Apa yang terjadi ketika makanan tidak lagi dipandang sekadar kebutuhan dasar, tetapi diperlakukan sebagai aset ekonomi? Jawabannya bisa dilihat di sejumlah kota dunia yang berhasil menjadikan gastronomi sebagai bagian penting dari mesin pariwisata dan industri kreatif. Restoran tumbuh, festival kuliner mendatangkan wisatawan, produk pangan lokal memperoleh pasar lebih luas, sementara petani, nelayan, koki, pelaku UMKM, hingga industri pengolahan ikut masuk dalam rantai nilai. Model seperti inilah yang membuat gastronomi semakin menarik bagi pemerintah kota. Satu piring makanan ternyata bisa menggerakkan jauh lebih banyak sektor ekonomi daripada yang terlihat di meja makan.
7 Negara Ubah Gastronomi Jadi Mesin Ekonomi, Diakui UNESCO

- UNESCO menetapkan kota, bukan negara, sebagai Creative City of Gastronomy berdasarkan ekosistem kuliner, tradisi, produk lokal, festival, pendidikan, kreativitas, dan pembangunan berkelanjutan.
- Chengdu, Jeonju, Tsuruoka, dan Parma mengembangkan gastronomi melalui restoran, pelatihan, riset, pariwisata, pertanian, perikanan, hingga industri agri-pangan untuk memperluas rantai nilai ekonomi.
- Arequipa, Gaziantep, dan Bergen memanfaatkan festival, branding sejarah, perdagangan, serta seafood berkelanjutan untuk menciptakan lapangan kerja, menggerakkan pariwisata, dan mendukung produsen lokal.
UNESCO bahkan memasukkan Gastronomy sebagai salah satu bidang dalam UNESCO Creative Cities Network (UCCN). Namun, perlu diluruskan bahwa UNESCO tidak memberikan predikat “negara gastronomi”, melainkan menetapkan kota sebagai Creative City of Gastronomy. Kota-kota di jaringan ini dinilai memiliki ekosistem gastronomi yang hidup, menjaga tradisi kuliner, mengembangkan produk lokal, menyelenggarakan festival dan pendidikan, serta menghubungkan kreativitas dengan pembangunan berkelanjutan. Penasaran apa saja negara ubah gastronomi jadi mesin ekonomi hingga sukses diakui UNESCO? Yuk, telusuri dalam artikel ini!
1. Tiongkok punya Chengdu, kuliner jadi industri raksasa

ilustrasi gastronomi Chengdu di Tiongkok (commons.wikimedia.org/Сюй Фаньцзе) Chengdu bukan hanya kota yang terkenal dengan makanan Sichuan yang pedas dan kaya rasa. Kota di Tiongkok ini sudah menjadi Creative City of Gastronomy sejak 2010, dan gastronomi di sana berkembang menjadi bagian penting dari sektor jasa serta perekonomian perkotaan. UNESCO mencatat Chengdu memiliki 62.509 perusahaan katering yang mempekerjakan sekitar 248.500 orang, sementara jumlah restorannya telah melampaui 60 ribu dengan lebih dari 2.300 chef dan serving masters ternama. Angka tersebut memperlihatkan bagaimana kuliner bisa berkembang dari budaya sehari-hari menjadi ekosistem bisnis berskala besar.
Kekuatan Chengdu terletak pada kemampuannya untuk menjadikan identitas kuliner sebagai brand ekonomi kota. Makanan Sichuan tidak hanya dipasarkan melalui restoran, tetapi juga melalui festival, pendidikan, penelitian kuliner, museum makanan, pusat budaya teh, dan berbagai aktivitas yang melibatkan masyarakat. UNESCO mencatat Chengdu menyelenggarakan kegiatan gastronomi sepanjang tahun, termasuk Chengdu International Food and Tourism Festival. Artinya, wisatawan tidak hanya menjadi konsumen makanan, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem pengalaman yang membuat uang wisatawan terus berputar di berbagai sektor.
Model Chengdu menunjukkan satu pelajaran bisnis yang menarik; produk lokal akan semakin bernilai ketika identitasnya kuat dan ekosistem pendukungnya lengkap. Pemerintah kota tidak hanya mempertahankan resep tradisional, tetapi juga mendorong riset, pelatihan, pertukaran internasional, dan pengembangan industri kreatif gastronomi. Dalam laporan UNESCO, Chengdu bahkan aktif berjejaring dengan kota-kota gastronomi lain. Dengan begitu, kuliner tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, melainkan diperlakukan sebagai industri masa depan.
2. Korea Selatan punya Jeonju, tradisi jadi ekonomi kreatif

