terhadap lingkungan hutan yang minim ruang terbuka. Dengan demikian, peran ekologisnya lebih terkait pengendalian populasi serangga dan hewan kecil di ekosistem hutan.

4. Persebaran terbatas di Asia Tenggara

Burung Actenoides concretus
burung actenoides concretus (inaturalist.org/Zé Fontes)

Spesies ini ditemukan di Thailand bagian selatan, Semenanjung Malaysia, Brunei, serta pulau Sumatra dan Kalimantan di Indonesia. IUCN Red List menyebutkan bahwa persebarannya yang terbatas membuatnya sangat bergantung pada keberadaan hutan tropis yang masih utuh. Fragmentasi habitat menjadi ancaman utama bagi kelangsungan populasinya.

Karena tidak bermigrasi jarak jauh, populasi lokal sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Hilangnya hutan secara langsung berdampak pada berkurangnya tempat bersarang dan sumber makanan. Oleh sebab itu, konservasi hutan dataran rendah menjadi kunci perlindungan spesies ini.

5. Berstatus near-threatened

Burung Actenoides concretus
burung actenoides concretus (inaturalist.org/owling)

Menurut IUCN Red List, Rufous-collared Kingfisher dikategorikan sebagai Near Threatened. Status ini menunjukkan bahwa spesies tersebut belum termasuk terancam punah, tetapi berpotensi masuk kategori lebih tinggi jika tekanan terhadap habitat terus berlanjut. Deforestasi untuk perkebunan dan pembangunan menjadi faktor utama penurunan populasi.

Upaya konservasi yang berfokus pada perlindungan kawasan hutan tropis sangat penting untuk memastikan kelangsungan spesies ini. Perlindungan habitat tidak hanya bermanfaat bagi burung ini, tetapi juga bagi keanekaragaman hayati lainnya. Keberadaannya menjadi simbol pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem hutan Asia Tenggara.

Rufous-collared Kingfisher adalah contoh nyata bahwa keindahan alam sering tersembunyi di tempat yang jarang terlihat. Dengan warna mencolok, perilaku unik, dan ketergantungan kuat pada hutan tropis, Rufous-collared Kingfisher memiliki nilai ekologis sekaligus estetika yang tinggi. Melindungi habitatnya berarti menjaga salah satu permata biodiversitas Asia Tenggara agar tetap lestari bagi generasi mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More