Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

UNESCO Tetapkan Beijing Jadi Ibu Kota Arsitektur Dunia 2029

UNESCO Tetapkan Beijing Jadi Ibu Kota Arsitektur Dunia 2029
potret Kota Beijing, China (pexels.com/Eric Prouzet)
Intinya Sih
Gini Kak
  • UNESCO menetapkan Beijing sebagai Ibu Kota Arsitektur Dunia 2029, mengakui kekayaan warisan arsitektur serta visi pengembangan kota berkelanjutan.
  • Beijing akan menggelar program setahun bertema “Returning to Balance”, meliputi pameran, konferensi, pendidikan, dan kegiatan budaya untuk mendorong dialog tentang kota inklusif.
  • Program UNESCO dan UIA ini digelar tiap tiga tahun bagi tuan rumah Kongres Arsitek Dunia UIA, menyoroti arsitektur, perencanaan kota, budaya, dan SDGs.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menetapkan Beijing sebagai World Capital of Architecture atau Ibu Kota Arsitektur Dunia 2029. Penetapan tersebut diberikan sebagai pengakuan atas kekayaan warisan arsitektur ibu kota China serta visinya dalam pengembangan kota yang berkelanjutan.

Direktur Jenderal UNESCO Khaled El-Enany mengatakan, pemilihan Beijing mencerminkan kepercayaan UNESCO terhadap kemampuan kota tersebut dalam mendorong dialog internasional mengenai peran arsitektur bagi kehidupan masyarakat dan pelestarian warisan budaya.

“Terpilihnya Beijing mencerminkan kepercayaan terhadap kemampuannya untuk meluncurkan dialog internasional baru mengenai peran arsitektur dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan melestarikan warisan bagi generasi mendatang,” kata El-Enany, dilansir dari Sana News, Kamis (6/8/2026).

1. Diakui karena padukan warisan dan inovasi

potret Temple of Heaven, Beijing
potret Temple of Heaven, Beijing (commons.wikimedia.org/Shujianyang)

Dalam pernyataan resminya, UNESCO menyebut Beijing dipilih karena dinilai mampu memadukan salah satu warisan arsitektur terkaya di dunia dengan berbagai proyek pembaruan perkotaan.

Menurut UNESCO, pendekatan tersebut menunjukkan bagaimana pelestarian warisan budaya, inovasi, dan kehidupan masyarakat dapat berjalan beriringan untuk membangun kota yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Beijing juga dinilai memiliki visi jangka panjang dalam pengembangan kawasan perkotaan yang berorientasi pada masyarakat.

2. Usung tema “Returning to Balance”

ilustrasi Beijing, China
ilustrasi Beijing, China (unsplash.com/Christian Lue)

Sebagai World Capital of Architecture 2029, Beijing akan menggelar rangkaian kegiatan selama satu tahun dengan tema Returning to Balance.

Program tersebut akan mencakup pameran, konferensi, serta berbagai kegiatan pendidikan dan kebudayaan yang bertujuan mendorong dialog internasional mengenai peran lingkungan binaan dalam mewujudkan kota yang inklusif, berkelanjutan, dan berpusat pada kebutuhan masyarakat.

UNESCO menyatakan program tersebut juga menjadi bagian dari komitmen bersama dengan International Union of Architects (UIA) untuk menjadikan arsitektur, budaya, dan pembangunan perkotaan berkelanjutan sebagai pilar utama kerja sama internasional.

3. Program digelar setiap tiga tahun

ilustrasi logo UNESCO (wikipedia.org)
ilustrasi logo UNESCO (wikipedia.org)

Program World Capital of Architecture diluncurkan UNESCO bersama UIA dan diberikan setiap tiga tahun kepada kota tuan rumah UIA World Congress of Architects.

Program tersebut bertujuan menyoroti peran arsitektur, perencanaan kota, dan budaya dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Sebelum Beijing, gelar tersebut pernah disandang Rio de Janeiro pada 2020, Kopenhagen pada 2023, dan Barcelona pada 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More