ilustrasi gastronomi Jeonju di Korsel (unsplash.com/Jakub Kapusnak) Jeonju membuktikan bahwa resep tradisional bisa menjadi aset ekonomi kreatif ketika dikelola secara serius. Kota ini menjadi Creative City of Gastronomy pada 2012 dan dikenal sebagai salah satu pusat budaya makanan Korea. Dalam laporan UNESCO, Jeonju menempatkan pengembangan gastronomi sebagai bagian dari upaya mempertahankan tradisi sekaligus menciptakan ekonomi kreatif. Pemerintah kota juga menjalankan program untuk menemukan dan mengembangkan ahli gastronomi, restoran kreatif, serta usaha makanan tradisional.
Salah satu strategi Jeonju adalah mengubah tradisi kuliner menjadi pengalaman wisata dan agenda ekonomi. Kota ini menyelenggarakan Jeonju Bibimbap Festival dan International Expo for Fermented Foods, sekaligus mengembangkan program untuk mendukung industri makanan lokal dan memperkenalkan bibimbap serta kuliner Korea ke pasar yang lebih luas. Dengan cara ini, makanan tidak hanya dijual dalam bentuk hidangan, tetapi juga melalui festival, edukasi, acara internasional, penelitian, dan promosi budaya. Setiap aktivitas tersebut menciptakan peluang ekonomi tambahan bagi restoran, produsen pangan, pelaku acara, pekerja kreatif, dan sektor pariwisata.
Yang menarik, Jeonju juga memasukkan gastronomi ke dalam agenda pembangunan berkelanjutan. Laporan UNESCO periode 2018—2021 menyebut kota ini menjalankan program pengembangan tenaga ahli gastronomi, restoran kreatif, pelestarian usaha makanan tradisional, serta berbagai proyek yang menghubungkan budaya pangan dengan pembangunan kota berkelanjutan. Bahkan Jeonju merencanakan anggaran sekitar US$6,75 juta untuk rencana aksi empat tahun berikutnya dalam laporan tersebut. Ini menunjukkan bahwa kuliner bisa diperlakukan seperti investasi pembangunan; ada anggaran, program, sumber daya manusia, promosi, dan target pengembangan.
3. Jepang punya Tsuruoka, cuan mengalir dari hulu

ilustrasi gastronomi di Jepang (pexels.com/Change CC) Tsuruoka memberikan contoh yang berbeda. Kota di Jepang ini menjadi Creative City of Gastronomy pada 2014, tetapi kekuatan gastronominya bukan hanya berasal dari restoran. Tsuruoka berusaha menghubungkan gastronomi dengan pertanian, kehutanan, perikanan, pengolahan pangan, pariwisata, dan restoran. Dalam laporan UNESCO, pemerintah kota secara eksplisit menggambarkan gastronomi sebagai alat untuk mengaktifkan industri-industri tersebut.
Strategi tersebut memperlihatkan pentingnya membangun bisnis kuliner dari hulu ke hilir. Ketika wisatawan menikmati makanan lokal di restoran, nilai ekonominya sebenarnya telah melewati banyak tangan. Petani menghasilkan bahan baku, nelayan memasok hasil laut, industri mengolah bahan pangan, koki mengolahnya menjadi hidangan, sementara pemandu wisata dan pelaku hospitality menjadikannya pengalaman. Tsuruoka juga mengembangkan pelatihan bagi pekerja gastronomi, termasuk koki, sommelier, dan pelayan, agar kualitas sumber daya manusianya terus berkembang.
Bahkan, Tsuruoka memiliki program Tsuruoka FŪDO Guide yang melatih pemandu untuk menceritakan gastronomi lokal kepada wisatawan. Ini menarik dari perspektif bisnis karena menunjukkan bahwa cerita tentang makanan juga bisa menjadi produk ekonomi. Wisatawan tidak hanya membeli makanan, tetapi juga membeli pengetahuan mengenai asal-usul bahan, budaya, dan tradisi di balik hidangan. Model seperti ini membuat pengalaman gastronomi menjadi lebih bernilai sekaligus membuka peluang pekerjaan baru di luar dapur restoran.
4. Italia punya Parma, industri pangan jadi mesin ekonomi

