Kenapa Ada Gempa yang Terjadi Hampir Bersamaan? Ini Jawaban Peneliti

- Peneliti menemukan bahwa zona penghalang di sekitar sesar transformasi samudra berperan sebagai ‘rem’ alami, membuat gempa di area tersebut terjadi dengan pola yang lebih teratur dan dapat diprediksi.
- Studi pada sesar Gofar menunjukkan proses penguatan dilatasi akibat infiltrasi air laut ke batuan menjadi kunci dalam membatasi kekuatan gempa besar dan menjaga siklus seismik tetap stabil.
- Dua eksperimen lapangan menggunakan seismometer dasar laut pada 2008 dan 2019–2022 merekam ribuan gempa kecil, membantu ilmuwan memahami mekanisme detail aktivitas seismik di batas lempeng Pasifik–Nazca.
Selama lebih dari tiga dekade, para ahli telah berusaha memecahkan misteri mengapa jenis sesar bawah laut tertentu memicu gempa bumi dengan pola yang jauh lebih dapat diprediksi dibandingkan sesar lainnya.
Gempa-gempa ini dapat terjadi hampir seperti jam yang tepat waktu, dan hampir selalu memiliki magnitudo yang sama. Sebuah studi baru menawarkan jawabannya.
Peneliti temukan prosesnya
Sesar transformasi samudra ini, sebagaimana dikenal, dikelilingi oleh zona penghalang, yang menurut para peneliti dari seluruh Amerika Serikat dan Kanada bertindak sebagai 'rem' alami bagi aktivitas gempa bumi.
Sebuah proses yang dikenal sebagai penguatan dilatasi, yang terjadi ketika air laut meresap jauh ke dalam batuan, adalah yang melindungi bagian-bagian sesar ini dari kekerasan gempa yang lebih besar, demikian laporan para peneliti.
Dengan mengungkap rahasia sesar-sesar yang sangat dapat diprediksi ini, diharapkan model gempa bumi dapat ditingkatkan secara lebih umum.
Analisis data

Para peneliti menganalisis data dari dua segmen di sepanjang sesar transformasi Gofar, sebuah palung bawah laut yang memanjang yang menandai batas antara lempeng tektonik Pasifik dan Nazca, di sebelah barat Ekuador dan jauh di bawah Samudra Pasifik.
Lempeng-lempeng ini saling bergesekan dengan kecepatan sekitar 140 milimeter (5,5 inci) per tahun, dan sesar tersebut telah memicu gempa bumi berkekuatan 6 skala richter secara teratur setiap lima atau enam tahun sejak pencatatan data dimulai pada 1995.
Dalam dua eksperimen terpisah yang dilakukan pada tahun 2008 dan 2019–2022, alat seismometer dasar laut dipasang langsung di dasar laut untuk memantau pergerakan. Alat-alat ini merekam detail puluhan ribu gempa kecil di sekitar dua gempa besar.
Dibutuhkan penelitian lebih lanjut
Meskipun sejauh ini hanya satu sesar spesifik yang telah dianalisis dalam studi ini, zona penghalang seperti yang terdapat di sekitar sesar Gofar mungkin juga memengaruhi sesar-sesar lainnya.
Hal itu akan memerlukan jenis retakan kompleks dan infiltrasi air laut yang sama seperti yang diamati dalam studi. Para peneliti menyarankan agar penelitian di masa depan dapat menyelidiki hal tersebut, mungkin dengan menggunakan teknik seperti pengeboran dasar laut.
Siklus seismik yang dapat diprediksi dan area patahan yang terbatas secara spasial, sebagaimana didokumentasikan dalam eksperimen OBS tahun 2008 dan 2020, menunjukkan bahwa penempatan alat yang terarah dan berlangsung selama beberapa tahun sangat penting untuk menangkap detail aktivitas seismik yang terkait dengan gempa bumi besar di sesar transformasi samudra serta untuk mengungkap mekanisme yang mendasarinya.


















