Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Sabratha, Kota Romawi Kuno dengan Teater di Tepi Mediterania
Sabratha (commons.wikimedia.org/bobrayner)
  • Sabratha di pesisir Libya bermula sebagai pos dagang Fenisia pada akhir abad ke-5 SM, lalu berkembang berkat pelabuhan dan jalur ekspor minyak zaitun serta produk Afrika.
  • Setelah masuk wilayah Romawi pada 46 SM, kota ini ditata ulang dan diperluas dengan pemandian, kuil, basilika, pelabuhan, serta bangunan publik pada abad ke-2 hingga ke-3 M.
  • Teater Romawi Sabratha, salah satu yang terbesar dan terpelihara di Afrika Utara, kini menghadapi ancaman erosi pantai, pelapukan air laut, dan kerusakan konflik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sabratha merupakan kota kuno di pesisir Mediterania, sekitar 70 kilometer sebelah barat Tripoli, Libya. Kota ini berkembang dari pos dagang Fenisia menjadi pusat perkotaan penting pada masa Romawi. Reruntuhannya kini memperlihatkan perpaduan pengaruh Punisia, Romawi, dan Kristen awal.

Letaknya di tepi laut turut membentuk perkembangan ekonomi dan tata ruang Sabratha. Kota ini juga memiliki pelabuhan, kawasan perdagangan, bangunan publik, serta sejumlah monumen yang masih dapat dikenali. Salah satu peninggalannya yang paling menarik perhatian adalah teater Romawi dengan latar panggung bertingkat.

1. Berawal sebagai pos dagang Fenisia

Sabratha (commons.wikimedia.org/Houss 2020)

Sabratha awalnya merupakan pos dagang Fenisia yang berdiri pada akhir abad ke-5 SM di pesisir Mediterania Libya. Menurut UNESCO, Sabratha berada di dekat sebuah pelabuhan kecil yang terlindung dari angin barat. Kondisi tersebut mendukung kegiatan perdagangan di kawasan pesisir dan membuat kota ini berkembang sebagai pusat pertukaran barang.

Letaknya membuat Sabratha menjadi jalur keluarnya minyak zaitun dan berbagai produk eksotis dari pedalaman Afrika menuju kawasan Mediterania. Jejak permukiman Fenisia ditemukan di bawah kota Romawi. Temuan itu menunjukkan bahwa pusat perdagangan ini berkembang jauh sebelum bangunan monumental Romawi berdiri.

2. Dibangun kembali pada masa Romawi

Sabratha (commons.wikimedia.org/SashaCoachman)

Sabratha berubah besar setelah masuk ke wilayah Romawi pada 46 SM. UNESCO mencatat gempa pada abad pertama Masehi mempercepat penataan kembali kota. Pembangunan kemudian semakin berkembang pada abad ke-2 dan ke-3 M ketika Sabratha mengalami pertumbuhan ekonomi dan penduduk yang pesat.

Pada masa tersebut, kawasan kota diperluas dengan bangunan publik baru, termasuk pemandian, kuil, basilika, dan teater. Perubahan itu juga mengubah tata ruang kota secara bertahap dan memperluas kawasan perkotaan. Sabratha kemudian berkembang menjadi kota dengan warisan Punisia yang berpadu dengan tata kota dan bangunan bergaya Romawi.

3. Teaternya menjadi bangunan paling ikonik

Sabratha (unsplash.com/ABD ALRHMAN ABU ALASAD)

Teater Romawi menjadi salah satu peninggalan paling menonjol di Sabratha. UNESCO menyebut bangunan ini sebagai salah satu teater Romawi yang paling terpelihara di dunia dan termasuk yang terbesar di Afrika Utara. Bagian latar panggungnya memiliki tiga tingkat dekorasi dengan ceruk dan kolom.

Teater tersebut dibangun di kawasan kota yang berkembang di sepanjang laut pada masa Antoninus terakhir. Struktur bangunannya menjulang hampir 25 meter dan memiliki susunan arsitektur yang sangat rinci. Bentuk tersebut memperlihatkan skala bangunan pertunjukan publik yang berkembang di Sabratha pada masa Romawi dan menjadi ciri paling dikenal dari situs ini.

4. Kota ini menghadap Laut Mediterania

Sabratha (commons.wikimedia.org/Franzfoto)

Sabratha berada di pesisir Mediterania, sekitar 70 kilometer di sebelah barat Tripoli. Posisi tersebut membuat kota ini terhubung langsung dengan jalur perdagangan laut. Kawasan pesisir menjadi bagian penting dalam perkembangan Sabratha sebagai pusat perdagangan dan pelabuhan di Afrika Utara.

Menurut UNESCO, pelabuhan kecil di Sabratha kemudian dilengkapi dengan dermaga buatan. Kawasan kota bahkan berkembang ke arah laut ketika Sabratha mengalami masa pertumbuhan pada abad ke-2 dan ke-3 M. Hubungan dengan laut turut memengaruhi perkembangan ekonomi dan tata ruang kota, termasuk munculnya kawasan publik baru di dekat pesisir.

5. Reruntuhannya rentan mengalami kerusakan

Sabratha (commons.wikimedia.org/Franzfoto)

Sabratha masih memiliki banyak bangunan kuno yang dapat dikenali, tetapi kondisi situsnya tidak sepenuhnya aman. UNESCO mencatat kawasan ini menghadapi erosi pantai dan pelapukan akibat percikan air laut. Batu kapur yang digunakan pada bangunan juga rentan mengalami kerusakan alami dalam lingkungan pesisir.

Situs tersebut pernah mengalami kerusakan akibat konflik bersenjata, termasuk pada bagian teater. Pada 2026, UNESCO masih menempatkan Sabratha dalam Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya. Kondisi ini membuat konservasi berkelanjutan menjadi bagian penting dalam perlindungan situs dan peninggalan arkeologisnya.

Sabratha memperlihatkan perubahan sebuah pusat perdagangan Fenisia menjadi kota yang berkembang mengikuti pola perkotaan Romawi. Letaknya di pesisir Mediterania turut mendukung perdagangan sekaligus membentuk perkembangan kawasan kota. Teater, pelabuhan, kuil, dan bangunan publiknya kini menjadi bukti perkembangan kota kuno di Afrika Utara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article