ilustrasi gastronomi di Italia (pexels.com/Newman Photographs) Parma mungkin menjadi contoh paling jelas tentang bagaimana gastronomi dapat menjelma menjadi industri besar yang menghubungkan makanan, manufaktur, riset, perdagangan, dan pariwisata. Kota ini menjadi Creative City of Gastronomy pada 2015 dan dikenal sebagai pusat gastronomi Italian Food Valley. UNESCO mencatat sekitar 30,5 persen tenaga kerja Parma bekerja di industri agri-pangan dan gastronomi, sehingga sektor tersebut menjadi salah satu penggerak utama ekonomi lokal.
Parma juga tidak menjual makanan hanya kepada wisatawan. Kota ini menjadi tempat berlangsungnya Cibus, salah satu pameran penting industri agri-pangan Italia dan internasional. Ada pula Cibus Tec yang mempertemukan teknologi pangan dengan isu efisiensi produksi, keberlanjutan, dan keamanan pangan. Dengan demikian, gastronomi Parma bergerak jauh melampaui restoran. Ada produsen bahan pangan, perusahaan teknologi, peneliti, pengusaha, distributor, hingga pelaku perdagangan internasional.
Yang membuat model Parma menarik adalah adanya hubungan antara kota dan pedesaan. UNESCO mencatat kota ini mendorong produksi lokal, rantai pasok pendek, keterlacakan produk, produk musiman, dan perlindungan keanekaragaman hayati. Jadi, ketika wisatawan membeli produk pangan lokal atau makan di restoran Parma, aktivitas tersebut dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi yang menghubungkan petani dengan konsumen. Inilah bentuk bisnis gastronomi yang matang. Bukan sekadar membuat wisatawan lapar, tetapi menciptakan ekosistem agar semakin banyak pelaku ekonomi mendapatkan bagian dari nilai sebuah makanan.
5. Peru punya Arequipa, festival kuliner jadi magnet ekonomi

ilustrasi gastronomi Arequipa di Peru (pexels.com/Thiago Beariz Fotografias) Arequipa memperlihatkan betapa kuatnya event economy dalam bisnis gastronomi. Kota di Peru ini ditetapkan sebagai Creative City of Gastronomy pada 2019 dan memiliki tradisi kuliner yang menurut UNESCO dapat ditelusuri hingga sekitar 3.500 tahun. Salah satu institusi kuliner terpentingnya adalah picantería, ruang makan tradisional yang berfungsi sekaligus sebagai ruang sosial dan tempat bertemunya tradisi dengan inovasi kuliner.
Dari sisi ekonomi, skalanya juga tidak kecil. UNESCO mencatat sektor gastronomi Arequipa menyediakan lebih dari 80 ribu lapangan pekerjaan dan berkontribusi sekitar 11,5 persen terhadap GDP regional. Kota ini juga menyelenggarakan lebih dari 150 acara dan festival gastronomi setiap tahun, termasuk Festisabores dan Festival de la Chicha. Festival semacam itu berpotensi menciptakan efek berantai bagi restoran, pedagang, produsen bahan pangan, pengusaha event, hotel, transportasi, hingga sektor ekonomi kreatif.
Arequipa juga tidak berhenti pada promosi makanan. Pemerintah daerah mendukung pelatihan gastronomi, penelitian, serta program untuk perempuan dan anak muda dari kelompok ekonomi terbatas. Bahkan UNESCO mencatat adanya rencana Gastronomic Identity Complex untuk memperkuat komunitas produsen pertanian skala kecil serta platform digital untuk promosi, budaya, dan bisnis gastronomi. Strategi tersebut memperlihatkan bahwa kuliner dapat menjadi kendaraan untuk memperluas kesempatan ekonomi, bukan hanya cara meningkatkan jumlah wisatawan.
6. Turki punya Gaziantep, kuliner menghidupkan perdagangan

ilustrasi gastronomi Gaziantep di Turki (pexels.com/Orhan Pergel) Gaziantep menunjukkan bagaimana sejarah dapat dikonversi menjadi economic branding. Kota di Turki ini menjadi Creative City of Gastronomy pada 2015. UNESCO menyebut gastronomi telah menjadi bagian dari identitas budaya Gaziantep sejak zaman besi dan kini menjadi salah satu penggerak utama ekonomi lokal. Dalam profil UNESCO, sekitar 60 persen penduduk aktif disebut bekerja di sektor tersebut, sementara 49 persen perusahaan terutama bergerak di bidang pangan seperti rempah-rempah, serealia, dan buah kering.
Kekuatan lainnya berasal dari posisi geografis Gaziantep yang berhubungan dengan sejarah jalur sutra. Pemerintah kota memanfaatkan warisan tersebut untuk membangun identitas gastronomi yang memiliki cerita lintas budaya. Festival Pistachio Culture and Art, misalnya, menggabungkan gastronomi dengan musik, sastra, dan seni tradisional. Ada pula Shira Festival yang menjadi ruang perayaan kuliner selama tiga hari. Dari sudut pandang bisnis, festival tersebut berfungsi sebagai traffic generator—menarik orang datang, meningkatkan konsumsi, memperkuat brand kota, dan membuka ruang promosi bagi produk lokal.
Laporan UNESCO Gaziantep juga secara eksplisit menyebut bahwa pengakuan internasional terhadap gastronominya membantu menciptakan lapangan kerja dan menghidupkan kembali industri seperti pariwisata. Pemerintah kota, kamar dagang, kamar industri, universitas, dan organisasi masyarakat bahkan bekerja sama untuk mendorong branding, indikasi geografis, sertifikasi, serta pengembangan gastronomi sebagai alat perdagangan dan pariwisata. Jadi, makanan di Gaziantep bukan sekadar produk konsumsi; ia diposisikan sebagai aset ekonomi, alat branding, dan instrumen pengembangan wilayah.
7. Norwegia punya Bergen, seafood jadi bisnis berkelanjutan

ilustrasi gastronomi di Norwegia (pexels.com/Nguyen Ngoc Tien) Bergen memperlihatkan bahwa bisnis gastronomi tidak harus identik dengan restoran mahal. Kota pelabuhan Norwegia ini menjadi Creative City of Gastronomy pada 2015, dengan identitas kuliner yang sangat erat dengan sejarah perdagangan seafood. UNESCO mencatat ekosistem gastronominya didukung oleh lebih dari 3.000 petani dan 200 pengusaha pangan artisanal, sementara sekitar 6.500 orang bekerja dalam industri akuakultur dan perikanan.
Dari perspektif bisnis, Bergen menarik karena menjadikan sustainability sebagai bagian dari nilai jual. Gastronomi berkaitan dengan hasil laut, pangan organik, biodiversitas, dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan. Kota ini juga menjadi tuan rumah North Atlantic Seafood Forum. Sebuah forum besar yang mempertemukan berbagai pihak untuk membicarakan masa depan pemanfaatan sumber daya laut. Bergen bahkan memiliki Centre of Expertise for Sustainable Seafood. Dengan demikian, isu lingkungan tidak ditempatkan sebagai penghambat bisnis, tetapi justru sebagai bagian dari inovasi industri.
Model Bergen memberi pelajaran bahwa wisata gastronomi dapat berkembang apabila produk lokal memiliki cerita, kualitas, dan nilai keberlanjutan. Wisatawan yang datang bukan hanya mencari seafood, tetapi juga pengalaman mengenai kehidupan pesisir, budaya makanan, dan hubungan masyarakat dengan laut. Ketika cerita tersebut dikombinasikan dengan restoran, petani, nelayan, produsen artisanal, pendidikan, konferensi, dan pariwisata, seafood berubah dari komoditas menjadi pengalaman bernilai tinggi. Inilah cara gastronomi menciptakan ekonomi tanpa harus melepaskan hubungan dengan sumber daya alam yang menjadi fondasinya.
Tujuh negara ubah gastronomi jadi mesin ekonomi menjadi bukti kalau kuliner bisa jauh lebih menguntungkan ketika tidak diperlakukan hanya sebagai produk restoran. Chengdu membangun industri katering dalam skala besar; Jeonju menjadikan tradisi sebagai ekonomi kreatif; Tsuruoka menghubungkan pertanian dan gastronomi; Parma membangun industri agri-pangan dari hulu ke hilir; Arequipa menghidupkan ekonomi melalui festival dan picantería; Gaziantep mengubah sejarah kuliner menjadi branding perdagangan dan pariwisata; sedangkan Bergen menjadikan seafood berkelanjutan sebagai identitas ekonomi. Polanya berbeda, tetapi prinsipnya sama. Semakin panjang dan kuat rantai nilai sebuah gastronomi, semakin besar pula peluang ekonominya.
Di sinilah status UNESCO menjadi menarik bagi bisnis pariwisata. Predikat Creative City of Gastronomy memang bukan sertifikat bahwa sebuah kota adalah yang paling enak di dunia. UNESCO sendiri menekankan bahwa jaringan tersebut bertujuan mendorong kreativitas, pertukaran pengetahuan, industri budaya, dan pembangunan berkelanjutan. Bagi destinasi lain, pelajarannya jelas, yakni jangan hanya bertanya, “Apa makanan khas kita?” Tetapi juga, “Berapa banyak pekerjaan, usaha, wisatawan, investasi, dan nilai tambah yang bisa lahir dari makanan tersebut?” Sebab pada akhirnya, kuliner yang paling sukses bukan cuma yang membuat orang ingin makan lagi, melainkan yang membuat ekonomi lokal ikut tumbuh setelah piringnya kosong.

















![[QUIZ] Dari Menu Makan Siang Favoritmu, Kami Tebak Mood Kamu Hari Ini](https://image.idntimes.com/post/20240618/pexels-fauxels-3184177-0b1d33849a2e6255540bb83e7bcf5d5a.jpg)

![[QUIZ] Pilih Jenis Ubi Favoritmu, Kamu Cocoknya Masak Ini!](https://image.idntimes.com/post/20250524/trang-trieu-eb2x4dnik4c-unsplash-5325d04a68d88ac3db35f4d98aa13a53-6f333c65319030d5bf8757024a7d4abb.jpg)